Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Collaborative, Informative, Innovative

Primary Menu
  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion

Realitas Ekonomi Digital: Kebebasan yang Terlacak

Kita hidup dalam ekonomi digital yang membuat transaksi semakin mudah, cepat, dan praktis. Namun, di balik kebebasan memilih itu, setiap transaksi meninggalkan jejak yang dapat direkam, dipetakan, dan dianalisis. QRIS adalah salah satu gambaran sederhana dari realitas baru tersebut: kita bebas memilih, tetapi kebebasan kita semakin terlacak.
Adi Prayuda 22 August 2026
Adi Prayuda, Dosen FEB UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi)

Bayangkan seseorang datang ke sebuah kedai kopi. Orang itu kemudian melihat daftar menu, memilih kopi favoritnya, lalu mengeluarkan ponsel dan memindai QRIS. Beberapa detik kemudian pembayaran selesai. Tidak ada uang tunai yang berpindah tangan, tidak ada kembalian yang harus dihitung, dan hampir tidak ada friksi dalam transaksi. Orang tersebut merasa bebas. Bebas memilih minuman, bebas menentukan tempat, bebas memutuskan berapa banyak yang ingin dibelanjakan. Tidak ada seorangpun yang memaksanya. Namun, tanpa banyak disadari, keputusan sederhana tersebut telah meninggalkan jejak digital.

Inilah salah satu paradoks menarik dalam ekonomi digital. Kita merasa semakin bebas karena teknologi menghilangkan banyak hambatan dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa membeli sesuatu tanpa membawa uang tunai, memesan makanan tanpa datang ke restoran, membeli tiket tanpa pergi ke loket, bahkan mendapatkan rekomendasi produk tanpa harus mencarinya terlalu lama. Teknologi memberikan kenyamanan dan memperluas pilihan. Namun, pada saat yang sama, hampir setiap pilihan digital menghasilkan data. Kita bebas memilih, tetapi pilihan kita semakin mudah terlacak.

QRIS menjadi contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, QRIS merupakan inovasi sistem pembayaran yang memberikan banyak manfaat. Bagi konsumen, pembayaran menjadi lebih praktis. Bagi pelaku usaha, transaksi dapat tercatat secara digital dan pengelolaan keuangan menjadi lebih efisien. Bagi UMKM, digitalisasi pembayaran dapat menjadi pintu masuk menuju ekosistem ekonomi digital yang lebih luas. Dari perspektif ekonomi dan manajemen, ini adalah kemajuan yang sulit dibantah.

Namun, QRIS sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai alat pembayaran, tapi merupakan bagian dari perubahan yang lebih besar: perubahan dari ekonomi transaksi menuju ekonomi data. Ketika seseorang membayar secara digital, yang berpindah bukan hanya nilai ekonomi dalam bentuk uang. Transaksi juga menghasilkan informasi. Satu transaksi mungkin tampak tidak penting. Membeli kopi, makan siang, membayar jasa ojol, atau berbelanja kebutuhan sehari-hari merupakan keputusan kecil. Akan tetapi, ketika keputusan-keputusan tersebut dikumpulkan dalam waktu yang panjang, terbentuk pola perilaku yang jauh lebih bernilai.

Dari data tersebut, dapat diketahui kapan seseorang biasanya bertransaksi, seberapa sering dia berbelanja, kategori produk yang diminati, hingga perubahan pola pengeluarannya. Data menjadi aset ekonomi. Perusahaan tidak lagi hanya berhadapan dengan konsumen yang datang dan membeli, tetapi dengan pola perilaku yang dapat dipelajari. Konsumen bukan sekadar seseorang yang melakukan transaksi, melainkan juga sumber data yang membantu sistem memahami perilakunya.

Persoalannya bukan berarti kita sedang diawasi setiap kali melakukan transaksi. Istilah yang lebih tepat adalah terlacak. Tracking tidak selalu hadir dalam bentuk pengawasan yang menakutkan, tapi justru sering datang sebagai kenyamanan. Kita mendapatkan rekomendasi yang semakin relevan, promo yang sesuai dengan kebiasaan, proses pembayaran yang semakin cepat, dan layanan yang terasa semakin memahami kebutuhan kita. Kita memberikan sebagian data dan mendapatkan kemudahan sebagai imbalannya. Pertukaran itu terlihat masuk akal.

Namun, disinilah pertanyaan etika mulai muncul. Apakah kita benar-benar memahami nilai dari data yang kita berikan? Apakah konsumen mengetahui bagaimana data tersebut digunakan? Dan apakah pertukaran antara data dan kenyamanan tersebut berlangsung dalam posisi yang seimbang? Dalam ekonomi digital, konsumen seringkali mengetahui dengan jelas berapa rupiah yang mereka bayarkan, tetapi tidak selalu mengetahui nilai informasi yang ikut mereka serahkan.

Lebih jauh lagi, data tidak hanya digunakan untuk memahami apa yang telah kita lakukan. Dengan teknologi analitik, data dapat digunakan untuk memprediksi apa yang mungkin kita lakukan. Dari sinilah ekonomi digital bergerak, dari tracking menuju prediction, dan dari prediction menuju influence. Sistem belajar dari perilaku kita, kemudian menggunakan pembelajaran tersebut untuk memberikan penawaran, rekomendasi, atau pengalaman yang semakin personal.

Kita tetap bebas memilih. Inilah bagian yang penting. Tidak tepat jika mengatakan bahwa kebebasan konsumen dalam ekonomi digital hanyalah ilusi. Kita memang memilih sendiri. Namun, lingkungan tempat kita mengambil keputusan semakin dirancang berdasarkan data mengenai diri kita. Ketika sebuah platform mengetahui kebiasaan kita, memahami sensitivitas kita terhadap harga, dan mengetahui produk yang kemungkinan besar kita sukai, kemampuan untuk memengaruhi keputusan kita juga semakin besar.

pasang iklan di sini

Di titik ini, batas antara membantu konsumen dan memengaruhi konsumen menjadi semakin tipis. Rekomendasi yang relevan dapat menjadi bentuk pelayanan yang baik, tetapi personalisasi yang dirancang semata-mata untuk mendorong konsumsi tanpa mempertimbangkan kepentingan konsumen dapat berubah menjadi manipulasi. Karena itu, persoalan utama ekonomi digital bukan sekadar seberapa canggih teknologinya, tetapi untuk tujuan apa kecanggihan tersebut digunakan.

Hal ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih luas mengenai marketing. Selama ini keberhasilan pemasaran sering diukur melalui perhatian, engagement, conversion, dan pertumbuhan penjualan. Semakin banyak konsumen yang membeli, semakin dianggap berhasil sebuah strategi. Namun, ukuran tersebut belum tentu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah proses yang menghasilkan pembelian tersebut juga memberikan kebaikan bagi konsumen?

Marketing, khususnya Mindful Marketing, tidak menolak teknologi, data, personalisasi, ataupun tujuan bisnis. Yang dipertanyakan adalah bagaimana semua itu digunakan. Marketing tidak seharusnya hanya bertanya, “Bagaimana membuat konsumen membeli?” tetapi juga, “Bagaimana menciptakan kondisi agar konsumen dapat memilih dengan sadar?”

Teknologi seharusnya mengurangi friksi, bukan mengurangi kesadaran. Data seharusnya menciptakan nilai, bukan sekadar mengekstraksi nilai. Personalisasi seharusnya membantu konsumen menemukan sesuatu yang relevan, bukan secara diam-diam mengambil alih otonomi mereka. Dan keberhasilan marketing seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak transaksi yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari seberapa besar kepercayaan dan nilai jangka panjang yang dibangun.

Kita mungkin memang akan hidup dalam ekonomi dimana kebebasan semakin terlacak. Kita tidak perlu memusuhi realitas tersebut, tetapi juga tidak boleh menerimanya tanpa kesadaran kritis. Digitalisasi akan terus berkembang, transaksi akan semakin mudah, dan data akan semakin penting. Tantangannya adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak membuat manusia kehilangan kendali atas keputusan ekonominya sendiri.

Persoalan terbesar ekonomi digital bukan ketika teknologi mengetahui apa yang kita lakukan. Persoalannya muncul ketika teknologi semakin mampu memprediksi dan memengaruhi apa yang akan kita lakukan, sementara kita sendiri semakin tidak sadar mengapa kita memilihnya.

Mindful marketing bukan tentang membuat manusia berhenti memilih, tapi tentang memastikan bahwa ketika dunia semakin pandai membaca pilihan kita, manusia tetap mampu membaca dirinya sendiri dan tetap sadar bahwa kebebasan memilih itu berada di tangannya. (*)

Tags: Data Digitalisasi Ekonomi Digital Etika Bisnis Marketing mindful marketing Perilaku Konsumen Privasi QRIS Transformasi Digital

Continue Reading

Previous: Indonesia Raya Sudah Mengingatkan: Bangunlah Jiwanya, Bukan Cuma Proyeknya

Trending Now

Realitas Ekonomi Digital: Kebebasan yang Terlacak Adi Prayuda, Dosen FEB UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi) 1

Realitas Ekonomi Digital: Kebebasan yang Terlacak

22 August 2026
Indonesia Raya Sudah Mengingatkan: Bangunlah Jiwanya, Bukan Cuma Proyeknya Adi Prayuda, Dosen FEB UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi) 2

Indonesia Raya Sudah Mengingatkan: Bangunlah Jiwanya, Bukan Cuma Proyeknya

18 August 2026
Musorprov KONI NTB Memanas, Dinilai Jangan Jadi Adu Gengsi Fathurahman menyoroti dinamika Musorprov KONI NTB dan pentingnya sportivitas olahraga 3

Musorprov KONI NTB Memanas, Dinilai Jangan Jadi Adu Gengsi

16 August 2026
Dosen Makin Sibuk, Pendidikan Makin Tertinggal? Ketika Administrasi Mengalahkan Ruang Berpikir Adi Prayuda, Kepala Biro Humas, Kerja Sama, dan Alumni UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi) 4

Dosen Makin Sibuk, Pendidikan Makin Tertinggal? Ketika Administrasi Mengalahkan Ruang Berpikir

14 August 2026
Perebutan Ketua KONI NTB Menghangat, 4 Nama Masuk Bursa Perebutan kursi Ketua KONI NTB 2026 dengan empat nama yang disebut masuk bursa 5

Perebutan Ketua KONI NTB Menghangat, 4 Nama Masuk Bursa

12 August 2026
Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati Adi Prayuda Buku Mindful Digital Marketing 6

Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati

12 August 2026

Berita Terkait

Indonesia Raya Sudah Mengingatkan: Bangunlah Jiwanya, Bukan Cuma Proyeknya Adi Prayuda, Dosen FEB UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi)

Indonesia Raya Sudah Mengingatkan: Bangunlah Jiwanya, Bukan Cuma Proyeknya

18 August 2026
Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati Adi Prayuda Buku Mindful Digital Marketing

Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati

12 August 2026
Dari Rp9 Ribu ke Rp120 Ribu: Apa yang Terjadi di Parkiran Pelabuhan Lembar? Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, NTB

Dari Rp9 Ribu ke Rp120 Ribu: Apa yang Terjadi di Parkiran Pelabuhan Lembar?

2 August 2026
Angka yang Salah dan Pertaruhan Marwah Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Presiden Indonesia ke-8.

Angka yang Salah dan Pertaruhan Marwah

1 August 2026
Laptop Tutup, Obrolan Buka: Pelajaran Marketing dari Kopsel Coffee di Jalan Harimau Kopsel Coffee

Laptop Tutup, Obrolan Buka: Pelajaran Marketing dari Kopsel Coffee di Jalan Harimau

1 August 2026
When Three Coffee Shops Stand Vertically in Tunjungan Plaza Tiga jaringan kedai kopi - Fore Coffee, Excelso, dan Starbucks - tampak berdiri secara vertikal di atrium Tunjungan Plaza, Surabaya, Minggu malam (26/7/2026)

When Three Coffee Shops Stand Vertically in Tunjungan Plaza

27 July 2026

Berita Terpopuler

Mafindo NTB Bersama Pesantren Alam Sayang Ibu Lombok Barat Melaksanakan Kegiatan Implementasi AI Ready Asean Bagi Para Pendidik 1

Mafindo NTB Bersama Pesantren Alam Sayang Ibu Lombok Barat Melaksanakan Kegiatan Implementasi AI Ready Asean Bagi Para Pendidik

19 January 2026
Mafindo NTB Bersama PGRI Kota Mataram Melaksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial  – AI Goes to School MAFINDO 2

Mafindo NTB Bersama PGRI Kota Mataram Melaksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial  – AI Goes to School MAFINDO

23 October 2025
Bukan Sekadar Bersih-Bersih, KKN UMMAT dan Warga Sesela Perkuat Ketangguhan Desa dari Risiko Bencana 3

Bukan Sekadar Bersih-Bersih, KKN UMMAT dan Warga Sesela Perkuat Ketangguhan Desa dari Risiko Bencana

18 July 2026
Segini Harga Resmi iPhone 15 di Indonesia 4

Segini Harga Resmi iPhone 15 di Indonesia

14 October 2023
KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana 5

KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana

4 August 2026
Pendaftaran Nomor Seluler Menggunakan Biometrik, Efektif? 6

Pendaftaran Nomor Seluler Menggunakan Biometrik, Efektif?

7 July 2026
Mafindo NTB Bersama Pengurus Muslimat NW Melaksanakan Kelas Akademi Digital Lansia – Tular Nalar Mafindo Bertajuk Bersama Bugar Digital 7

Mafindo NTB Bersama Pengurus Muslimat NW Melaksanakan Kelas Akademi Digital Lansia – Tular Nalar Mafindo Bertajuk Bersama Bugar Digital

29 October 2024

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Olah Raga
  • Opinion
  • Tourism
  • Education
  • Politics & Law
  • Technology

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly! 4

Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly!

5 August 2025
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 5

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 6

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 7

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023

Ads

  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion
Copyright © 2023 KilasNusa.com