Kilas Nusa, Mataram – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dinilai telah memainkan peran penting dalam dinamika politik nasional jauh sebelum lahirnya Partai Buruh sebagai kendaraan politik kaum pekerja. Di bawah kepemimpinan Said Iqbal, organisasi buruh tersebut tidak hanya fokus pada perjuangan ketenagakerjaan, tetapi juga aktif mendorong agenda kesejahteraan buruh melalui jalur politik nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Perwakilan Daerah (Perda) KSPI Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Wira Sakti, yang menegaskan bahwa keterlibatan KSPI dalam politik praktis telah berlangsung sejak lama sebagai bagian dari upaya memperjuangkan hak-hak pekerja dan keadilan sosial bagi masyarakat luas.
Menurutnya, pada Pemilihan Presiden 2014 dan 2019, KSPI secara mandiri memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto. Dukungan tersebut didasarkan pada komitmen untuk memperjuangkan berbagai isu strategis yang berkaitan dengan kesejahteraan pekerja, perlindungan tenaga kerja, serta pemerataan keadilan sosial.
“KSPI tidak hanya hadir sebagai organisasi perjuangan buruh di sektor ketenagakerjaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses demokrasi nasional dengan membawa aspirasi pekerja ke ruang-ruang kebijakan publik,” ujar Lalu Wira Sakti.
Ia menjelaskan bahwa dukungan yang diberikan KSPI pada dua momentum Pilpres tersebut tidak berhenti pada deklarasi politik semata. Organisasi buruh terbesar di Indonesia itu melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari konsolidasi nasional, pendidikan politik bagi anggota, hingga mobilisasi gerakan buruh di berbagai kawasan industri.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesadaran politik pekerja sekaligus memastikan aspirasi buruh dapat tersampaikan secara lebih efektif dalam proses pembangunan nasional.
KSPI juga aktif membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada pekerja, termasuk peningkatan kesejahteraan, perlindungan hak-hak normatif, dan penciptaan lapangan kerja yang layak.
Salah satu momentum bersejarah dalam perjalanan gerakan buruh Indonesia adalah aksi Long March Bandung–Jakarta yang mengusung platform SEPULTURA (Sepuluh Tuntutan Buruh dan Rakyat).
Gerakan tersebut menjadi simbol kuat perjuangan kaum pekerja dalam menyuarakan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan kesejahteraan, perlindungan tenaga kerja, jaminan sosial, serta keadilan ekonomi bagi masyarakat.
Aksi tersebut tidak hanya mendapat perhatian dari kalangan pekerja, tetapi juga menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah gerakan sosial dan politik Indonesia. Melalui platform SEPULTURA, buruh berupaya mendorong pemerintah dan pemangku kebijakan agar lebih memperhatikan kepentingan rakyat kecil dalam setiap kebijakan pembangunan.
Lalu Wira Sakti menilai perjalanan panjang KSPI membuktikan bahwa gerakan buruh Indonesia bukan hanya sekadar kekuatan sosial, melainkan telah berkembang menjadi kekuatan politik yang mampu memengaruhi arah kebijakan nasional.
Menurutnya, kiprah KSPI selama bertahun-tahun menjadi fondasi penting bagi lahirnya Partai Buruh sebagai wadah politik yang secara khusus memperjuangkan aspirasi pekerja di Indonesia.
“Perjalanan ini menunjukkan bahwa kaum buruh memiliki kapasitas besar untuk berkontribusi dalam pembangunan demokrasi dan memperjuangkan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pengalaman panjang KSPI dalam mengorganisasi gerakan pekerja, melakukan advokasi kebijakan, dan membangun kesadaran politik menjadi modal penting dalam memperkuat posisi buruh dalam sistem demokrasi Indonesia.
Dengan rekam jejak tersebut, KSPI terus berkomitmen untuk mengawal berbagai isu ketenagakerjaan dan memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada pekerja, demi mewujudkan kesejahteraan, keadilan sosial, dan pembangunan nasional yang inklusif.
