Perjalanan Spiritual H. Yahya Huda dan Imam Subawaih, S.H di Manggarai Barat: Merajut Kebersamaan, Menghidupkan Nilai Budaya
Kilas Nusa, Manggarai Barat — Kehangatan, penghormatan, dan nilai kemanusiaan mewarnai perjalanan spiritual dua tokoh inspiratif, H. Yahya Huda dan Imam Subawaih, S.H., saat berkunjung ke Kampung Taal, Desa Waisango, Kecamatan Sano Nggoang pada Selasa (11/11/25). Keduanya hadir dalam rangka menghadiri prosesi penyelesaian adat perkawinan salah satu karyawan H. Yahya, yakni Nikolaus Nabon, yang melangsungkan pernikahan dengan adat khas Manggarai.
Sejak tiba, H. Yahya Huda dan Imam Subawaih disambut dengan kehangatan yang mencerminkan karakter masyarakat Manggarai yang ramah dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Warga serta keluarga besar mempersiapkan penyambutan yang sederhana namun sarat makna, sebagai wujud hormat atas kedatangan tamu dari jauh.
Dalam prosesi adat, penyerahan tiga lembar kain sarung tradisional Manggarai menjadi simbol penerimaan dan pengukuhan hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak. Sarung tersebut tidak sekadar kain, tetapi representasi dari tradisi, leluhur, dan nilai persaudaraan yang mengakar kuat di tanah Manggarai.
Selain itu, disepakati pula mas kawin berupa uang Rp40 juta, seekor kerbau, dan seekor sapi. Ketiganya menjadi bagian dari tata cara adat serta dipergunakan untuk pelaksanaan upacara dan pesta adat yang menyatukan dua keluarga besar. Prosesi adat ini menunjukkan betapa dalamnya filosofi gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat Manggarai hingga kini.
Yahya Huda—dikenal sebagai pengusaha yang memiliki kepedulian mendalam pada masyarakat dan para karyawannya—menganggap perjalanan ini lebih dari sekadar menghadiri sebuah acara adat. Baginya, ini adalah momentum spiritual untuk memahami nilai-nilai lokal, memperkuat hubungan kemanusiaan, dan merawat rasa persaudaraan.
Sementara itu, sosok Imam Subawaih, S.H., advokat yang dikenal rendah hati dan vokal dalam memperjuangkan hak-hak kaum marjinal, turut menegaskan pentingnya memahami budaya sebagai cara untuk membangun keadilan sosial yang berkelanjutan.
“Budaya dan spiritualitas adalah dua pilar yang menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya harus terus dijaga dan dilestarikan,” ujar H. Yahya Huda dalam kesempatan tersebut.
Perjalanan ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh rombongan. Nilai-nilai kebersamaan, empati, serta cinta terhadap budaya lokal menjadi pengingat bahwa spiritualitas tidak selalu berbentuk ritual keagamaan, melainkan juga termanifestasi melalui penghormatan terhadap sesama manusia.
Siaran pers ini disampaikan oleh Lalu Wira Sakti dari Manggarai Barat, 11 November 2025, sebagai dokumentasi atas sebuah perjalanan yang menguatkan pesan bahwa kebudayaan, kemanusiaan, dan spiritualitas adalah fondasi penting dalam merawat keberagaman dan keutuhan bangsa.
