Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Collaborative, Informative, Innovative

Primary Menu
  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion

Indonesia Raya Sudah Mengingatkan: Bangunlah Jiwanya, Bukan Cuma Proyeknya

Di tengah pembangunan yang semakin masif, kita perlu kembali mengingat pesan Indonesia Raya: bangsa tidak cukup hanya dibangun badannya, tetapi terlebih dahulu harus dibangun jiwanya.
Adi Prayuda 18 August 2026
Adi Prayuda, Dosen FEB UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi)

Kemarin, 17 Agustus 2026, kita kembali memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia dengan berbagai upacara dan perayaan di seluruh penjuru negeri. Tahun ini, kita diajak merenungkan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, sebuah frasa yang sebenarnya telah lama menjadi bagian dari cita-cita konstitusional bangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Namun, di tengah berbagai capaian pembangunan yang terus kita saksikan, ada satu pertanyaan yang rasanya perlu kita bawa lebih dalam: ketika kita begitu sibuk membangun Indonesia secara fisik, apakah kita juga sedang sungguh-sungguh membangun manusia Indonesia?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika kita kembali menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam upacara kemerdekaan. Lagu yang diciptakan Wage Rudolf Soepratman pada 1928 dan pertama kali diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II tersebut bukan sekadar lagu kebangsaan yang harus dinyanyikan dengan sikap sempurna. Di dalamnya terdapat gagasan besar mengenai bangsa yang ingin merdeka, bersatu, dan sejahtera. Salah satu bagian liriknya bahkan menyimpan pesan pembangunan yang sangat dalam: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”

Menariknya, jiwa disebut lebih dahulu daripada badan. Kita mungkin menganggapnya sebagai susunan kata biasa, tetapi jika direnungkan, pesan tersebut terasa sangat relevan dengan pembangunan Indonesia hari ini. Sebelum membangun gedung, jalan, jembatan, kawasan industri, sekolah, koperasi, dan berbagai infrastruktur lainnya, kita perlu membangun manusia yang akan mengelola, menggunakan, merawat, dan mempertanggungjawabkan semuanya. Sebab, pembangunan fisik tanpa pembangunan mental, karakter, moral, dan integritas akan memiliki fondasi yang rapuh.

Jalan yang dibangun dengan anggaran besar tetap dapat rusak jika proses pembangunannya dikorupsi. Gedung sekolah yang megah tidak otomatis menghasilkan pendidikan berkualitas apabila guru, peserta didik, dan sistem pendidikannya tidak berkembang. Koperasi yang dibentuk dalam jumlah besar juga tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi masyarakat apabila orang-orang di dalamnya tidak memiliki literasi keuangan, kemampuan manajemen, integritas, dan budaya gotong royong. Kita sering terlalu cepat mengukur keberhasilan dari apa yang dapat dilihat, sementara perubahan manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk terlihat.

Dalam perspektif manajemen, kita perlu membedakan antara output dan outcome. Output mudah dihitung dan mudah dikomunikasikan: berapa jalan yang selesai, berapa gedung yang dibangun, berapa koperasi yang didirikan, atau berapa program yang diluncurkan. Outcome jauh lebih sulit karena pertanyaannya bukan lagi apa yang telah dikerjakan, melainkan apa yang benar-benar berubah setelah pekerjaan itu dilakukan. Apakah masyarakat menjadi lebih mandiri? Apakah kualitas pendidikan meningkat? Apakah karakter anak-anak kita semakin kuat? Apakah produktivitas meningkat? Apakah korupsi berkurang? Apakah masyarakat semakin mampu mengambil keputusan secara rasional?

Persoalannya, dunia politik memang memiliki insentif yang kuat terhadap sesuatu yang cepat terlihat. Infrastruktur dapat diresmikan, difoto, diberitakan, dan dirasakan secara langsung. Pendidikan karakter tidak demikian. Anak yang hari ini belajar tentang kejujuran mungkin baru memperlihatkan hasilnya puluhan tahun kemudian ketika ia menjadi dokter, pengusaha, dosen, birokrat, hakim, atau pemimpin. Karena itu, pembangunan manusia sering kalah sexy dibandingkan pembangunan fisik, bukan karena kurang penting, tetapi karena hasilnya tidak selalu dapat dikapitalisasi dalam waktu singkat.

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG juga memberikan pelajaran penting mengenai bagaimana kita melihat pembangunan. Program tersebut memiliki tujuan yang sangat masuk akal karena anak yang sehat dan tercukupi gizinya tentu memiliki kondisi yang lebih baik untuk belajar. Namun, persoalannya bukan sekadar apakah program tersebut baik atau tidak. Kita juga harus bertanya mengenai desain anggarannya, sumber pendanaannya, mekanisme pengawasannya, serta bagaimana dampaknya diukur terhadap pendidikan dan pembangunan manusia.

pasang iklan di sini

Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 40/PUU-XXIV/2026 bahkan telah memberikan arah bahwa anggaran MBG yang bukan merupakan komponen utama pendidikan harus dipisahkan dari anggaran pendidikan untuk tahun-tahun berikutnya, paling lambat pada APBN 2028. Pelajaran terpenting dari persoalan ini bukan mempertentangkan makanan bergizi dengan pendidikan, melainkan bagaimana sebuah negara mengelola prioritas pembangunan secara jernih, transparan, dan berbasis dampak.

Saya melihat relevansi mindful marketing dalam manajemen pembangunan. Mindful marketing pada dasarnya mengajarkan bahwa nilai tidak boleh berhenti pada bagaimana sesuatu dipersepsikan, tetapi harus benar-benar hadir dalam pengalaman dan manfaat yang diterima manusia. Prinsip ini dapat diterapkan dalam pengelolaan pemerintahan: jangan hanya bertanya apa yang bisa dibangun dan dikomunikasikan, tetapi tanyakan pula apa nilai nyata yang tercipta bagi masyarakat.

Pemerintah tidak cukup hanya melakukan marketing of government, yaitu mengomunikasikan berbagai keberhasilan pembangunan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa apa yang dikomunikasikan benar-benar sejalan dengan realitas yang dialami masyarakat. Dari sinilah kepercayaan publik tumbuh, bukan dari pencitraan, melainkan dari konsistensi antara janji, proses, pengalaman, dan hasil.

Karena itu, pembangunan Indonesia seharusnya tidak memilih antara membangun badan dan membangun jiwa. Keduanya harus berjalan bersama. Jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, koperasi, dan berbagai infrastruktur tetap penting, tetapi semuanya membutuhkan manusia yang berintegritas untuk memastikan bahwa manfaatnya tidak berhenti pada seremoni.

Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur pada akhirnya bukan hanya Indonesia yang memiliki banyak bangunan, tetapi Indonesia yang memiliki manusia yang mampu mengelola kekayaan dan kekuasaan dengan kesadaran. Masyarakat yang sehat, terdidik, kritis, produktif, berkarakter, dan tidak mudah dikendalikan oleh sekadar citra adalah modal pembangunan yang jauh lebih panjang umur daripada sebuah proyek fisik.

Maka setelah kemarin kita berdiri menyanyikan Indonesia Raya, mungkin ada baiknya kita tidak hanya mengingat perjuangan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, tetapi juga merenungkan bentuk penjajahan yang mungkin masih ada di dalam diri kita: ketidakjujuran, ketamakan, korupsi, kebodohan, manipulasi, dan ketidakpedulian.

Sebab, kemerdekaan tidak akan pernah selesai hanya dengan membangun badan bangsa. Kita perlu terus membangun jiwanya. Dan mungkin, setelah hampir satu abad Indonesia Raya mengingatkan kita tentang hal itu, pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita sedang membangun Indonesia, tetapi Indonesia seperti apa yang sedang kita bangun, dan manusia seperti apa yang akan hidup di dalamnya? (*)

Tags: HUT RI 81 Indonesia Berdaulat Indonesia Maju Karakter Bangsa Kemerdekaan Indonesia Manajemen MBG mindful marketing Pembangunan Nasional Pendidikan

Continue Reading

Previous: Dosen Makin Sibuk, Pendidikan Makin Tertinggal? Ketika Administrasi Mengalahkan Ruang Berpikir

Trending Now

Indonesia Raya Sudah Mengingatkan: Bangunlah Jiwanya, Bukan Cuma Proyeknya Adi Prayuda, Dosen FEB UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi) 1

Indonesia Raya Sudah Mengingatkan: Bangunlah Jiwanya, Bukan Cuma Proyeknya

18 August 2026
Musorprov KONI NTB Memanas, Dinilai Jangan Jadi Adu Gengsi Fathurahman menyoroti dinamika Musorprov KONI NTB dan pentingnya sportivitas olahraga 2

Musorprov KONI NTB Memanas, Dinilai Jangan Jadi Adu Gengsi

16 August 2026
Dosen Makin Sibuk, Pendidikan Makin Tertinggal? Ketika Administrasi Mengalahkan Ruang Berpikir Adi Prayuda, Kepala Biro Humas, Kerja Sama, dan Alumni UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi) 3

Dosen Makin Sibuk, Pendidikan Makin Tertinggal? Ketika Administrasi Mengalahkan Ruang Berpikir

14 August 2026
Perebutan Ketua KONI NTB Menghangat, 4 Nama Masuk Bursa Perebutan kursi Ketua KONI NTB 2026 dengan empat nama yang disebut masuk bursa 4

Perebutan Ketua KONI NTB Menghangat, 4 Nama Masuk Bursa

12 August 2026
Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati Adi Prayuda Buku Mindful Digital Marketing 5

Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati

12 August 2026
Jelang Pemilihan Ketua KONI NTB, Lalu Wira Sakti Dorong Adu Gagasan dan Fokus Prestasi PON 2028 Lalu Wira Sakti mendorong pemilihan Ketua KONI NTB fokus pada prestasi olahraga dan PON 2028 6

Jelang Pemilihan Ketua KONI NTB, Lalu Wira Sakti Dorong Adu Gagasan dan Fokus Prestasi PON 2028

8 August 2026

Berita Terkait

Dosen Makin Sibuk, Pendidikan Makin Tertinggal? Ketika Administrasi Mengalahkan Ruang Berpikir Adi Prayuda, Kepala Biro Humas, Kerja Sama, dan Alumni UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi)

Dosen Makin Sibuk, Pendidikan Makin Tertinggal? Ketika Administrasi Mengalahkan Ruang Berpikir

14 August 2026
Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati Adi Prayuda Buku Mindful Digital Marketing

Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati

12 August 2026
UNIZAR Biology Students Undergo Field Work at NTB Quarantine Center, Strengthening Biosafety Competency Mahasiswa Biologi UNIZAR bersama pimpinan FMIPA dan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan NTB saat penyerahan peserta PKL.

UNIZAR Biology Students Undergo Field Work at NTB Quarantine Center, Strengthening Biosafety Competency

4 August 2026
KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana

KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana

4 August 2026
Dari Rp9 Ribu ke Rp120 Ribu: Apa yang Terjadi di Parkiran Pelabuhan Lembar? Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, NTB

Dari Rp9 Ribu ke Rp120 Ribu: Apa yang Terjadi di Parkiran Pelabuhan Lembar?

2 August 2026
Angka yang Salah dan Pertaruhan Marwah Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Presiden Indonesia ke-8.

Angka yang Salah dan Pertaruhan Marwah

1 August 2026

Berita Terpopuler

Mafindo NTB Bersama Pesantren Alam Sayang Ibu Lombok Barat Melaksanakan Kegiatan Implementasi AI Ready Asean Bagi Para Pendidik 1

Mafindo NTB Bersama Pesantren Alam Sayang Ibu Lombok Barat Melaksanakan Kegiatan Implementasi AI Ready Asean Bagi Para Pendidik

19 January 2026
Mafindo NTB Bersama PGRI Kota Mataram Melaksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial  – AI Goes to School MAFINDO 2

Mafindo NTB Bersama PGRI Kota Mataram Melaksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial  – AI Goes to School MAFINDO

23 October 2025
Bukan Sekadar Bersih-Bersih, KKN UMMAT dan Warga Sesela Perkuat Ketangguhan Desa dari Risiko Bencana 3

Bukan Sekadar Bersih-Bersih, KKN UMMAT dan Warga Sesela Perkuat Ketangguhan Desa dari Risiko Bencana

18 July 2026
Segini Harga Resmi iPhone 15 di Indonesia 4

Segini Harga Resmi iPhone 15 di Indonesia

14 October 2023
KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana 5

KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana

4 August 2026
Pendaftaran Nomor Seluler Menggunakan Biometrik, Efektif? 6

Pendaftaran Nomor Seluler Menggunakan Biometrik, Efektif?

7 July 2026
Mafindo NTB Bersama Pengurus Muslimat NW Melaksanakan Kelas Akademi Digital Lansia – Tular Nalar Mafindo Bertajuk Bersama Bugar Digital 7

Mafindo NTB Bersama Pengurus Muslimat NW Melaksanakan Kelas Akademi Digital Lansia – Tular Nalar Mafindo Bertajuk Bersama Bugar Digital

29 October 2024

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Olah Raga
  • Opinion
  • Tourism
  • Education
  • Politics & Law
  • Technology

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly! 4

Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly!

5 August 2025
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 5

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 6

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 7

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023

Ads

  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion
Copyright © 2023 KilasNusa.com