
Setiap bangsa membutuhkan mimpi besar. Indonesia memiliki Indonesia Emas 2045 sebagai arah pembangunan menuju negara yang maju, berdaya saing, dan sejahtera. Kata emas dipilih karena menggambarkan sesuatu yang bernilai tinggi, sesuatu yang layak diperjuangkan oleh seluruh anak bangsa.
Namun, kehidupan kadangkala menghadirkan ironi yang sulit diabaikan.
Di saat masyarakat sedang diajak membayangkan Indonesia Emas, ruang-ruang pemberitaan justru dipenuhi kabar mengenai penyitaan uang miliaran rupiah dan 74 kilogram emas dalam perkara dugaan korupsi. Jika dihitung menggunakan harga emas saat ini sekitar Rp2,65 juta per gram, nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp196 miliar.
Dua-duanya berbicara tentang emas. Yang satu adalah emas sebagai cita-cita. Yang satunya lagi adalah emas yang menjadi barang bukti.
Tentu keduanya tidak bisa dicampuradukkan. Proses hukum harus tetap dihormati dan asas praduga tak bersalah wajib dijunjung tinggi. Namun, ironi tersebut menghadirkan ruang refleksi yang penting: menuju Indonesia Emas ternyata bukan hanya soal mengejar angka pertumbuhan ekonomi atau membangun infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga integritas.
Dalam dunia pemasaran, saya belajar bahwa membangun kepercayaan jauh lebih sulit daripada membangun popularitas. Sebuah merek dapat dikenal oleh banyak orang melalui iklan, tetapi hanya akan dipercaya apabila perilakunya sesuai dengan apa yang dijanjikan.
Begitu pula sebuah negara.
Visi Indonesia Emas adalah janji bersama kepada seluruh rakyat. Janji bahwa kehidupan akan semakin baik, pelayanan publik semakin berkualitas, kesempatan semakin terbuka, dan keadilan semakin dirasakan.
Namun, dalam mindful marketing, sebuah janji tidak pernah cukup hanya untuk didengar. Janji harus dirasakan.
Kepercayaan publik lahir bukan dari banyaknya slogan yang dipasang, melainkan dari pengalaman masyarakat ketika berhadapan dengan negara. Saat mengurus pelayanan tanpa dipersulit. Saat melihat hukum berlaku sama bagi semua orang. Saat jabatan dijalankan sebagai amanah, bukan sebagai privilese.
Disanalah letak tantangan terbesar Indonesia Emas.
Kita mungkin mampu membangun gedung yang lebih tinggi, jalan yang lebih panjang, atau teknologi yang lebih canggih. Namun, membangun kepercayaan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit: konsistensi.
Dalam mindful marketing, ada istilah trust gap, yaitu jarak antara apa yang dijanjikan dengan apa yang dirasakan. Semakin kecil jarak itu, semakin kuat kepercayaan. Sebaliknya, jika masyarakat terus mendengar narasi yang indah tetapi berkali-kali disuguhi kenyataan yang bertolak belakang, maka kepercayaan perlahan berubah menjadi sinisme.
Karena itu, setiap perkara dugaan korupsi yang terungkap sesungguhnya bukan hanya persoalan hukum, tapi juga menjadi pengingat bahwa pekerjaan membangun integritas belum selesai.
Harapan masyarakat tentu sederhana, yakni agar seluruh proses berlangsung secara profesional, transparan, dan memberikan rasa keadilan. Kepercayaan kepada negara justru akan tumbuh ketika hukum mampu berdiri tegak tanpa membedakan siapapun.
Mindfulness mengajarkan kita untuk tidak larut dalam euforia, tetapi juga tidak tenggelam dalam pesimisme. Kita melihat kenyataan apa adanya, lalu memilih untuk bertindak lebih baik.
Indonesia Emas, untuk saling menguatkan, bukanlah tujuan yang mustahil, tetapi juga bukan sesuatu yang akan lahir hanya karena sering diucapkan. Membutuhkan karakter, keteladanan, dan keberanian untuk terus membersihkan diri dari praktik-praktik yang menggerus kepercayaan publik.
Kita, yang ingin Indonesia maju, rasanya akan sama-sama percaya bahwa bangsa yang benar-benar emas bukanlah bangsa yang memiliki cadangan emas terbesar atau menyita emas dalam jumlah fantastis. Bangsa yang benar-benar emas adalah bangsa yang menjadikan kejujuran sebagai budaya, integritas sebagai kebiasaan, dan kepercayaan sebagai kekayaan yang paling berharga.
Semoga, ketika tahun 2045 benar-benar tiba, masyarakat tidak lagi mengingat Indonesia karena berita tentang kilogram emas yang disita, tetapi karena keberhasilannya menghadirkan pemerintahan yang dipercaya dan kesejahteraan yang dirasakan oleh seluruh rakyat. (*)
