
Sabtu, 5 September 2026, saya dan istri berkunjung ke Pakuwon Mall Surabaya. Ada satu brand minuman yang membuat kami penasaran: Sanca Black, yang sampai tulisan ini diketik, belum hadir di Mataram. Karena penasaran, kami akhirnya mencoba untuk pertama kalinya.
Kesan pertama saya justru bukan pada minumannya, melainkan pada ruangnya. Perpaduan warna oranye dan hitam terasa kuat. Oranye memberi kesan hangat, energik, dan hidup, sementara hitam menghadirkan karakter tegas dan elegan. Dua warna yang berbeda, tetapi ketika dipadukan justru membentuk identitas yang menarik.
Saya memesan Navel Orange Americano, sementara istri memilih Lychee Honey Black Milk Tea. Keduanya enak. Namun, ternyata bukan rasa minuman yang paling lama tinggal dalam pikiran saya. Ada tulisan di dinding outlet yang membuat saya berhenti, membacanya, lalu membacanya sekali lagi.
Di sana tertulis, “We believe life is not about choosing one side over the other.” Hidup, menurut filosofi tersebut, bukan tentang memilih satu sisi dan meninggalkan sisi lainnya. Kita bisa baik sekaligus tegas. Kita bisa lembut sekaligus kuat. Kita bisa beristirahat sekaligus tetap membuat kemajuan. Energi maskulin membantu kita bergerak maju, sementara energi feminin mengingatkan kita pada alasan mengapa kita bergerak.
Ada pula kalimat, “Every story has two sides, and the blend of both are what makes it perfect.” Setiap cerita memiliki dua sisi, dan perpaduan keduanya yang membuatnya utuh. Filosofi ini kemudian diterjemahkan ke dalam Coffeecha™, perpaduan kopi yang membawa energi dan teh yang membawa kenyamanan.
Saya melihatnya bukan sekadar cara kreatif menjelaskan produk. Ada gagasan tentang kehidupan yang sedang ditawarkan. Kopi dan teh memiliki karakter berbeda, tetapi tidak dipertentangkan. Keduanya justru dipertemukan. Dan bagi saya, gagasan itu terasa sangat dekat dengan praktik meditasi Jeda yang selama ini saya jalani.
Ada anggapan bahwa meditasi hanya tentang ketenangan, kelembutan, diam, dan kemampuan melepaskan. Menurut saya, itu baru sebagian. Ketenangan batin tidak seharusnya membuat kita pasif terhadap kehidupan. Justru ketika batin lebih tenang, kita memiliki ruang untuk melihat lebih jernih: kapan menerima, kapan bergerak, kapan mengatakan iya, dan kapan mengatakan tidak. Ada keberanian mengambil keputusan, ketegasan menetapkan batas, serta energi untuk berkarya dan berbagi.
Jeda bukan berarti berhenti dari kehidupan. Jeda adalah kembali kepada kesadaran sebelum kembali bergerak di dalam kehidupan. Karena itu, saya menyukai sebuah paradoks sederhana: kita bisa beristirahat di dalam batin, sementara tubuh tetap aktif berkarya. Kita bisa tidak terikat pada hasil, tetapi tetap melakukan yang terbaik. Kita bisa menerima kehidupan tanpa menjadikan penerimaan sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh.
Kita bisa baik tanpa menjadi lemah. Tegas tanpa menjadi kasar. Lembut tanpa kehilangan kekuatan. Tenang tanpa kehilangan keberanian. Disitulah filosofi Sanca Black terasa relevan bagi saya. Bukan hanya dalam konteks kopi dan teh, tetapi juga dalam cara kita memandang diri sendiri. Ada sisi diri yang ingin bergerak cepat, ada sisi yang membutuhkan jeda. Ada keberanian dan kelembutan, ambisi dan penerimaan. Yang penting bukan memenangkan salah satunya, melainkan membuat keduanya bekerja secara harmonis.
Sebagai dosen manajemen pemasaran, saya melihat pengalaman ini dari perspektif yang berbeda. Saya bukan brand ambassador Sanca Black. Saya tertarik melihat bagaimana sebuah brand dapat membangun koneksi emosional dengan konsumennya. Koneksi emosional tidak selalu lahir dari iklan besar atau kampanye viral. Kadang ia muncul dari sesuatu yang sederhana: sebuah kalimat di dinding yang tiba-tiba terasa berbicara kepada pengalaman hidup seseorang.
Saya datang karena penasaran dengan sebuah brand yang belum ada di Mataram. Saya mencoba produknya karena ingin tahu rasanya. Namun, kemudian saya menemukan filosofi yang beresonansi dengan cara saya memandang kehidupan melalui Jeda. Tentu, filosofi yang kuat tidak cukup. Brand tetap harus membuktikannya melalui rasa yang konsisten, pelayanan yang baik, inovasi, harga yang sesuai, dan suasana outlet yang selaras dengan identitasnya. Storytelling yang indah tanpa pengalaman produk yang baik pada akhirnya hanya menjadi slogan.
Namun ketika produk, visual, ruang, pelayanan, dan filosofi berbicara dalam bahasa yang sama, sebuah brand mulai memiliki sesuatu yang sulit ditiru: makna. Konsumen tidak hanya membeli minuman. Mereka bisa membeli pengalaman, suasana, cerita, bahkan perasaan bahwa brand tersebut memiliki hubungan dengan dirinya. Dan mungkin itulah bentuk koneksi emosional yang menarik dalam marketing: bukan ketika konsumen hanya berkata, “Saya suka brand ini,” tetapi ketika ia merasa, “Saya menemukan sesuatu tentang diri saya di sini.”
Maka pengalaman sederhana di Sanca Black hari itu membawa saya pada satu refleksi: hidup mungkin tidak meminta kita memilih antara tenang atau aktif, lembut atau tegas, istirahat atau berkarya. Kita bisa melakukan semuanya, pada waktunya, dari kesadaran yang sama. Hati boleh tidak terikat pada hasil, tetapi tangan tetap aktif berbagi. Batin boleh beristirahat, tetapi tubuh tetap bergerak membawa manfaat.
Jadi, bagi saya, ini bukan hanya sekadar tentang perpaduan kopi dan teh. Ini tentang bagaimana sebuah brand membuat saya melihat kembali sebuah prinsip: kita tidak harus memilih satu sisi diri dan menolak sisi lainnya. Kita menjadi utuh ketika berbagai sisi itu berdamai dan bekerja bersama. Brand yang paling kuat, menurut saya, bukanlah brand yang sekadar membuat kita ingin membeli, tetapi brand yang membuat kita berhenti sejenak, tersenyum, lalu berpikir: “Ternyata, ini juga tentang saya.” (*)






