
Mengapa seseorang rela terbang ribuan kilometer untuk menikmati semangkuk ramen di Jepang, menyeruput segelas Champagne di Prancis, atau mencicipi Kobe Beef langsung dari daerah asalnya? Jawabannya bukan semata-mata karena rasa. Di berbagai belahan dunia mungkin ada makanan yang sama lezatnya. Namun, ada satu hal yang tidak mudah ditiru, yaitu cerita.
Di era pariwisata modern, makanan bukan lagi sekadar pengganjal lapar. Kuliner telah menjadi bagian dari pengalaman. Orang ingin mengetahui asal-usulnya, siapa yang pertama kali membuatnya, bagaimana tradisinya diwariskan, hingga mengapa makanan itu menjadi simbol sebuah daerah. Cerita membuat sebuah hidangan memiliki makna, dan makna itulah yang menciptakan nilai.
Lombok sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah besar melalui Ayam Taliwang. Kuliner ini telah lama menjadi salah satu ikon daerah. Hampir setiap wisatawan yang datang ke Pulau Lombok memasukkan Ayam Taliwang ke dalam daftar makanan yang wajib dicoba. Rasanya yang khas telah menjadi identitas kuliner yang melekat di benak banyak orang.
Namun, muncul sebuah pertanyaan yang menarik. Berapa banyak masyarakat Lombok sendiri yang mengetahui kisah di balik nama “Taliwang”?
Salah satu narasi sejarah yang banyak beredar, termasuk yang dimuat dalam berbagai sumber dan informasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, menyebutkan bahwa leluhur masyarakat Karang Taliwang berasal dari Taliwang di Pulau Sumbawa. Mereka datang ke Lombok ketika Kerajaan Selaparang menghadapi konflik dengan Kerajaan Karangasem. Bersama pasukan yang dikirim membantu Selaparang, hadir pula para juru masak dari Kerajaan Taliwang.
Konon, dari dapur para juru masak itulah lahir sajian ayam berbumbu pedas yang kemudian dikenal sebagai Ayam Taliwang. Bahkan terdapat narasi yang menyebutkan bahwa hidangan tersebut menjadi bagian dari diplomasi yang membantu mencairkan hubungan antarkerajaan. Terlepas dari kemungkinan adanya versi sejarah lain yang masih perlu diteliti lebih lanjut oleh para sejarawan dan budayawan, kisah ini menyimpan satu potensi besar yang sering terlupakan, yaitu kekuatan storytelling.
Sayangnya, cerita seperti ini belum menjadi bagian dari pengalaman menikmati Ayam Taliwang. Wisatawan biasanya mengetahui rumah makan yang terkenal, tingkat kepedasannya, atau resep yang dianggap paling autentik. Sangat sedikit yang mengetahui perjalanan sejarah yang melatarbelakangi nama kuliner tersebut.
Padahal, dunia telah lama menunjukkan bahwa cerita mampu meningkatkan nilai sebuah produk.
Jepang tidak hanya menjual sushi sebagai perpaduan nasi dan ikan. Mereka menjual filosofi kesederhanaan, ketelitian, dan penghormatan terhadap bahan makanan. Prancis tidak hanya menjual Champagne sebagai minuman berkarbonasi, tetapi juga menjual sejarah wilayah asalnya yang dijaga selama ratusan tahun. Italia tidak hanya menjual Parmigiano Reggiano sebagai keju, melainkan sebagai warisan budaya yang memiliki aturan produksi sangat ketat. Bahkan Kobe Beef menjadi simbol kemewahan bukan hanya karena kualitas dagingnya, tetapi juga karena cerita yang terus diwariskan mengenai asal-usul dan proses pemeliharaannya.
Yang dibeli wisatawan bukan hanya makanan. Yang mereka beli adalah pengalaman.
Pengalaman itu dimulai jauh sebelum makanan disajikan. Ketika seorang pelayan menceritakan asal-usul sebuah hidangan, ketika sebuah buku menu menjelaskan sejarahnya, ketika kemasan produk memuat kisah budaya daerah asalnya, saat itulah nilai sebuah makanan meningkat. Bukan karena resepnya berubah, tetapi karena persepsi konsumen ikut berubah.
Inilah yang dalam dunia pemasaran dikenal sebagai storytelling. Bukan mengarang cerita, melainkan menemukan kisah yang memang hidup dalam sejarah, budaya, atau tradisi masyarakat, lalu menyampaikannya secara konsisten sehingga menjadi bagian dari identitas produk.
Lombok sebenarnya memiliki peluang besar untuk melakukan hal tersebut. Jika narasi mengenai Ayam Taliwang terus diperkuat melalui penelitian sejarah, didokumentasikan dengan baik, kemudian dikemas secara kreatif dalam promosi pariwisata, media sosial, buku, museum, restoran, hingga produk oleh-oleh, maka Ayam Taliwang tidak hanya akan dikenal sebagai ayam bakar pedas khas Lombok, tapi juga akan dikenal sebagai sebuah warisan budaya yang memiliki kisah panjang tentang perjalanan masyarakat, pertemuan budaya, dan sejarah Pulau Lombok.
Tentu saja storytelling bukan satu-satunya pekerjaan rumah. Standar kualitas makanan harus tetap terjaga. Inovasi kemasan perlu terus dikembangkan agar produk dapat dikirim ke berbagai daerah tanpa mengurangi kualitasnya. Pelaku usaha juga perlu memperkuat sertifikasi, menjaga konsistensi rasa, dan membangun jaringan distribusi yang lebih luas. Semua itu merupakan fondasi penting apabila Ayam Taliwang benar-benar ingin bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Namun tanpa cerita yang kuat, semua upaya tersebut akan kehilangan salah satu pembeda yang paling sulit ditiru oleh daerah lain. Kita sering mengatakan bahwa Ayam Taliwang adalah kebanggaan Lombok. Pernyataan itu tentu tidak keliru. Tetapi kebanggaan tidak cukup hanya diucapkan. Kebanggaan juga perlu dibangun, dirawat, dan diceritakan secara terus-menerus.
Mungkin inilah saatnya kita mulai melihat Ayam Taliwang bukan sekadar sebagai menu restoran, melainkan sebagai aset budaya. Sebab dunia tidak hanya mencari makanan yang enak. Dunia mencari pengalaman yang berkesan. Dan pengalaman yang paling lama bertahan hampir selalu diawali oleh sebuah cerita. Rasa hanya tinggal beberapa menit di lidah. Sementara cerita dapat hidup puluhan, bahkan ratusan tahun di ingatan manusia. (*)
