Krisis Sampah Kota Mataram: Komunitas Panda 4 Monjok Perluasan Ambil Alih Peran, Kolaborasi DLH, Pertanian, dan Akademisi Jadi Model Baru Pengelolaan Lingkungan
Kilas Nusa, Mataram – Di tengah meningkatnya tekanan krisis sampah perkotaan, sebuah gerakan berbasis komunitas di Komplek Panda 4 Monjok Perluasan justru menunjukkan secercah harapan baru. Pada hari libur, Selasa, 17 Februari 2026, para tokoh masyarakat bersama warga tetap bersemangat menjalankan aktivitas pengelolaan sampah melalui program Tempah Dedoro Organik yang difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram. Gerakan ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat mengambil peran strategis dalam mengatasi persoalan sampah dari sumbernya.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program Tempah Dedoro Pemerintah Kota Mataram, yang bertujuan mendorong pengelolaan sampah organik berbasis komunitas sebagai solusi berkelanjutan.
Dengan timbulan sampah Kota Mataram yang mencapai sekitar 200 hingga 300 ton per hari, dan hampir setengahnya merupakan sampah organik rumah tangga, pendekatan konvensional berbasis angkut dan buang dinilai tidak lagi memadai. Pengelolaan sampah dari sumber kini menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.
Melalui Tempah Dedoro, warga diajak mengolah sampah organik secara mandiri menjadi kompos, sehingga mampu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Petugas DLH Kota Mataram dari Bidang Pengelolaan Persampahan dan Kemitraan (P3K), Aris Herdian, ST, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan pengelolaan sampah kota.
“Kami tidak bisa hanya mengandalkan sistem pengangkutan. Kunci pengendalian sampah ada di sumbernya, yaitu rumah tangga. Melalui Tempah Dedoro, masyarakat diberikan solusi nyata untuk mengolah sampah organiknya sendiri. Ini bukan hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga membangun kesadaran dan kemandirian lingkungan,” jelasnya.
Menurut Aris, pendekatan berbasis komunitas terbukti lebih efektif karena mengubah masyarakat dari sekadar objek layanan menjadi pelaku utama dalam pengelolaan lingkungan.
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, HL. Johari, SE., ME, menilai pengelolaan sampah organik memiliki dampak strategis yang lebih luas, khususnya dalam mendukung pertanian perkotaan dan ketahanan pangan keluarga.
“Pengelolaan sampah organik melalui Tempah Dedoro akan memberikan dampak langsung terhadap program kemitraan antara Dinas Pertanian dan DLH. Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pertanian pekarangan, penghijauan, dan ketahanan pangan keluarga. Ini adalah bagian dari sistem terpadu yang menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan keberlanjutan pertanian,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa langkah ini merupakan investasi ekologis jangka panjang yang tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat perkotaan.
Ketua Yayasan Sinar Timur Mataram sekaligus akademisi STIKes Kusuma Bangsa Mataram, HL. Putramadoni, MM, melihat Tempah Dedoro sebagai lebih dari sekadar teknologi pengolahan sampah.
“Sebagai akademisi, saya melihat Tempah Dedoro bukan sekadar teknologi, tetapi instrumen perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat. Ini adalah pendekatan edukatif yang membangun tanggung jawab ekologis secara kolektif,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan program.
“Ketika pemerintah hadir dengan kebijakan, masyarakat bergerak dengan kesadaran, dan akademisi memberikan penguatan edukasi, maka perubahan sistemik dapat terjadi secara nyata,” tambahnya.
Ketua RT Komplek Panda 4 Monjok Perluasan, Dr. Supinganto, menegaskan bahwa krisis sampah merupakan tantangan nyata yang membutuhkan kepemimpinan komunitas.
“Krisis sampah adalah tantangan kota modern. Solusinya tidak bisa hanya dari pemerintah, tetapi harus dimulai dari komunitas. Tempah Dedoro menjadi sarana edukasi sekaligus instrumen kemandirian masyarakat dalam mengelola lingkungannya sendiri,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa gerakan warga merupakan bentuk tanggung jawab kolektif untuk masa depan lingkungan.
“Kami ingin membangun sistem berkelanjutan, di mana masyarakat tidak lagi menjadi bagian dari masalah, tetapi menjadi bagian dari solusi. Ini adalah investasi sosial dan lingkungan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Program Tempah Dedoro memungkinkan sampah organik diolah menjadi kompos melalui proses alami, yang dalam implementasi sebelumnya terbukti mampu mengurangi volume sampah lingkungan hingga sekitar 55 persen.
Lebih dari sekadar solusi teknis, gerakan di Komplek Panda 4 Monjok Perluasan menunjukkan bahwa masa depan pengelolaan sampah kota tidak hanya bergantung pada infrastruktur besar, tetapi pada kekuatan kolaborasi antara pemerintah, sektor pertanian, akademisi, dan masyarakat.
Di tengah krisis sampah yang semakin kompleks, warga Komplek Panda 4 telah mengirimkan pesan yang kuat: perubahan bukan hanya wacana, tetapi sudah dimulai—dari komunitas, untuk masa depan kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.
