Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Kolaboratif, Informatif, Inovatif

Primary Menu
  • Home
  • Politik & Hukum
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Opini

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

Polemik Maudy Ayunda tentang mindfulness mengingatkan kita pada satu hal penting: sebuah pesan tidak pernah benar-benar bisa dilepaskan dari konteks. Di media sosial, gagasan tentang kesadaran, penerimaan, dan jeda dapat dimaknai sangat berbeda oleh orang dengan pengalaman hidup yang berbeda. Karena itu, mindfulness mungkin bukan tentang bagaimana agar kita tidak terganggu oleh dunia, melainkan bagaimana tetap hadir di tengah dunia yang tidak selalu baik-baik saja tanpa kehilangan kejernihan, kepedulian, dan kemanusiaan.
Adi Prayuda 19 September 2026
Foto Maudy Ayunda, diambil dari: https://amartha.com/blog/

Beberapa hari terakhir, saya mengikuti perbincangan yang cukup ramai mengenai Maudy Ayunda dan kontennya tentang mindfulness. Konten tersebut menuai kritik dari sejumlah netizen karena dianggap kurang sensitif terhadap kondisi orang-orang yang tidak memiliki kemewahan untuk begitu saja mengambil jarak dari berita buruk. Ada yang melihat pesan Maudy sebagai bentuk ajakan menjaga kesehatan mental di tengah derasnya informasi negatif, tetapi ada pula yang menangkapnya sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap mereka yang justru hidupnya secara langsung dipengaruhi oleh persoalan yang sedang diberitakan. Maudy kemudian memberikan penjelasan sekaligus mengakui bahwa ada konteks tentang privilege yang belum cukup ia refleksikan dalam kontennya. Bagi saya, menariknya persoalan ini justru bukan pada pertanyaan siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya tidak sedang ingin membela Maudy, apalagi menghakiminya. Saya hanya ingin melihat fenomena ini dari dua perspektif yang cukup dekat dengan kehidupan saya: sebagai seorang teman Jeda dan sebagai seorang dosen manajemen. Dari dua posisi tersebut, ada satu kata yang menurut saya sangat penting untuk kita bicarakan: konteks.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lupa bahwa sebuah gagasan tidak pernah benar-benar berdiri sendirian, tapi lahir dari konteks tertentu, disampaikan kepada orang tertentu, pada situasi tertentu, dengan tujuan tertentu. Ketika konteks tersebut hilang, maknanya bisa bergeser. Dalam manajemen, misalnya, kita mengenal begitu banyak teori, model, strategi, dan praktik bisnis yang terlihat sangat meyakinkan ketika dibaca di buku. Namun ketika diterapkan begitu saja tanpa memahami karakter organisasi, budaya, sumber daya, kondisi pasar, dan manusia yang ada di dalamnya, strategi yang bagus di satu tempat belum tentu menghasilkan sesuatu yang sama di tempat lain. Karena itu, seorang manajer tidak cukup hanya mengetahui what works, tetapi juga harus memahami when, where, for whom, and why it works. Menurut saya, prinsip yang sama berlaku dalam komunikasi, termasuk ketika kita berbicara tentang mindfulness, kesehatan mental, spiritualitas, maupun gagasan-gagasan tentang kehidupan.

Media sosial membuat persoalan konteks ini menjadi jauh lebih rumit. Kita hidup dalam ruang komunikasi yang memungkinkan sebuah gagasan berpindah dari satu orang ke jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Masalahnya, jutaan orang tersebut tidak memiliki pengalaman hidup, pendidikan, tingkat literasi, kondisi ekonomi, maupun kapasitas refleksi yang sama. Satu orang mungkin membaca sebuah pesan secara filosofis, sementara orang lain membacanya secara literal. Seseorang mungkin memahami sebuah kalimat setelah bertahun-tahun berlatih meditasi, sedangkan orang lain baru pertama kali mendengar istilah mindfulness. Ada yang membacanya sebagai refleksi personal, tetapi ada pula yang membacanya dari pengalaman hidup yang sangat berbeda. Karena itu, semakin luas sebuah pesan disebarkan, semakin besar pula kemungkinan munculnya perbedaan interpretasi. Inilah salah satu paradoks komunikasi digital: semakin mudah sebuah pesan disebarkan, semakin sulit memastikan pesan tersebut dipahami sebagaimana maksud awal pembuatnya.

Saya teringat pada salah satu kalimat yang cukup populer dari Jiddu Krishnamurti: “I don’t mind what happens.” Bagi seseorang yang telah cukup lama mempelajari pemikiran Krishnamurti, kalimat tersebut dapat membuka perenungan yang sangat dalam tentang relasi manusia dengan kenyataan, tentang penerimaan, tentang keterikatan terhadap apa yang seharusnya terjadi, dan tentang bagaimana pikiran menciptakan konflik dengan realitas. Tetapi bayangkan kalimat itu diberikan begitu saja kepada orang yang sama sekali tidak mengenal Krishnamurti, tidak memahami konteks pemikirannya, dan belum pernah berlatih mengamati pikiran maupun emosinya. Sangat mungkin kalimat tersebut dipahami secara sederhana sebagai, “Saya tidak peduli apapun yang terjadi.” Padahal, “tidak peduli” dan “tidak menolak kenyataan” adalah dua hal yang secara psikologis maupun filosofis dapat sangat berbeda. Hal yang sama bisa kita temukan pada banyak kutipan Osho, Eckhart Tolle, Ram Dass, atau para pemikir spiritual lainnya. Satu kalimat yang lahir dari konteks pembicaraan yang panjang dapat terdengar sangat berbeda ketika dipotong, ditempelkan pada sebuah gambar, kemudian disebarkan kepada orang yang tidak memiliki konteks yang sama.

Saya kira kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang mindfulness. Mindfulness bukan sekadar kemampuan untuk merasa tenang, juga bukan ajakan untuk menutup mata terhadap dunia, menghindari persoalan, atau menjadi manusia yang tidak peduli terhadap penderitaan di sekitar kita. Dalam pengertian yang lebih mendasar, mindfulness berkaitan dengan kemampuan menghadirkan kesadaran terhadap pengalaman yang sedang berlangsung – pikiran, emosi, sensasi tubuh, maupun lingkungan – tanpa buru-buru terseret ke dalam reaksi otomatis. Ketika kita menyadari bahwa sebuah berita membuat kita marah, misalnya, kesadaran tersebut tidak otomatis berarti kita harus berhenti peduli terhadap persoalan yang diberitakan. Justru dari kesadaran itu kita mendapatkan kesempatan untuk bertanya: apa yang sedang terjadi di dalam diri saya, mengapa saya bereaksi seperti ini, dan setelah menyadarinya, tindakan seperti apa yang perlu saya ambil? Dengan kata lain, mindfulness seharusnya tidak berhenti pada “saya merasa lebih baik”, tetapi dapat berlanjut menjadi “saya melihat dengan lebih jernih, sehingga saya dapat merespons dengan lebih tepat.”

Namun, di titik ini kita juga perlu mengakui kritik terhadap konten Maudy. Kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dari informasi tidak selalu merupakan pilihan yang tersedia bagi semua orang. Bagi sebagian orang, berita buruk hanyalah berita yang muncul di layar telepon. Tetapi bagi sebagian yang lain, berita tersebut mungkin berkaitan langsung dengan keluarga, pekerjaan, tempat tinggal, keamanan, atau masa depan mereka. Ada perbedaan besar antara seseorang yang merasa lelah karena terlalu banyak mengonsumsi berita dengan seseorang yang tidak bisa berhenti memikirkan berita tersebut karena kehidupannya memang berada di dalam persoalan itu. Di sinilah konsep privilege menjadi relevan. Kemampuan untuk memilih kapan membaca, kapan berhenti, dan kapan mengambil jarak dari sebuah persoalan memang tidak selalu terdistribusi secara merata. Karena itu, kritik terhadap pesan Maudy memiliki konteks yang patut dipahami, sebagaimana niat awal untuk mengajak orang menjaga kesehatan mental juga dapat dipahami. Dua hal tersebut tidak harus saling meniadakan.

Justru menurut saya, di sinilah percakapan tentang mindfulness menjadi semakin menarik. Kita perlu berhati-hati agar mindfulness tidak berubah menjadi resep individual untuk menyelesaikan semua persoalan sosial. Ketika seseorang kehilangan pekerjaan karena persoalan ekonomi, tentu kemampuan mengelola kecemasan dan menjaga kesehatan mental penting. Tetapi mindfulness tidak menggantikan kebutuhan akan pekerjaan. Ketika seseorang terdampak bencana, kemampuan mengelola trauma tentu penting, tetapi ia tetap membutuhkan bantuan nyata, keamanan, tempat tinggal, dan dukungan sosial. Ketika seseorang marah terhadap ketidakadilan, kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa masalahnya adalah ia kurang mampu mengelola emosinya. Bisa jadi kemarahan tersebut justru merupakan respons manusiawi terhadap sesuatu yang memang perlu diperbaiki. Karena itu, saya kira mindfulness perlu ditempatkan secara proporsional: mindfulness dapat membantu kita mengelola cara kita hadir di tengah realitas, tetapi tidak boleh digunakan untuk menghapus realitas itu sendiri.

pasang iklan di sini

Bagi saya pribadi, ini juga menjadi refleksi yang cukup dalam sebagai seorang dosen. Setiap hari saya bertemu mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan, ada yang harus berjuang dengan keterbatasan ekonomi. Ada yang memiliki akses informasi sangat luas, ada yang baru mengenal berbagai konsep ketika duduk di bangku kuliah. Ada mahasiswa yang sangat percaya diri berbicara di kelas, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu panjang sebelum berani mengemukakan pendapat. Bahkan ketika saya menyampaikan satu konsep yang menurut saya sederhana, saya tidak pernah benar-benar dapat memastikan bahwa seluruh mahasiswa menangkapnya dengan cara yang sama. Dari pengalaman itu saya semakin memahami bahwa mengajar bukan hanya soal seberapa baik kita menguasai materi, tetapi juga seberapa baik kita memahami siapa yang menerima materi tersebut. Content tanpa context dapat kehilangan daya didiknya. Gagasan yang baik pun dapat menjadi tidak efektif apabila disampaikan tanpa mempertimbangkan manusia yang ada di hadapan kita.

Hal yang sama berlaku bagi saya ketika mendampingi orang dalam praktik Jeda. Saya bertemu dengan manusia yang datang dengan pengalaman hidup yang sangat beragam. Ada yang datang karena ingin lebih tenang, ada yang sedang menghadapi kehilangan, ada yang sedang berada dalam persimpangan hidup, ada yang ingin memahami dirinya, dan ada pula yang sekadar ingin memiliki ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Karena itu, saya semakin berhati-hati menggunakan istilah-istilah seperti “menerima”, “melepaskan”, “tidak melekat”, atau “tidak perlu memikirkan apa yang terjadi”. Kalimat-kalimat tersebut bisa sangat membantu dalam konteks tertentu, tetapi juga bisa disalahpahami apabila diberikan tanpa penjelasan. Kepada seseorang yang sedang berjuang, “lepaskan” mungkin terdengar seperti “jangan pedulikan”. Kepada seseorang yang sedang marah karena ketidakadilan, “terima” bisa terdengar seperti “pasrah”. Padahal menerima kenyataan tidak selalu berarti menyetujui kenyataan. Melepaskan keterikatan tidak selalu berarti berhenti bertindak. Dan mengambil jeda tidak selalu berarti meninggalkan persoalan.

Mungkin inilah pelajaran yang lebih besar dari polemik Maudy Ayunda. Kita hidup di zaman ketika semua orang dapat menjadi komunikator, tetapi tidak semua orang menyadari betapa kompleksnya pekerjaan mengomunikasikan sebuah gagasan kepada publik yang sangat heterogen. Kita sering hanya bertanya, “Apa maksud saya?” tetapi lupa bertanya, “Bagaimana orang lain mungkin memahami maksud saya?” Dalam komunikasi publik, terutama ketika berbicara tentang hal-hal yang sensitif seperti mental health, spiritualitas, kemiskinan, ketidakadilan, maupun persoalan sosial, pertanyaan kedua tersebut menjadi sangat penting. Empati bukan hanya kemampuan memahami perasaan orang lain, tetapi juga kemampuan membayangkan bagaimana sebuah pesan akan terdengar dari posisi kehidupan yang berbeda dengan posisi kita.

Karena itu saya kira kita juga tidak perlu selalu terjebak dalam pola pikir media sosial yang mengharuskan kita memilih kubu: membela atau menyerang, setuju atau tidak setuju, benar atau salah. Ada kalanya kita dapat mengatakan bahwa sebuah gagasan memiliki niat yang baik, tetapi penyampaiannya masih memiliki ruang untuk diperbaiki. Ada kalanya kritik terhadap sebuah pesan memang valid, tetapi kritik tersebut tidak harus membuat seluruh gagasan yang dibicarakan menjadi tidak berguna. Kita bisa menerima kritik sekaligus mempertahankan bagian yang memang bernilai. Kita bisa memahami niat seseorang sekaligus mengakui dampak yang berbeda dari pesan tersebut. Kedewasaan berpikir, menurut saya, justru muncul ketika kita mampu menampung beberapa kenyataan sekaligus tanpa terburu-buru mereduksinya menjadi hitam dan putih.

Pada akhirnya, saya tidak melihat persoalan ini sebagai pertarungan antara Maudy Ayunda melawan netizen, atau antara mindfulness melawan kepedulian sosial. Justru saya melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar bahwa kesadaran membutuhkan konteks. Kita perlu belajar menjaga diri tanpa menjadi apatis, belajar peduli tanpa menghancurkan diri sendiri, belajar mengambil jarak tanpa kehilangan empati, dan belajar bertindak tanpa selalu terseret oleh reaksi emosional. Jeda bukan berarti tidak peduli. Jeda adalah ruang untuk melihat apa yang sedang terjadi sebelum kita menentukan bagaimana akan meresponsnya. Tetapi setelah jeda, mungkin kita memang perlu kembali hadir ke dunia – dengan mata yang lebih jernih, hati yang lebih lapang, dan tindakan yang lebih tepat.

Sebab mungkin pertanyaan terpenting dari mindfulness bukanlah, “Bagaimana agar saya tidak terganggu oleh dunia?”Melainkan, “Bagaimana saya tetap hadir di tengah dunia yang tidak selalu baik-baik saja, tanpa kehilangan kejernihan, kepedulian, dan kemanusiaan saya?” Dan mungkin, di situlah Jeda menemukan maknanya: bukan sebagai cara untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan sebagai ruang kecil di dalam diri agar kita tidak kehilangan diri ketika berhadapan dengan kenyataan. (*)

Tags: Digital Wellbeing Dosen Empati Jeda Kesehatan Mental Komunikasi Konteks Literasi Digital Maudy Ayunda Media Sosial Meditasi Mindfulness Pendidikan Privilege Self Awareness

Continue Reading

Previous: Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor

Trending Now

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan 1

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

19 September 2026
PT Lombok Jingga Siapkan Green Tourism di Segui Sekaroh, Libatkan Masyarakat Lokal PT Lombok Jingga menghadiri Temu Usaha Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI di Bali 2

PT Lombok Jingga Siapkan Green Tourism di Segui Sekaroh, Libatkan Masyarakat Lokal

17 September 2026
Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor Foto personil band Juicy Juicy, diambil dari situs: https://www.kompas.com/hype/read/2022/01/05/205904766/juicy-luicy-jadi-bagian-dalam-youtube-rewind-2021-lewat-lagu-lantas 3

Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor

12 September 2026
Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo Foto buku Islam Ala Prabowo, diambil dari situs: https://rmol.id/politik/read/2026/09/11/721363/buku-islam-ala-prabowo-bukan-produk-mui 4

Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo

12 September 2026
Gus Dur Lahir, Munir Pergi, dan yang Tersisa untuk Indonesia Ilustrasi Tokoh Gus Dur dan Munir, dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). 5

Gus Dur Lahir, Munir Pergi, dan yang Tersisa untuk Indonesia

7 September 2026
Pelajaran dari Sanca Black: Datang untuk Minum, Pulang Membawa Pelajaran tentang Hidup Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi) 6

Pelajaran dari Sanca Black: Datang untuk Minum, Pulang Membawa Pelajaran tentang Hidup

5 September 2026

Berita Terkait

Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor Foto personil band Juicy Juicy, diambil dari situs: https://www.kompas.com/hype/read/2022/01/05/205904766/juicy-luicy-jadi-bagian-dalam-youtube-rewind-2021-lewat-lagu-lantas

Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor

12 September 2026
Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo Foto buku Islam Ala Prabowo, diambil dari situs: https://rmol.id/politik/read/2026/09/11/721363/buku-islam-ala-prabowo-bukan-produk-mui

Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo

12 September 2026
Gus Dur Lahir, Munir Pergi, dan yang Tersisa untuk Indonesia Ilustrasi Tokoh Gus Dur dan Munir, dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Gus Dur Lahir, Munir Pergi, dan yang Tersisa untuk Indonesia

7 September 2026
Pelajaran dari Sanca Black: Datang untuk Minum, Pulang Membawa Pelajaran tentang Hidup Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi)

Pelajaran dari Sanca Black: Datang untuk Minum, Pulang Membawa Pelajaran tentang Hidup

5 September 2026
Kepala LLDIKTI VIII Pesan Wisudawan UNIZAR: Jangan Berhenti Belajar, Harus Berdampak Kepala LLDIKTI Wilayah VIII memberikan pesan kepada wisudawan UNIZAR pada Wisuda Ke-79 di Mataram

Kepala LLDIKTI VIII Pesan Wisudawan UNIZAR: Jangan Berhenti Belajar, Harus Berdampak

3 September 2026
Road Barrier Rembiga dan Pelajaran Kedewasaan Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR

Road Barrier Rembiga dan Pelajaran Kedewasaan

1 September 2026

Berita Terpopuler

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan 1

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

19 September 2026
Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan 2

Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan

21 September 2023
Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri! 3

Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri!

21 September 2023
Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju! 4

Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju!

21 September 2023
Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024 5

Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024

21 September 2023
Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR 6

Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR

22 September 2023
Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15 7

Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15

22 September 2023

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Politik & Hukum
  • Teknologi

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
Dugaan Penyerobotan Tanah Wakaf di Praya, Kawal NTB: Sertifikat Hak Pakai Diterbitkan Secara Ceroboh! 4

Dugaan Penyerobotan Tanah Wakaf di Praya, Kawal NTB: Sertifikat Hak Pakai Diterbitkan Secara Ceroboh!

5 August 2025
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 5

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 6

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 7

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023

Ads

  • Home
  • Politik & Hukum
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Opini
Copyright © 2023 KilasNusa.com