
Setiap beberapa tahun, selalu ada minuman yang menjadi primadona. Pernah ada masanya Cappuccino Cincau, Thai Tea, dan Es Kepal Milo menjadi buruan. Setelah itu, kopi susu kekinian mengambil alih. Belum lama tren kopi mencapai puncaknya, matcha mulai memenuhi media sosial. Kini, berbagai merek teh modern kembali bermunculan dengan konsep yang menarik. Bahkan, varian rasa seperti pistachio mulai ikut meramaikan persaingan.
Melihat fenomena tersebut, muncul pertanyaan sederhana. Setelah kopi, matcha, dan teh, lalu minuman apa lagi yang akan viral? Jawabannya mungkin bukan nama minuman berikutnya. Yang lebih menarik justru memahami mengapa tren seperti ini terus berulang.
Di era digital, persaingan bisnis makanan dan minuman tidak lagi hanya ditentukan oleh rasa. Produk yang enak memang penting, tetapi belum tentu menjadi pemenang. Yang seringkali menentukan adalah siapa yang mampu mencuri perhatian lebih dahulu.
Haus sebenarnya bisa dipuaskan dengan air putih. Namun, rasa penasaran membutuhkan sesuatu yang baru. Industri memahami hal itu dengan sangat baik. Karena itu, inovasi tidak pernah berhenti. Ketika satu produk mulai dianggap biasa, muncullah produk lain yang menawarkan pengalaman berbeda.
Media sosial membuat siklus tersebut berlangsung jauh lebih cepat. Sebuah minuman yang viral akan segera dipenuhi unggahan, ulasan, hingga antrean panjang. Namun, ketika semua orang mulai terbiasa melihatnya, efek kejutnya perlahan menghilang. Disitulah pelaku usaha kembali mencari ide baru agar percakapan tetap hidup.
Tidak mengherankan jika hari ini kita melihat matcha, besok pistachio, lalu mungkin beberapa bulan lagi muncul bahan atau rasa lain yang belum banyak dikenal. Algoritma media sosial memang selalu memberi ruang bagi sesuatu yang baru.
Namun, apakah masyarakat benar-benar meninggalkan kopi? Belum tentu. Kopi tetap memiliki pasar yang kuat. Demikian pula matcha dan teh. Yang sebenarnya bergeser adalah perhatian publik. Dalam dunia digital, perhatian berpindah jauh lebih cepat daripada loyalitas pelanggan.
Fenomena ini menjadi pelajaran penting bagi pelaku usaha. Mengikuti tren memang dapat mendatangkan pelanggan dalam waktu singkat. Namun, bisnis yang hanya mengejar tren tanpa memiliki identitas biasanya juga akan cepat dilupakan ketika tren berikutnya datang.
Sebaliknya, merek yang bertahan lama justru memiliki karakter yang jelas. Mereka boleh menghadirkan menu baru, tetapi inovasi tersebut tetap memperkuat identitas merek, bukan sekadar ikut-ikutan.
Sebagai konsumen, kita juga perlu lebih sadar terhadap cara perhatian kita bekerja. Tidak sedikit keputusan membeli yang lahir bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena rasa penasaran setelah melihat produk yang sama berulang kali di media sosial.
Yang sedang diperebutkan bukan lagi sekadar lidah konsumen, melainkan perhatian mereka. Minuman hanyalah medianya. Besok mungkin bukan kopi, bukan matcha, dan bukan pula teh yang menjadi tren. Bisa jadi akan muncul nama lain yang hari ini belum kita kenal. Siklus itu akan terus berulang.
Selama manusia masih menyukai kebaruan, dunia bisnis akan selalu menemukan cara untuk mengemas rasa penasaran ke dalam gelas yang berbeda. (*)
