UNIZAR Tuan Rumah Workshop Penulisan Karya Ilmiah Bereputasi, Dorong Dosen NTB Tembus Jurnal Scopus
Kilas Nusa, Mataram – Aula Abdurrahim Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) dipenuhi ratusan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Pulau Lombok pada Kamis, 5 Maret 2026/15 Ramadhan 1447 H. Sejak pukul 09.00 WITA, para akademisi mengikuti kegiatan bertajuk Penulisan Karya Ilmiah Bereputasi Bagi Dosen Perguruan Tinggi di Nusa Tenggara Barat yang diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah VIII.
Penunjukan UNIZAR sebagai tuan rumah menjadi kebanggaan tersendiri. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Prof. I Nengah Subadra, S.S., M.Par., Ph.D, yang dikenal aktif sebagai akademisi dan reviewer jurnal internasional. Hadir pula Ketua Senat Akademik UNIZAR, Rektor, para Wakil Rektor, serta jajaran pimpinan kampus. Dari LLDIKTI Wilayah VIII, turut hadir Kepala LLDIKTI beserta pejabat lainnya.
Dalam sambutannya, Rektor UNIZAR, Dr. Ir. Muh. Ansyar, MP menegaskan pentingnya publikasi ilmiah di era digital saat ini.
“Pada hari ini kita bersama-sama menghadiri momen yang sangat penting bagi kita sebagai dosen. Di era kemajuan teknologi, bukan hanya individu dan gedung kampus yang dikenal, tetapi juga dosen dan institusi dikenal melalui tulisan-tulisan serta karya ilmiah bereputasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa menulis bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban akademik yang melekat pada profesi dosen. Melalui publikasi berkualitas, perguruan tinggi akan semakin dikenal dalam komunitas ilmiah.
Rektor juga menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI Wilayah VIII atas kepercayaan yang diberikan kepada UNIZAR sebagai tuan rumah kegiatan tingkat regional tersebut. Di bulan suci Ramadhan, ia berharap kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguat semangat akademik.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VIII, Dr. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan sumber daya dosen, khususnya dalam pengajuan karya ilmiah bereputasi untuk kenaikan jabatan fungsional.
“Sering muncul pertanyaan, mengapa belum bisa mengajukan karena angka kredit kurang. Proses pengajuan karya ilmiah memiliki mekanisme dan aturan yang jelas. Semua harus sesuai ketentuan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa publikasi tidak boleh hanya berorientasi pada kenaikan jabatan atau angka kredit semata. Yang lebih penting adalah dampak nyata penelitian bagi masyarakat.
“Jangan hanya berpikir tentang publikasi. Berpikirlah tentang dampaknya. Inilah yang diharapkan dalam konsep penelitian yang berdampak,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penolakan jurnal adalah bagian dari proses akademik. Jika judul tidak kuat atau substansi kurang unik, peluang ditolak tentu besar. Namun, penolakan bukan akhir, melainkan ruang untuk perbaikan.
“Jangan pernah ragu untuk memulai. Semua berawal dari langkah pertama,” pesannya memotivasi peserta.
Dalam sesi materi utama, Prof. I Nengah Subadra mengupas tuntas bagaimana editor dan reviewer menilai sebuah naskah jurnal terindeks Scopus. Ia menegaskan bahwa kualitas riset saja tidak cukup; penulis harus memahami perspektif editor dan reviewer.
Menurutnya, editor bertugas menjaga integritas dan kualitas publikasi, memastikan orisinalitas, memilih reviewer yang tepat, serta mengambil keputusan yang adil dan objektif. Secara umum, keputusan editor terbagi menjadi tiga: diterima (publish), ditolak (reject), atau dialihkan ke jurnal lain dengan tier yang sama.
Ia juga memaparkan pentingnya menghindari desk rejection dengan memastikan judul jelas dan spesifik, abstrak ringkas namun komprehensif, serta literature review yang tidak sekadar merangkum, melainkan mampu menunjukkan celah riset (research gap).
“Penulis harus mampu menunjukkan kontribusi teoretis dan praktis dari penelitiannya. Artikel yang baik adalah artikel yang memberi makna bagi pengembangan ilmu,” ungkapnya.
Kegiatan ini dibagi dalam tiga sesi utama: teknik penulisan artikel ilmiah sesuai sistematika yang benar, strategi menembus jurnal bereputasi termasuk Scopus, serta pembahasan regulasi terbaru terkait publikasi dan jabatan fungsional dosen.
Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, terutama ketika membahas strategi merespons komentar reviewer dan memilih jurnal yang tepat serta aman dari praktik jurnal predator.
Sebagai kampus Islam modern di jantung Kota Mataram, UNIZAR terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong peningkatan kualitas dosen dan publikasi ilmiah. Reputasi akademik yang terus meningkat menjadi bukti transformasi kampus menuju mutu unggul.
Melalui kegiatan ini, diharapkan akan terjadi peningkatan jumlah dan kualitas publikasi dosen di Nusa Tenggara Barat, sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi daerah dalam percaturan ilmiah global.
Workshop ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah nyata membangun budaya akademik yang produktif, berintegritas, dan berdampak bagi masyarakat.
Selamat menulis, dan semoga semakin banyak karya ilmiah dosen NTB yang menembus panggung internasional.
