
Ada satu pemandangan yang hampir selalu saya temukan ketika masuk ke ruang ATM. Di dekat mesin tersedia tempat sampah, tetapi beberapa lembar struk justru tergeletak di lantai atau diletakkan begitu saja di atas mesin.
Jarak antara struk dan tempat sampah paling hanya beberapa sentimeter saja, tidak sampai satu meter.
Yang dibutuhkan bukan tenaga besar, bukan pula biaya mahal. Hanya kemauan memindahkan selembar kertas kecil ke tempat yang semestinya.
Fenomena sederhana ini membuat saya berpikir. Mungkin persoalan lingkungan bukan selalu tentang kurangnya teknologi, minimnya anggaran, atau lemahnya regulasi. Bisa jadi, persoalannya justru berawal dari sesuatu yang jauh lebih mendasar: perilaku manusia.
Saya bukan ahli lingkungan. Pengetahuan saya tentang pengelolaan sampah tentu masih terbatas. Namun, saya selalu lakukan satu kebiasaan sederhana ini. Jika tidak menemukan tempat sampah, bungkus permen saya simpan dulu di saku atau tas. Saat berkendara, saya tidak pernah membuang sampah plastik keluar jendela mobil ataupun dari atas motor.
Justru karena merasa masih terus belajar, saya sering menahan diri untuk terlalu keras mengkritik kebijakan pemerintah mengenai persoalan sampah. Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan sistem pengelolaan lingkungan yang baik. Namun, saya juga bertanya kepada diri sendiri: sudahkah saya menyelesaikan tanggung jawab yang paling sederhana?
Kalau meletakkan struk ATM ke dalam tempat sampah saja masih sering gagal, mungkin kita memang masih memiliki pekerjaan rumah yang belum selesai.
Dalam ilmu marketing, ada satu hal yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira marketing identik dengan menjual produk atau membuat iklan yang menarik. Padahal, salah satu tujuan utama marketing modern adalah memengaruhi dan membentuk perilaku manusia.
Mengapa seseorang memilih satu merek dibanding merek lain? Mengapa ada orang yang disiplin membawa tas belanja sendiri sementara yang lain tetap memilih kantong plastik? Mengapa sebagian konsumen rela membayar lebih untuk produk ramah lingkungan, sedangkan sebagian lainnya tidak peduli?
Semua pertanyaan itu bermuara pada satu kata: behavior. Perilaku.
Karena itu, perusahaan-perusahaan besar tidak hanya berlomba menciptakan produk yang baik. Mereka juga berusaha membangun kebiasaan baru. Mereka memahami bahwa keputusan manusia seringnya tidak lahir dari logika semata, tetapi dari rutinitas yang dilakukan berulang-ulang.
Persoalan sampah sesungguhnya juga demikian.
Lingkungan memang memengaruhi perilaku. Tempat sampah yang mudah dijangkau, desain ruang yang baik, hingga aturan yang jelas akan membantu orang bertindak benar. Namun, semua itu tetap membutuhkan satu unsur yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun, yaitu kesadaran.
Dalam praktik mindfulness, kesadaran berarti hadir sepenuhnya pada tindakan yang sedang dilakukan. Tangan tidak bergerak secara otomatis. Pikiran tidak berjalan tanpa arah. Setiap tindakan memiliki perhatian.
Termasuk ketika memegang selembar struk ATM.
Saya sering membayangkan kawanan bebek yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Yang mereka tinggalkan hanyalah kotoran yang pada akhirnya kembali menjadi bagian dari siklus alam. Sementara manusia, makhluk yang mengaku paling cerdas, seringkali meninggalkan botol plastik, bungkus makanan, gelas sekali pakai, dan berbagai jenis sampah yang akan bertahan jauh lebih lama daripada kita sendiri.
Ironisnya, semakin maju peradaban manusia, semakin panjang pula jejak sampah yang ditinggalkannya.
Mungkin perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari program nasional atau investasi bernilai triliunan rupiah. Mungkin perubahan itu dimulai dari kebiasaan yang tampak remeh.
Memasukkan struk ATM ke tempat sampah bila tidak digunakan. Mengantongi bungkus permen sampai menemukan tempat sampah. Tidak melempar plastik atau tisu dari jendela kendaraan.
Karena sebelum marketing berhasil mengubah perilaku konsumen, sebelum pemerintah berhasil membangun budaya bersih, dan sebelum teknologi mampu menyelesaikan persoalan lingkungan, semuanya tetap bergantung pada keputusan sederhana yang dibuat oleh satu orang.
Saya. Anda. Dan keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. (*)
