
Media sosial telah melahirkan perlombaan baru. Bukan lagi siapa yang memiliki produk terbaik, melainkan siapa yang paling mampu menggugah emosi. Video membantu pengemis, memborong dagangan pedagang kecil, atau mempertemukan keluarga yang lama berpisah menjadi konten yang mudah viral. Sebagian benar-benar terjadi, tetapi sebagian lainnya ternyata hanyalah adegan yang telah diskenariokan.
Yang menarik, masalahnya bukan pada adanya skenario. Film, iklan, bahkan video edukasi juga dibuat dengan naskah. Persoalannya muncul ketika sebuah adegan sengaja dikemas seolah-olah merupakan peristiwa nyata, tanpa memberi tahu penonton bahwa itu adalah dramatisasi. Penonton dibuat percaya bahwa emosi yang mereka rasakan lahir dari kejadian yang benar-benar spontan.
Saat ini, batas antara kreativitas dan manipulasi mulai kabur.
Ilmu pemasaran memang memahami bahwa manusia tidak mengambil keputusan hanya dengan logika. Emosi memiliki peran besar dalam mendorong seseorang membeli produk, berdonasi, atau mengikuti sebuah akun. Karena itu, storytelling menjadi strategi yang sangat efektif. Namun, ada perbedaan besar antara menyentuh emosi melalui cerita dan memanipulasi emosi melalui kebohongan.
Yang satu membangun hubungan. Yang lain mengeksploitasi kepercayaan.
Ironisnya, praktik seperti ini mulai dianggap biasa. Selama jumlah penonton tinggi dan transaksi meningkat, cara yang digunakan seolah tidak lagi penting. Seakan-akan tujuan menghalalkan cara. Padahal, keuntungan jangka pendek itu menyimpan biaya sosial yang jauh lebih besar.
Saya menyebutnya sebagai inflasi kepercayaan.
Ini bukan istilah ekonomi formal, melainkan sebuah analogi. Dalam ekonomi, ketika uang beredar terlalu banyak, nilainya menurun. Demikian pula dengan kepercayaan. Ketika masyarakat terus-menerus dibanjiri konten settingan yang dikemas seolah nyata, nilai kepercayaan pun ikut merosot.
Akibatnya, kita mulai sulit percaya kepada siapapun.
Melihat seseorang berbagi makanan kepada tunawisma, muncul komentar, “Pasti konten.” Melihat pelaku UMKM mendapat testimoni positif, langsung dicurigai sebagai review bayaran. Bahkan aksi sosial yang tulus pun sering dianggap sekadar mencari perhatian.
Yang dirugikan bukan hanya penonton. Kreator yang benar-benar jujur juga harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa apa yang mereka tampilkan memang nyata. Kebohongan segelintir orang akhirnya menjadi beban bagi semua orang.
Dari sudut pandang bisnis, strategi ini juga menyimpan kelemahan. Brand yang dibangun di atas rekayasa akan terus dituntut menciptakan drama yang lebih besar agar tetap menarik perhatian. Hari ini harus mengharukan, besok lebih mengejutkan, lusa lebih ekstrem. Lama-kelamaan, kreator menjadi tahanan algoritma yang ia bangun sendiri.
Padahal, membangun kepercayaan tidak sesulit itu. Jika sebuah video memang merupakan dramatisasi, mengapa tidak diberi keterangan sederhana seperti “adegan direka ulang” atau “diperankan oleh talent”? Cerita tetap bisa menyentuh hati tanpa membuat penonton merasa ditipu.
Brand bukan hanya menampilkan produk, tetapi juga integritas. Sekali publik merasa dibohongi, kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit dikembalikan dibanding mengejar satu video viral.
Jangan sampai kita berhasil menciptakan konten yang semakin canggih, tetapi gagal menjaga masyarakat agar tetap saling percaya. Karena ketika kepercayaan mengalami inflasi, yang kehilangan nilai bukan hanya sebuah konten, melainkan juga kemanusiaan kita. (*)
