Kilas Nusa, Mataram – Pasca pelaksanaan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Dewan Pimpinan Wilayah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Nusa Tenggara Barat (NTB), geliat politik di tubuh PSI NTB semakin menunjukkan perkembangan positif. Sejumlah tokoh masyarakat dan figur politik dari berbagai latar belakang dikabarkan mulai menjalin komunikasi intens untuk bergabung bersama partai berlambang mawar tersebut.
Meningkatnya minat tokoh-tokoh untuk bergabung dinilai menjadi sinyal bahwa PSI NTB mulai mendapat tempat di tengah dinamika politik daerah. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPW PSI NTB, M. Samsul Qomar, yang menyebut pihaknya telah menerima banyak komunikasi dari berbagai kalangan.
Menurutnya, komunikasi tersebut datang dari tokoh politik, tokoh perempuan, tokoh masyarakat keturunan, hingga kalangan anak muda yang ingin ikut berjuang bersama PSI.
“Kami sudah menjalin komunikasi dengan banyak tokoh dari berbagai latar belakang. Ada tokoh muslim, tokoh perempuan, tokoh keturunan, dan lainnya. Beberapa pihak menghubungi saya untuk berbicara soal peluang bergabung bersama PSI,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa MSQ itu menegaskan bahwa PSI merupakan partai yang terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun kelompok tertentu. Ia menyebut semangat keterbukaan menjadi salah satu kekuatan PSI dalam membangun organisasi politik yang inklusif dan modern.
“PSI terbuka untuk siapa saja. Tidak ada batasan. Kami menyambut baik jika ada tokoh, kalangan masyarakat, maupun anak-anak muda yang berminat berjuang bersama kami. Bahkan kami hamparkan karpet merah,” tegas mantan jurnalis tersebut.
Terkait isu bergabungnya salah satu tokoh perempuan dari Partai Amanat Nasional (PAN) ke PSI, MSQ mengaku telah menerima informasi bahwa kader perempuan tersebut telah resmi mengundurkan diri dari kepengurusan maupun keanggotaan PAN. Namun demikian, dirinya belum dapat memastikan kapan tokoh tersebut akan resmi bergabung dengan PSI.
“Saya mendapat informasi bahwa yang bersangkutan sudah mundur dari pengurus dan kader PAN. Tetapi kapan akan bergabung ke PSI, saya belum mengetahui secara pasti,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa PSI ingin menjadi rumah politik yang nyaman bagi seluruh elemen masyarakat yang ingin berkontribusi membangun daerah melalui jalur politik.
“Intinya silakan. Pintu PSI terbuka lebar. Sekali lagi, PSI adalah partai terbuka, rumah yang nyaman untuk berorganisasi politik tanpa batasan agama maupun suku,” lanjutnya.
Meningkatnya minat tokoh untuk bergabung dengan PSI juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya perubahan struktur kepengurusan di tubuh DPW PSI NTB. Menanggapi hal tersebut, MSQ menjelaskan bahwa keputusan terkait restrukturisasi organisasi merupakan kewenangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI berdasarkan usulan dari DPW.
“Kalau soal itu saya tidak bisa menjawab secara pasti karena kewenangannya ada di DPP. Tetapi evaluasi dan penguatan struktur organisasi itu hal yang biasa dilakukan, apalagi jika peminat semakin banyak,” jelasnya.
Ia menambahkan, sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai, struktur organisasi dapat dimodifikasi untuk memperkuat gerakan partai di daerah.
“Bisa saja nanti ada penambahan posisi seperti Ketua Harian, Wakil Ketua, atau bagian lainnya sesuai kebutuhan dan pedoman partai,” pungkasnya.
