Narasumber Disperindag NTB Bekali Mahasiswa UNIZAR Strategi Branding, Kemasan, dan Digital Marketing UMKM Desa
Kilas Nusa, Mataram – Upaya memperkuat kapasitas mahasiswa dalam mendampingi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa terus dilakukan Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR). Salah satunya melalui menghadirkan Zahrul Martayadi, S.STP., M.M dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai narasumber pada Pembekalan Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Ke-43.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Teater Ahmad Firdaus Sukmono UNIZAR, Selasa (14/7/2026), tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum diterjunkan ke 12 desa di Kabupaten Lombok Barat.
Pada kesempatan itu, Zahrul menyampaikan tiga materi utama yang saling berkaitan, yakni kemasan produk, labeling dan branding, serta digital marketing, sebagai strategi meningkatkan daya saing UMKM desa di era digital. Materi yang diberikan mengacu pada prinsip pengembangan produk, pemasaran digital, dan regulasi pelabelan pangan olahan.
Disperindag NTB Bekali Mahasiswa KKN UNIZAR
Menurut Zahrul, mahasiswa KKN memiliki peran strategis sebagai pendamping masyarakat dalam membantu UMKM meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas akses pasar.
Ia menekankan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya berhenti pada proses produksi, tetapi juga harus memperhatikan identitas produk, kualitas kemasan, strategi pemasaran, hingga legalitas usaha agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Materi tersebut dinilai sangat relevan dengan tema KKN-PPM Ke-43 UNIZAR, yakni “Transformasi Pariwisata dan UMKM Desa Berbasis Inovasi dan Digitalisasi Berkelanjutan.”
Tiga Materi Strategis untuk Penguatan UMKM Desa
Dalam sesi pertama, Zahrul menjelaskan bahwa kemasan bukan sekadar pembungkus produk, melainkan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen sekaligus sarana promosi.
Ia menerangkan bahwa kemasan memiliki berbagai fungsi, mulai dari melindungi produk, memperpanjang masa simpan, memudahkan distribusi, meningkatkan efisiensi penyimpanan, hingga menjadi identitas produk yang membedakannya dari produk sejenis. Kemasan juga harus dirancang menarik, sesuai target pasar, mudah ditampilkan di etalase, dan mampu “menjual dirinya sendiri”.
Selain itu, mahasiswa juga dibekali mengenai pemilihan material kemasan yang tepat, seperti plastik food grade, karton, kaca, logam, maupun bahan ramah lingkungan yang disesuaikan dengan karakteristik produk.
Branding dan Kemasan Jadi Penentu Daya Saing Produk
Zahrul menjelaskan bahwa label produk tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan konsumen karena memuat informasi penting, seperti nama produk, komposisi, berat bersih, nama produsen, tanggal produksi, masa kedaluwarsa, nomor izin edar, hingga informasi halal apabila dipersyaratkan. Ketentuan tersebut mengacu pada regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Ia juga menegaskan bahwa branding merupakan proses membangun citra dan persepsi positif terhadap suatu produk.
Menurutnya, sebuah merek yang kuat mampu meningkatkan kepercayaan konsumen, memperkuat citra usaha, meningkatkan nilai jual produk, serta mempermudah proses pemasaran.
Untuk membangun branding yang baik, pelaku UMKM harus memahami target pasar, memiliki produk yang berkualitas, menggunakan logo yang mudah diingat, kemasan yang menarik, serta konsisten dalam melakukan komunikasi pemasaran.
Digital Marketing Membuka Pasar Lebih Luas
Pada materi ketiga, Zahrul menyoroti pentingnya transformasi digital dalam pemasaran UMKM.
Ia menjelaskan bahwa perubahan perilaku konsumen membuat pemasaran digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Mahasiswa diperkenalkan pada strategi digital marketing, mulai dari menentukan target pasar berdasarkan aspek geografis, demografi, hingga psikografi, membangun identitas merek, memilih media sosial yang sesuai dengan karakter konsumen, serta menyusun konten kreatif dan copywriting yang menarik.
Selain itu, peserta juga dikenalkan pada konsep WOW Factor Product, yaitu menciptakan produk yang mudah diingat (memorable), menarik untuk dibicarakan (talkable), layak dibagikan di media sosial (sosmedable), berpotensi viral, dan mampu meningkatkan omzet usaha.
Menurutnya, media sosial memberikan banyak keuntungan bagi UMKM karena mampu menjangkau pasar lebih luas, membangun kepercayaan pelanggan, meningkatkan brand awareness, serta menekan biaya promosi dibandingkan media konvensional.
Mahasiswa Diharapkan Menjadi Pendamping UMKM Desa
Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa KKN-PPM UNIZAR diharapkan tidak hanya melaksanakan program kerja berbasis administrasi, tetapi juga mampu menjadi pendamping UMKM dalam meningkatkan kualitas produk, memperbaiki desain kemasan, menyusun label sesuai ketentuan, membangun identitas merek, hingga memanfaatkan pemasaran digital.
Bekal yang diberikan Disperindag Provinsi NTB ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mendorong lahirnya UMKM desa yang lebih inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki daya saing di tingkat regional maupun nasional.
