
Kilas Nusa, Lombok Tengah – Sehari setelah kebakaran besar melanda Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Minggu (23/8/2026), suasana duka masih terasa kuat.
Pemandangan yang terlihat pagi hingga siang hari memperlihatkan perubahan drastis pada kawasan permukiman adat tersebut. Sejumlah bangunan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan warga kini tersisa dalam bentuk dinding, fondasi, rangka bangunan, serta material yang hangus terbakar.
Sisa-sisa atap, bambu, kayu dan berbagai perlengkapan rumah tangga tampak berserakan di antara bangunan yang terdampak. Tanah di sejumlah titik terlihat menghitam, sementara pepohonan di sekitar permukiman juga menyisakan batang dan ranting yang terbakar.

Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya dampak kebakaran yang terjadi pada Sabtu malam (22/8/2026). Api yang cepat merambat membuat kawasan permukiman adat itu berubah hanya dalam waktu beberapa jam.
Di tengah puing-puing, sejumlah warga mulai kembali melihat kondisi rumah dan lingkungan mereka. Sebagian tampak mengamati sisa bangunan, sementara warga lainnya berada di sekitar lokasi untuk memastikan barang-barang yang masih dapat diselamatkan.
Pemandangan itu menjadi kontras dengan wajah Sade yang selama ini dikenal sebagai salah satu kampung adat yang mempertahankan kehidupan tradisional masyarakat Sasak.
Rumah-rumah dengan karakter arsitektur tradisional, lingkungan kampung yang menjadi ruang hidup masyarakat, serta aktivitas keseharian warga kini harus berhadapan dengan sisa-sisa kebakaran.
Bagi warga yang terdampak, kehilangan tersebut bukan semata soal bangunan. Rumah merupakan tempat berlangsungnya kehidupan keluarga, menyimpan berbagai barang dan kenangan, sekaligus menjadi bagian dari lingkungan sosial yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Karena itu, proses pemulihan Sade diperkirakan tidak cukup hanya dengan membangun kembali bangunan yang rusak. Kehidupan warga dan karakter kampung adat juga menjadi bagian penting yang harus dipertahankan.
Sade selama ini dikenal sebagai salah satu ruang penting dalam kehidupan budaya Sasak. Tradisi, bentuk hunian, tata lingkungan, serta kehidupan masyarakatnya menjadi bagian dari identitas budaya Lombok yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah dan negara.
Kebakaran yang terjadi kini meninggalkan pekerjaan besar: memulihkan kehidupan warga sekaligus menjaga agar identitas kampung adat tersebut tidak hilang dalam proses pembangunan kembali.
Minggu, 23 Agustus 2026, Sade memperlihatkan wajah yang berbeda. Bukan lagi sekadar kampung adat yang ramai dikunjungi, melainkan sebuah kawasan yang sedang berusaha bangkit dari puing-puing.
Di antara bangunan yang hangus dan pepohonan yang menghitam, masih ada warga yang bertahan. Dari sanalah proses pemulihan Sade akan dimulai, bukan hanya untuk mengembalikan bangunan yang hilang, tetapi juga untuk menghidupkan kembali sebuah kampung yang memiliki arti penting bagi kehidupan dan budaya masyarakat Sasak. (*)
