Kuliah Kedokteran Tak Halangi Alfian, Mahasiswa UNIZAR Raih Juara 3 Hafalan Al-Qur’an 20 Juz

Kilas Nusa, Mataram – Kesibukan kuliah kedokteran bukan alasan untuk berhenti menjaga hafalan Al-Qur’an. Prinsip itu dibuktikan Muh. Ridho Alfian Akbar, mahasiswa semester V (lima) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR), yang meraih Juara 3 cabang Hifdzil Qur’an 20 Juz Putra pada Musabaqah Hafalan Al-Qur’an dan Hadis Tingkat Nasional untuk Indonesia Bagian Timur 2026.
Prestasi tersebut diraih setelah Alfian, sapaan akrabnya, melewati rangkaian seleksi hingga babak final yang berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di Hotel Lombok Garden, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelumnya, babak penyisihan dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada 15 Oktober 2026.
Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan Kerajaan Arab Saudi (KSA) melalui Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Abu Hurairah Al-Islamy, Lombok, NTB.
Bagi Alfian, capaian ini bukan sekadar prestasi dalam perlombaan. Keberhasilannya menjadi bukti bahwa pendidikan akademik dan pengembangan spiritual dapat berjalan beriringan, selama dijalani dengan disiplin, pengelolaan waktu, dan komitmen yang kuat.
Berawal dari Informasi di Instagram
Keikutsertaan Alfian dalam kompetisi tingkat nasional tersebut bermula ketika ia melihat informasi lomba melalui akun Instagram Pondok Pesantren Abu Hurairah Al-Islamy. Berbekal niat dan tekad, ia memutuskan mendaftarkan diri dengan dukungan serta doa orang tua, keluarga, sahabat, dan para ustaz.
Tahapan seleksi dimulai dengan pengumpulan video bacaan Al-Qur’an tanpa melihat mushaf. Peserta yang memenuhi persyaratan kemudian mengikuti babak penyisihan melalui Zoom.
Namun, perjalanan Alfian tidak sepenuhnya mudah. Informasi jadwal penyisihan baru diterimanya pada malam sebelum pelaksanaan, sedangkan keesokan harinya ia harus mengikuti perkuliahan sebagai mahasiswa kedokteran.
Ia sempat berupaya meminta dispensasi kepada bagian kemahasiswaan fakultas. Kendala administrasi muncul karena belum tersedia surat tugas dari panitia. Meski demikian, Alfian tetap berusaha mencari solusi agar bisa mengikuti seleksi tanpa mengabaikan kewajiban akademiknya.
Kesempatan akhirnya diberikan panitia setelah perkuliahan selesai. Alfian mengikuti seleksi melalui Zoom dari ruang sekretariat universitas dan dinyatakan lolos ke tahap berikutnya yang berlangsung secara langsung di Mataram.
Sempat Sakit, Alfian Tetap Berjuang Menuju Podium
Tantangan kembali datang ketika Alfian mengikuti babak semifinal. Saat itu, kondisi kesehatannya sedang menurun. Namun, ia memilih tetap berjuang dengan mengandalkan persiapan, doa, dan dukungan orang-orang terdekat.
Dari 20 peserta yang mengikuti semifinal, Alfian berhasil menembus babak final bersama empat peserta lainnya. Ia kemudian menempati peringkat ketiga pada cabang Hifdzil Qur’an 20 Juz Putra.
Kelancaran proses tersebut juga didukung oleh pihak kampus. Pada tahap lanjutan, bagian kemahasiswaan universitas membantu melalui penerbitan surat tugas dan pemberian dispensasi. Panitia turut menyediakan surat delegasi bagi peserta yang lolos ke semifinal.
Dukungan tersebut membantu Alfian menjalani kompetisi di tengah tuntutan perkuliahan. Baginya, prestasi ini sekaligus menjadi kesempatan membawa nama UNIZAR dalam ajang hafalan Al-Qur’an tingkat nasional untuk wilayah Indonesia bagian timur.
Murajaah Dua Lembar Sehari Jadi Kunci Menjaga Hafalan
Di balik keberhasilannya, Alfian menjalankan kebiasaan sederhana, yakni murajaah atau mengulang hafalan Al-Qur’an setiap hari. Ia menargetkan minimal dua lembar untuk diulang agar hafalannya tetap terjaga.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian penting dari upayanya menjaga hafalan di tengah kesibukan akademik. Alih-alih mengandalkan persiapan dalam waktu singkat menjelang perlombaan, ia memilih membangun konsistensi melalui rutinitas harian.
“Karena usaha yang dimulai dari dua lembar dan diistikamahkan setiap hari menciptakan hafalan yang kuat, bahkan tahan lama,” ungkapnya.
Menurut Alfian, tantangan menjaga hafalan tidak hanya berasal dari pikiran, kondisi mental, dan kesehatan. Tugas kuliah serta tanggung jawab akademik juga menuntut mahasiswa untuk mampu mengatur waktu dan menentukan skala prioritas.
Ia berusaha menyeimbangkan kedua tanggung jawab tersebut. Pendidikan kedokteran, menurutnya, menuntut mahasiswa terus belajar dan berkembang sepanjang hayat. Sementara itu, hafalan Al-Qur’an membutuhkan komitmen dan kedisiplinan agar tetap terpelihara.
Peran Orang Tua dan Guru dalam Perjalanan Alfian
Perjalanan Alfian dalam menghafal Al-Qur’an tidak terlepas dari pendidikan yang ditempuhnya di Pondok Pesantren Al-Aziziyah, Kapek, Gunungsari. Ia mengenang peran para guru, termasuk almarhum TGH. Musthofa Umar Abdul Aziz, pendiri pondok pesantren tersebut, dalam membentuk perjalanan pendidikannya.
Kompetisi ini juga menjadi kesempatan baginya untuk kembali bertemu dengan para guru dan sahabat yang kini menjalani perjalanan masing-masing. Pertemuan tersebut memberikan pengalaman berharga di luar persaingan di atas mimbar musabaqah.
“Di atas mimbar musabaqah kami adalah lawan, tetapi di luar itu kami tetaplah sahabat,” tuturnya.
Alfian menegaskan bahwa doa orang tua, bimbingan guru, dukungan dosen, dan kehadiran sahabat menjadi bagian penting dari pencapaiannya. Dukungan lingkungan tersebut memberinya kekuatan untuk terus berusaha di tengah berbagai tantangan.
Bidik MTQMN 2027 dan Ajak Mahasiswa Istiqamah
Setelah meraih Juara 3, Alfian menargetkan untuk kembali berkompetisi dengan mempersiapkan diri menghadapi Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) 2027.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa dan generasi muda agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Menurutnya, setiap orang memiliki potensi dan proses perkembangan yang berbeda sehingga tidak perlu membandingkan pencapaian diri dengan perjalanan orang lain.
“Yakinlah dengan potensi diri sendiri dan asah agar terlatih. Jangan pernah membandingkan prosesmu dengan proses orang lain karena setiap kita berpotensi mempunyai peluang dan keberhasilan masing-masing,” pesannya.
Selain itu, Alfian mengajak generasi muda untuk menyediakan waktu bersama Al-Qur’an di tengah kesibukan sehari-hari. Ia meyakini bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi langkah awal untuk membangun kedekatan dengan kitab suci.
Prestasi mahasiswa kedokteran UNIZAR tersebut menjadi pengingat bahwa kesibukan akademik tidak harus menghalangi pengembangan spiritual. Dengan disiplin, pengelolaan waktu, serta dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan akademik sekaligus menjaga nilai-nilai yang menjadi pegangan hidupnya.






