Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Kolaboratif, Informatif, Inovatif

Primary Menu
  • Home
  • Politik & Hukum
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Opini

Laptop Tutup, Obrolan Buka: Pelajaran Marketing dari Kopsel Coffee di Jalan Harimau

Saya datang ke Kopsel di Jalan Harimau untuk mencari dirty latte. Pulangnya membawa pelajaran tentang positioning, servicescape, dan mengapa tidak semua coffee shop harus menjadi kantor kedua.
Adi Prayuda 1 August 2026
Foto di Kopsel Coffee (Dok. Pribadi)

Malam Minggu, 1 Agustus 2026, saya dan istri akhirnya menyempatkan diri mampir ke Kopsel Coffee yang berada di Jalan Harimau, Mataram. Sudah beberapa kali saya melewati jalan itu dan hampir setiap kali pula tempat ini terlihat ramai. Mungkin karena masih tergolong baru, mungkin juga karena memang ada rasa penasaran yang selalu menyertai kemunculan coffee shop baru di Mataram. Dominasi warna oranye pada bangunannya mengingatkan saya pada Tomoro Coffee. Dari luar saja, tempat ini sudah cukup menarik perhatian.

Begitu melihat daftar menu, mata saya langsung tertuju pada Dirty Latte. Ada dua pilihan, classic dan fruity. Saya memilih yang fruity karena sedang ingin menikmati kopi yang tidak terlalu kuat. Istri saya memilih Cheese Butter Cream. Selain berbagai varian kopi, tersedia pula matcha series, minuman non-coffee, serta menu andalan mereka, Kopi Susu Harimau, yang tampaknya terinspirasi dari nama jalan tempat coffee shop ini berada. Pilihan makanannya juga cukup lengkap, mulai dari rice bowl, nasi goreng, kwetiau, hingga berbagai camilan.

Sambil menunggu pesanan dibuat, kami disambut dengan satu hal sederhana tetapi menyenangkan, yaitu segelas air mineral dingin sebagai welcome drink. Di kota yang cuacanya cukup hangat seperti Mataram, perhatian kecil seperti ini terasa cukup berarti. Ketika Dirty Latte yang saya pesan akhirnya datang, rasanya menurut saya cukup seimbang. Karakter buahnya membuat kopi ini tidak terlalu berat sehingga tetap nyaman dinikmati, bahkan bagi orang yang tidak selalu menyukai cita rasa kopi yang sangat kuat.

Namun, malam itu saya justru lebih tertarik mengamati suasana dibandingkan kopinya. Sebagai dosen yang sehari-hari mengajar manajemen dan pemasaran, saya sering tanpa sadar mengamati perilaku konsumen ketika berada di suatu tempat. Hampir semua meja di Kopsel terisi. Mayoritas pengunjung adalah anak-anak usia sekolah dan mahasiswa. Ada yang datang bersama teman, ada pula yang datang bersama pasangannya. Saya dan istri mungkin termasuk kategori “kakak kelas” mereka. Yang menarik perhatian saya bukan jumlah pengunjungnya, melainkan aktivitas yang mereka lakukan.

Tidak ada musik yang diputar sebagai latar suasana. Akibatnya, suara yang memenuhi ruangan sepenuhnya berasal dari percakapan para pengunjung. Tawa, candaan, diskusi, hingga obrolan ringan saling bersahutan dari berbagai sudut ruangan. Dan di tengah keramaian itu, saya menyadari sesuatu yang cukup unik. Saya tidak menemukan satu pun laptop yang terbuka.

Biasanya, ketika saya berkunjung ke Fore Coffee, Konyu, Rota Kopi, Acibara Coffee, atau beberapa gerai Kopi Kenangan, pemandangan orang bekerja menggunakan laptop sudah menjadi hal yang lumrah. Tata ruangnya memang mendukung. Meja dan kursinya cukup nyaman untuk duduk lama, pencahayaannya mendukung, ditambah musik yang relatif tenang sehingga suasananya kondusif untuk bekerja. Di Kopsel, saya tidak menemukan pengalaman seperti itu.

Dari situlah muncul kalimat sederhana di kepala saya, “Jangan sambil kerja di Kopsel.” Kalimat itu tentu bukan kritik. Justru sebaliknya. Saya melihat ada pelajaran pemasaran yang menarik di balik pengalaman tersebut.

Dalam dunia pemasaran, kita sering terjebak pada anggapan bahwa sebuah bisnis harus mampu memenuhi semua kebutuhan pelanggan. Coffee shop harus bisa menjadi tempat nongkrong, tempat bekerja, tempat rapat, tempat belajar, bahkan tempat membuat konten media sosial sekaligus. Padahal, semakin banyak kebutuhan yang ingin dipenuhi, identitas sebuah merek justru semakin kabur.

Dalam perspektif mindful marketing, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Apa lagi yang bisa kita tambahkan?” melainkan, “Pengalaman seperti apa yang ingin kita ciptakan?”

pasang iklan di sini
Foto beberapa varian biji kopi yang dipajang di Kopsel Coffee (Dok. Pribadi)

Menurut saya, Kopsel memberi jawaban yang cukup jelas. Tempat ini terasa dirancang untuk orang-orang yang ingin hadir bersama orang lain. Datang, memesan kopi, berbincang, menikmati suasana, lalu pulang. Bukan untuk menghabiskan waktu berjam-jam menyelesaikan laporan atau proposal penelitian.

Di dalam ilmu pemasaran jasa terdapat konsep servicescape, yaitu bagaimana lingkungan fisik memengaruhi perilaku pelanggan. Tata letak meja, pencahayaan, aroma ruangan, tingkat kebisingan, hingga keberadaan atau ketiadaan musik sebenarnya bukan sekadar elemen dekorasi. Semua itu mengirimkan pesan yang tidak disadari kepada pengunjung mengenai aktivitas apa yang paling sesuai dilakukan di tempat tersebut.

Ketika sebuah coffee shop menyediakan meja besar, banyak colokan listrik, kursi yang ergonomis, dan musik yang menenangkan, pengunjung secara otomatis menangkap sinyal bahwa tempat itu memang nyaman untuk bekerja. Sebaliknya, ketika ruang lebih didominasi oleh percakapan, meja-meja disusun lebih rapat, dan suasananya lebih hidup, pengunjung akan terdorong untuk lebih banyak berinteraksi daripada membuka laptop.

Saya tidak tahu apakah semua itu memang dirancang secara sadar oleh Kopsel atau hanya terjadi secara alami. Namun, jika memang disengaja, saya melihat logika bisnisnya cukup menarik. Coffee shop yang dipenuhi pelanggan bekerja sering menghadapi perputaran meja yang lambat. Satu orang bisa menempati satu meja selama tiga hingga empat jam hanya dengan satu gelas kopi. Sebaliknya, tempat yang mendorong pelanggan datang untuk berbincang biasanya memiliki tingkat perputaran meja yang lebih tinggi, terutama pada malam atau akhir pekan. Dari sisi bisnis, tentu ini menjadi pertimbangan yang masuk akal.

Ada satu hal lagi yang saya renungkan ketika melihat anak-anak muda memenuhi hampir seluruh sudut ruangan malam itu. Di era digital seperti sekarang, kita semakin terbiasa berkumpul sambil menatap layar. Bahkan di coffee shop, tidak sedikit orang yang duduk bersebelahan tetapi sibuk dengan laptop atau telepon genggam masing-masing. Di Kopsel, saya justru melihat sesuatu yang berbeda. Orang-orang benar-benar berbicara satu sama lain. Mereka tertawa, saling bercerita, dan menikmati kebersamaan tanpa terganggu oleh suasana yang terlalu formal atau terlalu sunyi.

Barangkali tanpa sadar, Kopsel sedang mengembalikan fungsi awal sebuah kedai kopi, yaitu menjadi ruang percakapan.

Saya jadi menyadari bahwa tidak semua coffee shop harus menjadi kantor kedua. Ada tempat yang memang lebih cocok untuk bekerja, ada pula tempat yang lebih tepat untuk membangun percakapan. Dan menurut saya, justru keberanian sebuah merek untuk memilih ingin dikenal sebagai apa merupakan salah satu bentuk positioning yang paling kuat.

Jadi, jika tujuan kita mencari tempat untuk mengerjakan tugas, menyusun laporan, atau mengikuti rapat daring, mungkin ada pilihan lain yang lebih sesuai. Namun, jika tujuan Anda menikmati secangkir kopi sambil berbincang dengan teman, pasangan, atau keluarga, Kopsel layak masuk dalam daftar kunjungan.

Karena, pengalaman pelanggan bukan hanya ditentukan oleh enaknya kopi yang disajikan, tetapi juga oleh suasana yang berhasil diciptakan. Dan malam itu saya pulang dengan satu kesan yang sederhana: di Kopsel, laptop memang lebih baik ditutup, agar percakapan bisa benar-benar terbuka. (*)

Tags: Bisnis branding Coffee Shop Mataram Dirty Latte Kopsel Kuliner Lombok Kuliner Mataram Marketing mindful marketing NTB Opini Pengalaman Pelanggan Positioning Servicescape UMKM

Continue Reading

Previous: Ketika Tiga Kedai Kopi Berdiri Vertikal di Tunjungan Plaza
Next: Angka yang Salah dan Pertaruhan Marwah

Trending Now

Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati Adi Prayuda Buku Mindful Digital Marketing 1

Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati

12 August 2026
Jelang Pemilihan Ketua KONI NTB, Lalu Wira Sakti Dorong Adu Gagasan dan Fokus Prestasi PON 2028 Lalu Wira Sakti mendorong pemilihan Ketua KONI NTB fokus pada prestasi olahraga dan PON 2028 2

Jelang Pemilihan Ketua KONI NTB, Lalu Wira Sakti Dorong Adu Gagasan dan Fokus Prestasi PON 2028

8 August 2026
Sambut PON 2028, Anak Muda NU NTB Dukung Gubernur Iqbal Pimpin KONI Pauzan Basri menyampaikan dukungan kepada Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal untuk memimpin KONI NTB 3

Sambut PON 2028, Anak Muda NU NTB Dukung Gubernur Iqbal Pimpin KONI

7 August 2026
Mahasiswa Biologi UNIZAR Jalani PKL di Balai Karantina NTB, Perkuat Kompetensi Biosafety Mahasiswa Biologi UNIZAR bersama pimpinan FMIPA dan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan NTB saat penyerahan peserta PKL. 4

Mahasiswa Biologi UNIZAR Jalani PKL di Balai Karantina NTB, Perkuat Kompetensi Biosafety

4 August 2026
KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana 5

KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana

4 August 2026
Dari Rp9 Ribu ke Rp120 Ribu: Apa yang Terjadi di Parkiran Pelabuhan Lembar? Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, NTB 6

Dari Rp9 Ribu ke Rp120 Ribu: Apa yang Terjadi di Parkiran Pelabuhan Lembar?

2 August 2026

Berita Terkait

Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati Adi Prayuda Buku Mindful Digital Marketing

Mindful Digital Marketing: Mengapa Pemasaran Digital Membutuhkan Etika dan Empati

12 August 2026
Dari Rp9 Ribu ke Rp120 Ribu: Apa yang Terjadi di Parkiran Pelabuhan Lembar? Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, NTB

Dari Rp9 Ribu ke Rp120 Ribu: Apa yang Terjadi di Parkiran Pelabuhan Lembar?

2 August 2026
Angka yang Salah dan Pertaruhan Marwah Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Presiden Indonesia ke-8.

Angka yang Salah dan Pertaruhan Marwah

1 August 2026
Ketika Tiga Kedai Kopi Berdiri Vertikal di Tunjungan Plaza Tiga jaringan kedai kopi - Fore Coffee, Excelso, dan Starbucks - tampak berdiri secara vertikal di atrium Tunjungan Plaza, Surabaya, Minggu malam (26/7/2026)

Ketika Tiga Kedai Kopi Berdiri Vertikal di Tunjungan Plaza

27 July 2026
Tring! by Pegadaian: Ketika Tubuh Ikut Memahami Kenaikan Harga Emas Foto emas, diambil dari https://pegadaian.co.id/artikel/emas/

Tring! by Pegadaian: Ketika Tubuh Ikut Memahami Kenaikan Harga Emas

26 July 2026
Sepuluh Kampus Baru, Untuk Menyelesaikan Masalah yang Mana? Foto antrian pelamar kerja, diambil dari: Metrum.co.id

Sepuluh Kampus Baru, Untuk Menyelesaikan Masalah yang Mana?

25 July 2026

Berita Terpopuler

Mafindo NTB Bersama Pesantren Alam Sayang Ibu Lombok Barat Melaksanakan Kegiatan Implementasi AI Ready Asean Bagi Para Pendidik 1

Mafindo NTB Bersama Pesantren Alam Sayang Ibu Lombok Barat Melaksanakan Kegiatan Implementasi AI Ready Asean Bagi Para Pendidik

19 January 2026
Mafindo NTB Bersama PGRI Kota Mataram Melaksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial  – AI Goes to School MAFINDO 2

Mafindo NTB Bersama PGRI Kota Mataram Melaksanakan Kelas Kecerdasan Artifisial  – AI Goes to School MAFINDO

23 October 2025
Bukan Sekadar Bersih-Bersih, KKN UMMAT dan Warga Sesela Perkuat Ketangguhan Desa dari Risiko Bencana 3

Bukan Sekadar Bersih-Bersih, KKN UMMAT dan Warga Sesela Perkuat Ketangguhan Desa dari Risiko Bencana

18 July 2026
Segini Harga Resmi iPhone 15 di Indonesia 4

Segini Harga Resmi iPhone 15 di Indonesia

14 October 2023
KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana 5

KKN 40 UMMAT Bersama BPBD Lombok Barat Bangun Generasi Tangguh melalui Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana

4 August 2026
Jelang Pemilihan Ketua KONI NTB, Lalu Wira Sakti Dorong Adu Gagasan dan Fokus Prestasi PON 2028 Lalu Wira Sakti mendorong pemilihan Ketua KONI NTB fokus pada prestasi olahraga dan PON 2028 6

Jelang Pemilihan Ketua KONI NTB, Lalu Wira Sakti Dorong Adu Gagasan dan Fokus Prestasi PON 2028

8 August 2026
Pendaftaran Nomor Seluler Menggunakan Biometrik, Efektif? 7

Pendaftaran Nomor Seluler Menggunakan Biometrik, Efektif?

7 July 2026

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Politik & Hukum
  • Teknologi

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
Dugaan Penyerobotan Tanah Wakaf di Praya, Kawal NTB: Sertifikat Hak Pakai Diterbitkan Secara Ceroboh! 4

Dugaan Penyerobotan Tanah Wakaf di Praya, Kawal NTB: Sertifikat Hak Pakai Diterbitkan Secara Ceroboh!

5 August 2025
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 5

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 6

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 7

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023

Ads

  • Home
  • Politik & Hukum
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Opini
Copyright © 2023 KilasNusa.com