Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Collaborative, Informative, Innovative

Primary Menu
  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion

Road Barrier Rembiga dan Pelajaran Kedewasaan

Polemik road barrier di Rembiga mungkin terlihat sebagai persoalan lalu lintas. Tetapi di baliknya ada pelajaran yang lebih penting tentang bagaimana pemerintah dan masyarakat berelasi, berbeda kepentingan, saling mendengar, dan belajar mencari solusi yang lebih baik untuk kepentingan bersama.
Adi Prayuda 1 September 2026
Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR

Saya kira hampir semua orang menginginkan hal yang sama: hidup yang lebih baik. Kita ingin jalan yang lebih lancar, lingkungan yang lebih aman, usaha yang lebih mudah berkembang, pemerintah yang bekerja dengan baik, dan masyarakat yang semakin tertib. Hanya saja, keinginan untuk menjadi lebih baik tidak selalu membawa kita pada kesepakatan tentang bagaimana cara mencapainya. Gesekan bisa saja muncul, termasuk dalam persoalan road barrier di Rembiga.

Bagi pemerintah, rekayasa lalu lintas tentu memiliki alasan. Kemacetan di kawasan Rembiga memang membutuhkan solusi, dan membuat arus kendaraan lebih lancar adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah. Ketika sistem satu arah diterapkan dan water barrier dipasang, pemerintah tentu berharap persoalan kepadatan dapat dikurangi dan perjalanan masyarakat menjadi lebih baik.

Namun, bagi sebagian masyarakat yang tinggal dan berusaha di sekitar Rembiga, persoalannya mungkin terasa berbeda. Jalan yang lebih lancar bagi kendaraan belum tentu berarti akses yang lebih mudah bagi warga. Pedagang dapat merasakan perubahan arus pelanggan, warga harus menempuh rute yang berbeda, sementara pejalan kaki mungkin memiliki kekhawatiran baru ketika harus menyeberang jalan yang kendaraan di dalamnya bergerak lebih lancar.

Di sini sebenarnya tidak ada pihak yang perlu buru-buru dianggap sebagai penjahat dan tidak ada pula yang harus langsung dinobatkan sebagai pihak yang paling benar. Pemerintah memiliki perspektifnya sendiri, masyarakat memiliki pengalaman langsungnya sendiri, dan keduanya perlu dipertemukan.

Namun, ada satu hal yang menurut saya perlu kita sepakati. Ketidaksetujuan adalah sesuatu yang wajar, tetapi cara kita menyampaikan ketidaksetujuan juga merupakan bagian dari kedewasaan. Membongkar fasilitas publik secara sepihak bukan cara yang seharusnya kita normalisasi. Kalau ada kebijakan yang dianggap merugikan, kita memiliki banyak cara untuk menyampaikan keberatan secara tertib, mulai dari berdialog dengan pemerintah setempat hingga membawa persoalan tersebut ke forum yang lebih tinggi.

Pada saat yang sama, pemerintah juga perlu memahami bahwa masyarakat bukan sekadar angka dalam laporan lalu lintas. Mereka adalah manusia yang menjalani konsekuensi kebijakan tersebut setiap hari. Karena itu, mendengarkan keluhan warga bukan berarti pemerintah harus selalu mengalah. Mendengarkan justru merupakan bagian dari pekerjaan pemerintah untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap sebelum memperbaiki sebuah kebijakan.

Dalam manajemen, kita mengenal istilah stakeholder management, yaitu bagaimana sebuah organisasi mengelola kepentingan berbagai pihak yang terkena dampak dari sebuah keputusan. Prinsip sederhananya adalah bahwa keberhasilan tidak cukup dilihat dari satu sisi. Dalam kasus Rembiga, pemerintah mungkin melihat apakah kendaraan menjadi lebih lancar, tetapi masyarakat juga perlu melihat apakah kehidupan di sekitarnya menjadi lebih aman dan nyaman. Pedagang melihat apakah konsumennya tetap mudah datang, pejalan kaki melihat apakah mereka dapat menyeberang dengan aman, sementara pengguna jalan melihat apakah waktu tempuh mereka menjadi lebih singkat. Semua itu adalah bagian dari satu persoalan yang sama.

pasang iklan di sini

Karena itu, saya kira kita tidak perlu memperdebatkan Rembiga dengan emosi yang terlalu besar. Kalau pemerintah mengatakan rekayasa tersebut membuat lalu lintas lebih lancar, mari lihat datanya. Kalau masyarakat mengatakan usaha mereka terdampak, mari ukur juga dengan data. Berapa perubahan waktu tempuh kendaraan? Bagaimana perubahan kepadatan? Berapa omzet pedagang sebelum dan sesudah rekayasa? Bagaimana jumlah pelanggan? Bagaimana kondisi keselamatan pejalan kaki? Apakah kendaraan yang biasanya melewati jalan utama justru masuk ke jalan lingkungan? Dengan cara seperti itu, kita sedang mengubah perdebatan dari “siapa yang paling benar” menjadi “apa yang paling baik”.

Saya juga melihat perkembangan pada Senin, 31 Agustus, sebagai sesuatu yang patut diapresiasi. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dan Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, turun langsung melihat kondisi Rembiga pada sore hari dan berdialog dengan masyarakat serta pelaku UMKM. Setelah mediasi, road barrier kembali dipasang dan rekayasa lalu lintas dilanjutkan, disertai sejumlah rencana evaluasi dan perbaikan fasilitas pendukung.

Bagi saya, kehadiran pemerintah di lapangan bukan sekadar simbol. Ada pesan penting di sana bahwa keputusan yang dibuat di belakang meja tetap harus bertemu dengan kenyataan di lapangan. Sebaliknya, masyarakat juga perlu menyadari bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada hanya memenuhi kepentingan satu kelompok.

Inilah mungkin pembelajaran paling penting dari Rembiga. Kita semua ingin keadaan menjadi lebih baik, tetapi menjadi lebih baik membutuhkan kemampuan untuk menerima bahwa kepentingan kita bukan satu-satunya kepentingan yang ada. Pemerintah perlu belajar bahwa kebijakan yang baik membutuhkan komunikasi, data, evaluasi, dan kesediaan mendengar. Masyarakat juga perlu belajar bahwa kritik akan jauh lebih kuat ketika disampaikan dengan cara yang tertib, argumentatif, dan tidak merugikan kepentingan publik yang lebih luas.

Sebuah kota pada dasarnya adalah ruang bersama. Ketika kita hanya berpikir tentang apa yang nyaman bagi diri sendiri atau kelompok sendiri, kita akan mudah melihat pihak lain sebagai pengganggu. Tetapi ketika kita mulai bertanya apa yang terbaik bagi Mataram secara keseluruhan, perbedaan kepentingan bisa berubah menjadi bahan untuk mencari solusi.

Mungkin karena itu, saya tidak ingin melihat polemik Rembiga sebagai pertarungan antara pemerintah dan masyarakat. Saya lebih suka melihatnya sebagai proses belajar bersama. Pemerintah belajar mendengar. Masyarakat belajar menyampaikan. Pemerintah belajar mengevaluasi. Masyarakat belajar memahami. Keduanya sama-sama belajar bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan memaksakan kehendak.

Road barrier hanyalah sebuah benda. Yang jauh lebih penting adalah hubungan antara manusia yang berada di baliknya. Dan kalau gesekan di Rembiga membuat pemerintah menjadi lebih terbuka, masyarakat menjadi lebih dewasa, dan kita semua semakin mampu melihat kepentingan bersama, mungkin ada sesuatu yang baik yang sedang tumbuh dari persoalan ini. Menjadi lebih baik bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat. Menjadi lebih baik berarti belajar bagaimana berbeda pendapat tanpa berhenti menjadi bagian dari satu masyarakat yang sama. (*)

Tags: Kebijakan Publik Kepentingan Bersama Lalu Lintas Lombok Manajemen Masyarakat Mataram NTB Pemerintah Rembiga Road Barrier Stakeholder UMKM

Continue Reading

Previous: Ketika Sade Terbakar, Lombok Kehilangan Sebagian Wajah Pariwisatanya

Trending Now

Road Barrier Rembiga dan Pelajaran Kedewasaan Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR 1

Road Barrier Rembiga dan Pelajaran Kedewasaan

1 September 2026
Imam Sofian Dorong PROJO Bertransformasi, Kawal Agenda Prabowo-Gibran Ketua DPD Pro-Jokowi (PROJO) Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Imam Sofian, S.H., M.H. 2

Imam Sofian Dorong PROJO Bertransformasi, Kawal Agenda Prabowo-Gibran

1 September 2026
Ketika Sade Terbakar, Lombok Kehilangan Sebagian Wajah Pariwisatanya Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR 3

Ketika Sade Terbakar, Lombok Kehilangan Sebagian Wajah Pariwisatanya

23 August 2026
Sehari Setelah Kebakaran, Kampung Adat Sade Tinggal Puing dan Kenangan Sehari Setelah Kebakaran, Kampung Adat Sade Tinggal Puing dan Kenangan 4

Sehari Setelah Kebakaran, Kampung Adat Sade Tinggal Puing dan Kenangan

23 August 2026
Nanang Samodra Soroti Masa Depan Dana Haji dalam Wisuda UIN Mataram Nanang Samodra 5

Nanang Samodra Soroti Masa Depan Dana Haji dalam Wisuda UIN Mataram

23 August 2026
Kebakaran Hanguskan Kampung Adat Sade, Warga Kehilangan Rumah dan Warisan Leluhur Gubernur NTB dan Bupati Loteng Turun di Lokasi Kebakaran Sade Loteng 6

Kebakaran Hanguskan Kampung Adat Sade, Warga Kehilangan Rumah dan Warisan Leluhur

23 August 2026

Berita Terkait

Ketika Sade Terbakar, Lombok Kehilangan Sebagian Wajah Pariwisatanya Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR

Ketika Sade Terbakar, Lombok Kehilangan Sebagian Wajah Pariwisatanya

23 August 2026
Sehari Setelah Kebakaran, Kampung Adat Sade Tinggal Puing dan Kenangan Sehari Setelah Kebakaran, Kampung Adat Sade Tinggal Puing dan Kenangan

Sehari Setelah Kebakaran, Kampung Adat Sade Tinggal Puing dan Kenangan

23 August 2026
Nanang Samodra Soroti Masa Depan Dana Haji dalam Wisuda UIN Mataram Nanang Samodra

Nanang Samodra Soroti Masa Depan Dana Haji dalam Wisuda UIN Mataram

23 August 2026
Kebakaran Hanguskan Kampung Adat Sade, Warga Kehilangan Rumah dan Warisan Leluhur Gubernur NTB dan Bupati Loteng Turun di Lokasi Kebakaran Sade Loteng

Kebakaran Hanguskan Kampung Adat Sade, Warga Kehilangan Rumah dan Warisan Leluhur

23 August 2026
UNIZAR Jalani Visitasi Asesmen Pembukaan Magister Manajemen Bisnis Syariah Visitasi asesmen lapangan pembukaan Magister Manajemen Bisnis Syariah UNIZAR

UNIZAR Jalani Visitasi Asesmen Pembukaan Magister Manajemen Bisnis Syariah

22 August 2026
PKKMB Fakultas Pertanian Unram 2026, Erwin Irawan: Koneksi Membuka Pintu, Kompetensi Membuat Kita Dipercaya Erwin Irawan saat menjadi narasumber talkshow PKKMB Fakultas Pertanian Unram 2026

PKKMB Fakultas Pertanian Unram 2026, Erwin Irawan: Koneksi Membuka Pintu, Kompetensi Membuat Kita Dipercaya

22 August 2026

Berita Terpopuler

Mafindo NTB Bersama Pesantren Alam Sayang Ibu Lombok Barat Melaksanakan Kegiatan Implementasi AI Ready Asean Bagi Para Pendidik 1

Mafindo NTB Bersama Pesantren Alam Sayang Ibu Lombok Barat Melaksanakan Kegiatan Implementasi AI Ready Asean Bagi Para Pendidik

19 January 2026
Mafindo NTB Bersama PGRI Kota Mataram Melaksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial  – AI Goes to School MAFINDO 2

Mafindo NTB Bersama PGRI Kota Mataram Melaksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial  – AI Goes to School MAFINDO

23 October 2025
Bukan Sekadar Bersih-Bersih, KKN UMMAT dan Warga Sesela Perkuat Ketangguhan Desa dari Risiko Bencana 3

Bukan Sekadar Bersih-Bersih, KKN UMMAT dan Warga Sesela Perkuat Ketangguhan Desa dari Risiko Bencana

18 July 2026
Segini Harga Resmi iPhone 15 di Indonesia 4

Segini Harga Resmi iPhone 15 di Indonesia

14 October 2023
KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana 5

KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana

4 August 2026
Imam Sofian Dorong PROJO Bertransformasi, Kawal Agenda Prabowo-Gibran Ketua DPD Pro-Jokowi (PROJO) Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Imam Sofian, S.H., M.H. 6

Imam Sofian Dorong PROJO Bertransformasi, Kawal Agenda Prabowo-Gibran

1 September 2026
Pendaftaran Nomor Seluler Menggunakan Biometrik, Efektif? 7

Pendaftaran Nomor Seluler Menggunakan Biometrik, Efektif?

7 July 2026

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Olah Raga
  • Opinion
  • Tourism
  • Education
  • Politics & Law
  • Technology

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly! 4

Allegation of Waqf Land Grabbing in Praya, Kawal NTB: Usage Rights Certificate Issued Carelessly!

5 August 2025
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 5

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 6

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 7

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023

Ads

  • Home
  • Politics & Law
  • Education
  • Technology
  • Economy & Business
  • Health & Lifestyle
  • Tourism
  • Sports
  • Opinion
Copyright © 2023 KilasNusa.com