Prof. Fathul Wahid Soroti Peluang dan Tantangan Tata Kelola Perguruan Tinggi Islam di Era Global
Kilas Nusa, Mataram – Perguruan tinggi Islam di Indonesia dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tantangan besar di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Fathul Wahid dalam Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS) di Aula Abdurrahim UNIZAR (Universitas Islam Al-Azhar), Senin (16/2/2026).
Dalam pemaparannya, Prof. Fathul yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Indonesia menegaskan bahwa tata kelola perguruan tinggi Islam harus dibangun berdasarkan konteks Indonesia, bukan sekadar meniru praktik dari negara lain. Ia menyebutkan bahwa terdapat tiga peta jalan utama pengembangan sains, yakni berbasis dukungan negara, kebutuhan pasar, dan aktivitas ilmiah, yang dapat dipilih secara fleksibel sesuai kebutuhan dan karakter institusi.
Prof. Fathul menjelaskan bahwa tata kelola perguruan tinggi mencakup sistem, struktur, proses, dan mekanisme yang mengatur seluruh aspek akademik dan administratif. Tata kelola yang baik menjadi kunci untuk memastikan pengambilan keputusan yang transparan, akuntabel, dan efektif dalam mencapai tujuan pendidikan tinggi secara menyeluruh.
“Tata kelola bukan sekadar struktur organisasi, tetapi bagaimana perguruan tinggi mampu mengelola sumber daya, menjaga kualitas pendidikan dan penelitian, serta membangun reputasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi harus mampu menghasilkan dua indikator utama keberhasilan, yakni lulusan berkualitas dan artefak akademik yang bermutu, seperti publikasi ilmiah, inovasi, dan kontribusi kepada masyarakat.
Dalam konteks kekinian, perguruan tinggi Islam menghadapi sejumlah tantangan strategis, mulai dari keberlangsungan keuangan, persaingan memperoleh mahasiswa baru, hingga tuntutan inovasi berbasis teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan pemanfaatan data besar.
Selain itu, internasionalisasi menjadi aspek penting yang tidak hanya bersifat kosmetik, tetapi harus substantif. Menurut Prof. Fathul, internasionalisasi mencakup peningkatan kualitas riset, publikasi internasional, mobilitas dosen dan mahasiswa, serta penguatan jejaring global.
“Internasionalisasi bukan sekadar label atau peringkat, tetapi tentang kualitas nyata, rekognisi akademik, dan kontribusi global,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara idealisme akademik dan tuntutan pasar. Perguruan tinggi tidak boleh semata-mata menjadi lembaga korporat, tetapi tetap mempertahankan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter intelektual.
Dalam workshop tersebut, Prof. Fathul menekankan bahwa kepemimpinan memiliki peran sentral dalam menentukan arah perguruan tinggi. Pemimpin perguruan tinggi harus mampu merumuskan visi yang jelas, membangun budaya akademik yang kuat, serta menghadapi realitas perubahan secara jujur dan strategis.
Ia mengutip konsep kepemimpinan tingkat lima (Level 5 Leadership), yakni pemimpin yang mengutamakan kepentingan institusi di atas kepentingan pribadi, memiliki kerendahan hati, namun tetap memiliki tekad kuat untuk mencapai kemajuan.
Selain kepemimpinan, budaya organisasi juga menjadi faktor penting. Perguruan tinggi harus membangun budaya akademik yang mendorong kolaborasi, integritas, inovasi, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Prof. Fathul menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam harus mampu menjaga idealisme sambil tetap memperoleh legitimasi dan relevansi di tengah masyarakat.
“Perguruan tinggi harus bertumbuh secara substantif, bukan superfisial. Pertumbuhan harus disertai dengan penyuntikan nilai-nilai keislaman dan komitmen terhadap pengembangan ilmu,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan memahami kekuatan sendiri dan realitas perubahan dapat menyebabkan kemunduran institusi. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu melakukan refleksi, perencanaan strategis, serta membangun identitas yang kuat untuk menghadapi masa depan.
Workshop yang diikuti oleh pimpinan dan pengelola perguruan tinggi Islam swasta dari berbagai daerah ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas tata kelola institusi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan perguruan tinggi Islam mampu bertransformasi menjadi institusi yang unggul, adaptif terhadap perubahan global, serta tetap berpegang pada nilai-nilai keilmuan dan keislaman.
Dengan tata kelola yang baik, kepemimpinan yang visioner, dan budaya akademik yang kuat, perguruan tinggi Islam diyakini dapat memainkan peran strategis dalam mencetak generasi unggul dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan peradaban
