
Apa yang membuat Kopi Gayo, Toraja, Kintamani, atau Flores Bajawa begitu mudah dikenali hingga ke mancanegara? Banyak orang mungkin akan menjawab karena kualitas rasanya. Jawaban itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga belum sepenuhnya benar. Sebab, di berbagai daerah Indonesia, termasuk Lombok, kita dapat menemukan kopi dengan kualitas yang tidak kalah baik. Namun, mengapa nama-namanya belum memiliki gaung yang sama?
Pertanyaan itu muncul ketika saya membaca daftar 10 Kopi Indonesia yang Mendunia yang dipublikasikan oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI). Nama-nama besar seperti Gayo, Toraja, Kintamani, Mandheling, hingga Java Preanger menghiasi daftar tersebut. Sementara itu, Lombok belum menjadi nama yang secara kuat melekat sebagai salah satu origin kopi Indonesia di benak pasar nasional maupun internasional.
Fenomena ini mengajarkan satu hal penting bahwa dunia tidak selalu memilih produk yang paling enak. Dunia lebih sering memilih produk yang memiliki identitas paling kuat. Dalam pemasaran, kualitas memang penting, tetapi kualitas tanpa cerita akan sulit meninggalkan kesan. Sebaliknya, sebuah produk yang memiliki narasi yang konsisten akan lebih mudah diingat, dipercaya, dan akhirnya dipilih oleh konsumen.
Coba kita perhatikan bagaimana Kopi Gayo dipersepsikan. Orang tidak hanya membayangkan secangkir kopi Arabika, tetapi juga dataran tinggi Aceh, petani yang menjaga kualitas, proses budidaya, hingga reputasi yang telah dibangun selama puluhan tahun. Begitu pula dengan Kopi Kintamani yang identik dengan lereng Gunung Batur, sistem Subak Abian, tanah vulkanik, dan citra Bali sebagai destinasi wisata dunia. Nama daerah telah menjadi bagian dari nilai produk yang mereka jual.
Lombok sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah kuat. Gunung Rinjani telah dikenal oleh pendaki dari berbagai negara. Sembalun dan Tetebatu menawarkan bentang alam yang indah sekaligus menjadi kawasan penghasil kopi. Tanah vulkaniknya subur, masyarakatnya memiliki tradisi bertani yang panjang, dan sektor pariwisatanya terus berkembang. Jika dilihat dari sisi sumber daya, Lombok memiliki hampir semua bahan untuk membangun sebuah cerita besar.
Masalahnya, cerita tersebut belum banyak diceritakan secara konsisten. Kita masih sering mempromosikan kopi sebagai produk, tetapi belum menjadikannya sebagai simbol daerah. Padahal, branding tidak dibangun oleh satu iklan yang menarik, melainkan oleh ribuan cerita kecil yang diulang terus-menerus hingga membentuk persepsi publik. Ketika seseorang mendengar kata Gayo, ia langsung teringat Aceh. Ketika mendengar Kintamani, yang terbayang adalah Bali. Hubungan antara produk dan daerah itu telah berhasil dibangun melalui narasi yang berulang.
Di sinilah pentingnya place branding. Produk tidak dapat dipisahkan dari daerah asalnya. Ketika daerah memiliki citra yang kuat, produk ikut memperoleh nilai tambah. Sebaliknya, ketika produk berhasil mendunia, nama daerahnya pun ikut terangkat. Hubungan keduanya saling memperkuat. Karena itu, membangun kopi Lombok sesungguhnya bukan hanya tentang meningkatkan penjualan kopi, tetapi juga tentang memperkuat identitas Lombok di mata dunia.
Upaya tersebut tentu tidak dapat dibebankan hanya kepada petani kopi. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas kopi, pelaku pariwisata, media, hingga para kreator konten. Mereka perlu menceritakan kisah yang sama, yakni bahwa Lombok bukan hanya memiliki pantai yang indah atau Gunung Rinjani yang megah, tetapi juga kopi dengan karakter yang lahir dari tanah vulkanik dan budaya masyarakatnya.
Pariwisata juga dapat menjadi jembatan yang sangat efektif. Bayangkan jika setiap wisatawan yang berkunjung ke Sembalun, Tetebatu, atau Mandalika selalu disuguhi kopi lokal sebagai bagian dari pengalaman mereka. Mereka menikmati kopi di kedai-kedai lokal, mengunjungi kebun kopi, membeli produk sebagai oleh-oleh, lalu membagikan pengalamannya melalui media sosial. Pada titik itulah kopi tidak lagi menjadi sekadar minuman, melainkan media promosi daerah yang bekerja secara alami.
Visi NTB untuk menjadi daerah yang makmur dan mendunia tentu memerlukan lebih banyak produk yang mampu menjadi wajah daerah di pasar global. Kopi merupakan salah satu kandidat terbaik karena mampu menghubungkan pertanian, UMKM, pariwisata, budaya, hingga ekonomi kreatif dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Mungkin kopi Lombok memang tidak kekurangan rasa. Yang masih perlu kita bangun adalah cerita yang membuat dunia ingin mengenalnya. Sebab, pada akhirnya, orang tidak hanya jatuh cinta pada secangkir kopi. Mereka jatuh cinta pada kisah yang mengiringi setiap teguknya. (*)
