
Inspirasi tentang pemasaran ternyata tidak selalu lahir dari ruang seminar, jurnal ilmiah, atau buku-buku bisnis. Kadang, pelajaran yang paling membekas justru datang dari pengalaman sehari-hari yang tampak biasa.
Suatu sore di sebuah kedai kopi di Jalan Selaparang, Kota Mataram, saya hanya berniat menikmati seporsi mie. Pilihan pada buku menu cukup sederhana: mie goreng atau mie kuah. Namun, entah mengapa ingatan saya melayang ke Yogyakarta, tempat saya pernah menikmati semangkuk mie nyemek.
Mie nyemek memiliki karakter yang unik. Ia bukan mie goreng, tetapi juga bukan mie kuah. Kuahnya hanya sedikit, sekadar menjaga bumbu tetap menyelimuti setiap helai mie tanpa membuat cita rasanya tenggelam. Ada keseimbangan yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dinikmati.
Karena menu tersebut tidak tersedia, saya mencoba bertanya kepada kasir.
“Apakah bisa dibuatkan mie nyemek?”
Kasir tidak langsung menjawab. Ia masuk ke dapur untuk menanyakan kemungkinan tersebut kepada bagian yang memasak. Tak lama kemudian ia kembali dengan jawaban sederhana.
“Bisa, Pak.”
Beberapa menit kemudian pesanan itu benar-benar hadir di meja saya.
Yang saya nikmati ternyata bukan hanya rasa makanannya. Lebih dari itu, saya merasakan adanya fleksibilitas dalam pelayanan. Permintaan pelanggan tidak langsung ditolak hanya karena tidak tercantum dalam daftar menu. Mereka bersedia mendengarkan, mempertimbangkan, lalu mencari solusi selama masih memungkinkan.
Pengalaman sederhana itulah yang kemudian mengingatkan saya pada esensi pemasaran.
Sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Al-Azhar sekaligus pengembang praktik meditasi yang saya namakan Jeda, saya cukup sering merefleksikan bagaimana pemasaran berkembang di era digital. Dalam buku Mindful Marketing: Etika, Empati, dan Keberlanjutan dalam Bisnis Online, saya menawarkan pandangan bahwa pemasaran seharusnya dipahami sebagai proses membangun hubungan yang bermakna, bukan sekadar mendorong terjadinya transaksi.
Persoalannya, praktik pemasaran saat ini sering bergerak ke dua sisi yang sama-sama kurang ideal.
Sebagian pelaku usaha terlalu agresif. Promosi hadir hampir di setiap sudut kehidupan pelanggan. Notifikasi datang tanpa henti, iklan terus bermunculan, diskon silih berganti, hingga setiap interaksi terasa diarahkan untuk membeli. Akibatnya, pelanggan bukan semakin dekat, melainkan justru mengalami kelelahan.
Di sisi lain, tidak sedikit pelaku usaha yang justru terlalu diam. Mereka memiliki produk yang baik, layanan yang memuaskan, bahkan kualitas yang pantas dibanggakan. Namun mereka enggan mengomunikasikan nilai yang dimiliki. Mereka berharap kualitas akan berbicara dengan sendirinya, padahal pelanggan tidak selalu mengetahui apa yang tidak pernah disampaikan.
Bagi saya, pemasaran yang sehat berada di antara kedua ekstrem tersebut. Persis seperti mie nyemek.
Promosi tetap dilakukan, tetapi tidak berlebihan. Komunikasi tetap dibangun, tetapi tidak mendominasi. Produk tetap diperkenalkan, namun tetap memberi ruang bagi pelanggan untuk mengambil keputusan secara nyaman.
Pandangan tersebut selaras dengan konsep relationship marketing, yaitu pendekatan pemasaran yang berorientasi pada hubungan jangka panjang. Kepercayaan, kepuasan, dan komitmen menjadi fondasi utama, bukan sekadar mengejar penjualan sesaat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelanggan yang merasa dihargai cenderung lebih loyal, lebih sering kembali, bahkan dengan sukarela merekomendasikan sebuah bisnis kepada orang lain.
Di sinilah saya melihat pentingnya pendekatan mindful marketing. Kesadaran dalam pemasaran bukan berarti pasif, apalagi anti terhadap aktivitas menjual. Sebaliknya, mindfulness mengajarkan kepekaan untuk mengetahui kapan saat yang tepat menawarkan solusi, kapan lebih baik mendengarkan kebutuhan pelanggan, dan kapan cukup hadir sebagai manusia yang ingin memberikan manfaat kepada manusia lainnya.
Saya juga teringat pada salah satu gagasan yang saya peroleh ketika membaca buku Ketjap Nomer Doea karya I Putu Surya Negara bertahun-tahun lalu. Salah satu pelajaran yang saya tangkap adalah bahwa keberhasilan bisnis pada akhirnya bertumpu pada kualitas hubungan antarmanusia. Kepercayaan tidak dibangun melalui teknik persuasi yang rumit, melainkan melalui interaksi yang tulus, jujur, dan saling menghargai.
Barangkali itulah yang membuat pengalaman memesan mie nyemek terasa berkesan. Menu tersebut sebenarnya tidak tercantum di daftar, tetapi ruang dialog membuatnya menjadi mungkin. Saya pulang bukan hanya dalam keadaan kenyang, melainkan juga membawa pengalaman yang menyenangkan sebagai pelanggan.
Boleh jadi, jika suatu hari nanti saya kembali ke kawasan tersebut, saya akan memilih datang ke tempat yang sama. Bukan semata-mata karena rasa mienya, melainkan karena pengalaman hubungan yang pernah saya rasakan.
Di tengah dunia bisnis yang semakin dipenuhi algoritma, kecerdasan buatan, dan otomatisasi, mungkin kita perlu mengingat kembali bahwa pelanggan tetaplah manusia. Mereka tidak selalu mencari promosi terbesar atau iklan yang paling ramai. Sering kali mereka hanya ingin didengar, dipahami, dan diperlakukan dengan baik.
Mungkin karena itulah, filosofi mie nyemek terasa begitu relevan. Tidak berlebihan hingga menenggelamkan rasa, tetapi juga tidak terlalu minim hingga kehilangan kehangatan. Pas, seimbang, dan secukupnya.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pemasaran bukan diukur dari berapa banyak orang membeli hari ini, melainkan dari berapa banyak orang yang dengan sukarela ingin kembali esok hari karena merasa dihargai. (*)
