Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Collaborative, Informative, Innovative

Primary Menu
  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion

Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi

Adi 2 October 2026

Oleh: Cut Nelly

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang

Aceh dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi pertanian besar. Produksi berasnya bahkan disebut mengalami surplus. Namun, di tengah kabar surplus tersebut, muncul satu angka yang menarik untuk direnungkan: Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Aceh 2026 berada pada angka 70,09 dan menempati peringkat 29 secara nasional.

Lebih menarik lagi, ketika angka tersebut dibedah, terlihat adanya jarak antara tiga komponen utama ketahanan pangan. Ketersediaan pangan berada pada angka 62,87, keterjangkauan 80,97, sedangkan pemanfaatan pangan 66,61.

Bagi saya, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin yang memperlihatkan bahwa persoalan pangan Aceh tidak berhenti pada soal berapa banyak beras yang diproduksi.

Aceh boleh surplus beras, tetapi pekerjaan rumah ketahanan pangan masih panjang.

Jangan Ukur Ketahanan Pangan Hanya dari Beras

Pada September 2026, pemerintah Aceh menyebut daerah ini mengalami surplus beras sekitar 300 ribu ton per tahun. Produksi gabah disebut rata-rata mencapai 1,6 juta ton per tahun atau setara sekitar 900 ribu ton beras. Sementara kebutuhan konsumsi sekitar 600 ribu ton.

Data tersebut tentu menggembirakan. Namun, pertanyaan berikutnya patut diajukan: apakah surplus beras otomatis berarti seluruh masyarakat Aceh sudah tahan pangan?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Ketahanan pangan bukan hanya soal beras tersedia di gudang atau sawah menghasilkan gabah. Ketahanan pangan menyangkut apakah masyarakat dapat memperoleh pangan dalam jumlah cukup, dengan harga terjangkau, aman dikonsumsi, beragam dan mampu memenuhi kebutuhan gizi.

Di sinilah Aceh perlu mulai mengubah cara pandang.

Selama ini, pembicaraan tentang ketahanan pangan sering terlalu berpusat pada pola produksi padi, produksi beras, lalu surplus beras.

Padahal, meja makan masyarakat tidak hanya membutuhkan nasi.

Ada ikan, telur, daging, sayuran, buah-buahan, jagung, ubi, kacang-kacangan dan berbagai pangan lokal yang juga menentukan kualitas konsumsi masyarakat.

Aceh memiliki potensi tersebut. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi benar-benar masuk ke dalam strategi ketahanan pangan daerah.

Pangan Harus Terjangkau, tetapi Juga Bergizi

Komponen keterjangkauan pangan Aceh mencapai 80,97. Angka ini menunjukkan salah satu kekuatan penting dalam sistem pangan Aceh.

Namun, keterjangkauan tidak boleh dianggap sebagai kondisi yang akan bertahan selamanya.

Harga pangan sangat mudah dipengaruhi inflasi, biaya transportasi, gangguan distribusi, bencana, gagal panen hingga perubahan pasokan.

BPS mencatat inflasi Aceh pada Agustus 2026 mencapai 4,86 persen secara tahunan. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu kelompok yang memberikan kontribusi penting terhadap inflasi. Beras juga termasuk komoditas yang berpengaruh.

Artinya, menjaga pangan tetap terjangkau membutuhkan kebijakan yang terus bekerja. Produksi harus tersedia, distribusi harus lancar, pasar harus berfungsi dan daya beli masyarakat harus dijaga.

Namun ada persoalan lain yang tidak kalah penting.

Pangan yang murah belum tentu pangan yang bergizi.

Nilai pemanfaatan pangan Aceh yang berada pada angka 66,61 menunjukkan bahwa dimensi ini masih perlu mendapat perhatian.

Masyarakat bukan hanya membutuhkan makanan untuk menghilangkan lapar. Masyarakat membutuhkan pangan yang mampu mendukung pertumbuhan anak, kesehatan keluarga dan produktivitas masyarakat.

Karena itu, ketahanan pangan harus terhubung dengan isu gizi, stunting, kesehatan, sanitasi, air bersih dan keamanan pangan.

Petani Jangan Hanya Dipandang sebagai Produsen

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita membicarakan ketahanan pangan: petani.

pasang iklan di sini

Kita meminta petani menghasilkan pangan dalam jumlah besar. Namun, pada saat yang sama, petani harus menghadapi biaya produksi, harga pupuk, benih, tenaga kerja, irigasi, risiko gagal panen dan ketidakpastian harga jual.

BPS mencatat NTP Aceh pada Agustus 2026 sebesar 128,06, meningkat 0,59 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, peningkatan tersebut terjadi pada hampir seluruh subsektor kecuali tanaman pangan.

Ini menjadi catatan penting.

Sebab, jika generasi muda semakin enggan menjadi petani, siapa yang akan memproduksi pangan Aceh 10 atau 20 tahun mendatang?

Maka ketahanan pangan tidak boleh hanya berbicara tentang produksi. Ia juga harus berbicara tentang kesejahteraan produsen.

Petani membutuhkan kepastian pasar, harga yang layak, akses teknologi, benih berkualitas, irigasi, mekanisasi, pembiayaan dan penguatan pascapanen.

Sederhananya, petani sejahtera adalah fondasi pangan yang berkelanjutan.

Bencana Mengingatkan Kita bahwa Pangan Tidak Berdiri Sendiri

Tantangan lain datang dari perubahan lingkungan dan bencana.

Pemerintah Aceh menyebut sekitar 57 ribu hektare lahan terdampak bencana, dengan sekitar 40 ribu hektare mengalami kerusakan ringan hingga sedang dan dalam proses pemulihan. Produksi padi Aceh juga disebut sempat turun 2,7 persen akibat bencana hidrometeorologi pada 2025.

Fakta ini menunjukkan bahwa membangun ketahanan pangan berarti juga membangun ketahanan lingkungan.

Sawah membutuhkan air. Irigasi membutuhkan infrastruktur yang terjaga. Tanah membutuhkan pengelolaan yang baik. Petani membutuhkan kepastian iklim yang semakin sulit diprediksi.

Karena itu, kebijakan pangan tidak boleh berjalan sendiri tanpa memperhatikan lingkungan.

Satu Aceh, Banyak Pangan Lokal

Aceh memiliki bentang wilayah yang sangat beragam. Ada dataran tinggi, dataran rendah, kawasan pesisir hingga wilayah kepulauan.

Masing-masing memiliki potensi pangan yang berbeda.

Karena itu, Aceh tidak harus membangun satu pola pangan yang sama di seluruh wilayah.

Dataran tinggi dapat memperkuat hortikultura, kopi dan pangan lokal. Kawasan persawahan memperkuat produksi padi. Wilayah pesisir dapat mengembangkan perikanan dan pangan berbasis hasil laut. Sementara kawasan perkotaan dapat mengembangkan pertanian perkotaan.

Pendekatan semacam ini dapat diringkas dalam satu gagasan: satu Aceh, banyak sistem pangan lokal.

Dengan diversifikasi tersebut, ketahanan pangan tidak terlalu bergantung pada satu komoditas.

Dari Lumbung Pangan Menjadi Rumah Pangan

Pada akhirnya, IKP Aceh sebesar 70,09 harus dibaca sebagai capaian sekaligus pengingat.

Keterjangkauan pangan yang mencapai 80,97 adalah kekuatan yang perlu dipertahankan. Sementara ketersediaan 62,87 dan pemanfaatan 66,61 menunjukkan masih adanya ruang untuk memperkuat sistem pangan.

Aceh memang perlu mempertahankan surplus beras. Tetapi tujuan akhirnya tidak boleh berhenti di sana.

Ukuran keberhasilan ketahanan pangan seharusnya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: apakah pangan tersedia ketika dibutuhkan? Apakah harganya mampu dijangkau keluarga? Apakah pangan yang dikonsumsi cukup beragam dan bergizi? Dan apakah petani yang memproduksinya hidup sejahtera?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu dapat dijawab, maka Aceh tidak sekadar menjadi lumbung beras.

Aceh dapat bergerak lebih jauh menjadi rumah pangan—sebuah daerah yang mampu menyediakan pangan yang cukup, terjangkau, aman, beragam dan bergizi bagi masyarakatnya, sekaligus menjaga kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungannya.

Sebab, pada akhirnya, ketahanan pangan bukan tentang seberapa banyak pangan yang kita produksi, tetapi seberapa mampu pangan itu menghadirkan kehidupan yang lebih sehat, sejahtera dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Tags: agroekologi bencana hidrometeorologi Diversifikasi Pangan IKP Aceh 2026 Indeks Ketahanan Pangan Kesejahteraan Petani Ketahanan Pangan Ketahanan Pangan Aceh ketahanan pangan berkelanjutan keterjangkauan pangan pangan Aceh pangan bergizi pangan lokal Aceh pemanfaatan pangan Pembangunan Pertanian pertanian Aceh Pertanian Berkelanjutan petani Aceh produksi beras surplus beras Aceh

Continue Reading

Previous: Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

Trending Now

Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi 1

Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi

2 October 2026
Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai 2

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

1 October 2026
Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan 3

Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

23 September 2026
Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan 4

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

19 September 2026
PT Lombok Jingga Siapkan Green Tourism di Segui Sekaroh, Libatkan Masyarakat Lokal PT Lombok Jingga menghadiri Temu Usaha Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI di Bali 5

PT Lombok Jingga Siapkan Green Tourism di Segui Sekaroh, Libatkan Masyarakat Lokal

17 September 2026
Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor Foto personil band Juicy Juicy, diambil dari situs: https://www.kompas.com/hype/read/2022/01/05/205904766/juicy-luicy-jadi-bagian-dalam-youtube-rewind-2021-lewat-lagu-lantas 6

Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor

12 September 2026

Berita Terkait

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

1 October 2026
Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

23 September 2026
Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

19 September 2026
Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor Foto personil band Juicy Juicy, diambil dari situs: https://www.kompas.com/hype/read/2022/01/05/205904766/juicy-luicy-jadi-bagian-dalam-youtube-rewind-2021-lewat-lagu-lantas

Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor

12 September 2026
Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo Foto buku Islam Ala Prabowo, diambil dari situs: https://rmol.id/politik/read/2026/09/11/721363/buku-islam-ala-prabowo-bukan-produk-mui

Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo

12 September 2026
Gus Dur Lahir, Munir Pergi, dan yang Tersisa untuk Indonesia Ilustrasi Tokoh Gus Dur dan Munir, dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Gus Dur Lahir, Munir Pergi, dan yang Tersisa untuk Indonesia

7 September 2026

Berita Terpopuler

Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi 1

Ketahanan Pangan Aceh: Dari Lumbung Pangan Menuju Pangan yang Terjangkau dan Bergizi

2 October 2026
Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan 2

Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan

21 September 2023
Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri! 3

Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri!

21 September 2023
Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju! 4

Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju!

21 September 2023
Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024 5

Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024

21 September 2023
Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR 6

Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR

22 September 2023
Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15 7

Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15

22 September 2023

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Olah Raga
  • Opinion
  • Tourism
  • Education
  • Politics & Law
  • Technology

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly! 4

Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly!

5 August 2025
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 5

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 6

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 7

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023

Ads

  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion
Copyright © 2023 KilasNusa.com