Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Collaborative, Informative, Innovative

Primary Menu
  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion

Daun Kelor dan Pelajaran Marketing: Mengapa Cerita Lebih Bernilai daripada Produk?

Adi Prayuda 11 July 2026
Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi)

Bagi masyarakat Lombok, daun kelor adalah tanaman yang begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Tanaman ini tumbuh di banyak pekarangan rumah dan kerap diolah menjadi sayur bening yang sederhana. Hidangan itu hadir hampir tanpa seremoni, menjadi bagian dari keseharian yang begitu akrab.

Pengalaman saya justru berubah ketika 14 tahun tinggal di Surabaya. Saya hampir tidak pernah menemukan sayur daun kelor di warung makan yang saya datangi. Kalaupun ada, keberadaannya tidak semudah di Lombok. Perbedaan sederhana ini membuat saya bertanya-tanya: mengapa satu tanaman bisa begitu dekat di satu tempat, tetapi terasa asing di tempat lain?

Jawabannya ternyata tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan tanaman, melainkan juga dengan makna yang dilekatkan masyarakat terhadapnya.

Di sejumlah daerah, terutama di Pulau Jawa, Moringa oleifera sering dikaitkan dengan berbagai cerita yang bernuansa mistis. Ada yang meyakini pohon kelor mampu menangkal gangguan gaib atau bahkan digunakan dalam ritual tertentu. Tidak sedikit keluarga yang enggan menanamnya di halaman rumah karena dipengaruhi keyakinan tersebut.

Sebaliknya, masyarakat Lombok mengenal daun kelor lebih sebagai bahan pangan. Tanaman ini dipetik untuk dimasak, bukan untuk dihubungkan dengan kisah-kisah supranatural. Karena itu, keberadaannya menjadi sangat biasa dan diterima tanpa beban makna yang rumit.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan pada bunga kamboja. Di Bali, bunga yang dikenal sebagai bunga jepun memiliki nilai spiritual yang kuat dan menjadi bagian penting dalam berbagai persembahyangan. Namun, di banyak daerah lain di Indonesia, bunga yang sama justru lebih identik dengan area pemakaman. Objeknya tidak berubah, tetapi persepsi masyarakat terhadapnya sangat berbeda.

Dari sini saya menyadari satu hal penting: manusia tidak selalu memandang sesuatu berdasarkan bentuk fisiknya. Kita melihat dunia melalui cerita, pengalaman, dan makna yang telah terbentuk sejak lama. Memperkuat apa yang Guru saya katakan, “Kita memang hidup di bumi yang sama, tapi dalam dunia yang berbeda-beda.”

Kesadaran itu sangat relevan dalam dunia pemasaran.

Sebagai dosen yang mengajar bidang marketing, saya sering melihat pelaku usaha terlalu fokus menjelaskan keunggulan produk. Mereka sibuk berbicara tentang kualitas, fitur, harga, maupun spesifikasi, tetapi kurang memberi perhatian pada cara konsumen memaknai produk tersebut.

Padahal, setiap pelanggan datang dengan latar belakang yang berbeda. Mereka membawa pengalaman hidup, nilai keluarga, budaya, agama, lingkungan sosial, hingga memori masa kecil yang secara tidak sadar membentuk cara mereka mengambil keputusan.

Dalam kajian perilaku konsumen, konsumen tidak hanya membeli manfaat fungsional sebuah produk. Mereka juga membeli makna yang melekat pada produk itu. Perspektif Consumer Culture Theory bahkan menjelaskan bahwa budaya, simbol, dan pengalaman sosial berperan besar dalam membentuk cara seseorang menilai sebuah objek.

Karena itu, tidak mengherankan apabila sebuah produk yang sukses di satu wilayah belum tentu diterima dengan baik di wilayah lain. Bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena cerita yang dibawanya belum selaras dengan cerita yang sudah hidup di tengah masyarakat.

Bayangkan seseorang datang ke sebuah desa dengan membawa hasil penelitian ilmiah mengenai manfaat daun kelor. Ia menjelaskan kandungan vitamin A, vitamin C, zat besi, antioksidan, hingga berbagai manfaat kesehatan lainnya. Semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

pasang iklan di sini

Namun, apakah masyarakat yang sejak lama memiliki keyakinan berbeda terhadap daun kelor akan langsung mengubah pandangannya?

Belum tentu.

Masalahnya bukan pada penolakan terhadap ilmu pengetahuan, tetapi pada kenyataan bahwa keyakinan manusia tidak mudah berubah hanya karena menerima informasi baru. Cerita yang telah diwariskan dan diyakini bertahun-tahun biasanya jauh lebih kuat daripada data yang baru sekali didengar.

Di sinilah saya melihat pentingnya pendekatan mindful marketing.

Bagi saya, pemasaran bukan sekadar kemampuan membujuk orang agar membeli. Justru langkah pertama dalam marketing adalah memahami manusia yang akan dilayani.

Artinya, seorang pemasar perlu mendengarkan lebih dahulu. Mendengarkan cara masyarakat memandang dunia, memahami nilai yang mereka pegang, dan mengenali cerita yang telah hidup di dalam benak mereka. Setelah itu, barulah produk diperkenalkan sebagai solusi yang terasa relevan dengan kehidupan mereka.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan konsep relationship marketing, yaitu membangun hubungan jangka panjang melalui rasa percaya. Kepercayaan tidak lahir karena promosi yang paling gencar, melainkan karena pelanggan merasa dihargai dan dipahami.

Akhirnya menjadi mudah dipahami, keputusan membeli tidak selalu ditentukan oleh harga termurah atau fitur terbanyak.

Kita dapat melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Orang rela mengantre untuk menikmati secangkir kopi bukan semata-mata karena rasanya, tetapi karena pengalaman yang ditawarkan. Wisatawan datang ke Lombok bukan hanya mengejar panorama alam, melainkan juga karena cerita tentang keramahan masyarakat dan ketenangan yang lebih dahulu mereka dengar. Banyak UMKM pun mampu berkembang karena berhasil menghadirkan kisah, nilai, dan identitas di balik setiap produknya.

Begitu pula dengan semangkuk sayur daun kelor. Bagi sebagian orang, ia hanyalah menu sederhana. Bagi orang lain, ia menyimpan makna yang sama sekali berbeda.

Perbedaan cara memaknai itulah yang mengingatkan saya bahwa hakikat marketing bukan sekadar menjual barang. Marketing adalah seni memahami manusia beserta cerita yang mereka bawa.

Secara mendalam, pelajaran terbesar yang dapat kita petik dari daun kelor bukan hanya kandungan gizinya, melainkan kenyataan bahwa setiap orang membeli sesuatu sesuai dengan makna yang mereka yakini. Sebab pada akhirnya, yang paling sering dibeli manusia bukanlah bendanya, melainkan cerita yang membuat benda itu terasa bernilai dalam kehidupan mereka. (*)

Continue Reading

Previous: Belajar Marketing dari Sepiring Mie Nyemek
Next: Dirty Latte dan Pelajaran Marketing yang Datang Seteguk demi Seteguk

Trending Now

Mengawal MBG di NTB: Riset, Keamanan Pangan, dan Ekonomi Lokal Adi Prayuda, Dosen FEB UNIZAR dan Kepala Biro Humas, Kerja Sama, dan Alumni UNIZAR 1

Mengawal MBG di NTB: Riset, Keamanan Pangan, dan Ekonomi Lokal

14 October 2026
Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi 2

Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi

2 October 2026
PAC IPNU IPPNU Pringgarata Buka LAKMUD 2026, 27 Kader Disiapkan Jadi Pemimpin Muda Pembukaan LAKMUD PAC IPNU IPPNU Pringgarata 2026 di Ponpes Nurul Islam Dasan Baru 3

PAC IPNU IPPNU Pringgarata Buka LAKMUD 2026, 27 Kader Disiapkan Jadi Pemimpin Muda

2 October 2026
Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai 4

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

1 October 2026
Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan 5

Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

23 September 2026
Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan 6

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

19 September 2026

Berita Terkait

Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi

Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi

2 October 2026
Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

1 October 2026
Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

23 September 2026
Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

19 September 2026
Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor Foto personil band Juicy Juicy, diambil dari situs: https://www.kompas.com/hype/read/2022/01/05/205904766/juicy-luicy-jadi-bagian-dalam-youtube-rewind-2021-lewat-lagu-lantas

Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor

12 September 2026
Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo Foto buku Islam Ala Prabowo, diambil dari situs: https://rmol.id/politik/read/2026/09/11/721363/buku-islam-ala-prabowo-bukan-produk-mui

Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo

12 September 2026

Berita Terpopuler

Mengawal MBG di NTB: Riset, Keamanan Pangan, dan Ekonomi Lokal Adi Prayuda, Dosen FEB UNIZAR dan Kepala Biro Humas, Kerja Sama, dan Alumni UNIZAR 1

Mengawal MBG di NTB: Riset, Keamanan Pangan, dan Ekonomi Lokal

14 October 2026
Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan 2

Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan

21 September 2023
Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri! 3

Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri!

21 September 2023
Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju! 4

Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju!

21 September 2023
Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024 5

Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024

21 September 2023
Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR 6

Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR

22 September 2023
Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15 7

Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15

22 September 2023

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Olah Raga
  • Opinion
  • Tourism
  • Education
  • Politics & Law
  • Technology

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 4

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023
Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly! 5

Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly!

5 August 2025
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 6

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 7

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023

Ads

  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion
Copyright © 2023 KilasNusa.com