
Belakangan ini saya jadi ikut-ikutan menonton serial Terikat Janji. Bukan karena sengaja mengikuti sinetron. Penyebabnya sederhana, remote televisi di rumah sudah “dikuasai” istri. Daripada sibuk protes, akhirnya saya ikut menikmati ceritanya.
Dan ternyata, cukup seru.
Salah satu tokoh yang paling menarik perhatian saya adalah Sena, diperankan Arya Saloka. Dalam serial itu, Sena digambarkan sebagai polisi yang menyamar menjadi pedagang ketoprak demi mengungkap sebuah kasus. Di sisi lain, ia juga harus berpura-pura menjadi pacar Davina, diperankan oleh Asha Assuncao, putri seorang pemilik perusahaan Kusuma Food.
Namun, yang membuat saya berpikir bukanlah alur ceritanya, melainkan bagaimana sosok polisi digambarkan.
Sena dan rekan-rekan polisinya tampil sebagai aparat yang ramah, jujur, berani, sulit disuap, dan selalu mengutamakan kepentingan masyarakat. Ditambah lagi, karakter tokoh utama itu dimainkan oleh Arya Saloka yang memang memiliki daya tarik tersendiri di mata banyak penonton.
Saya kemudian teringat pada satu konsep dalam dunia marketing, yaitu brand image.
Brand image adalah gambaran atau kesan yang muncul di benak seseorang ketika mendengar nama sebuah merek, organisasi, atau institusi. Menariknya, kesan itu tidak selalu dibentuk melalui iklan. Seringkali justru lahir dari cerita yang terus-menerus kita lihat.
Cerita memiliki kekuatan yang tidak dimiliki data.
Orang mungkin lupa angka-angka, tetapi mereka mengingat tokohnya. Mereka mungkin tidak hafal slogan sebuah institusi, tetapi mereka ingat bagaimana seorang tokoh bertindak dalam sebuah cerita.
Itulah mengapa film, serial televisi, bahkan novel sering menjadi media yang sangat efektif membangun persepsi.
Bukan berarti satu karakter fiksi bisa mengubah seluruh pandangan masyarakat terhadap kepolisian. Persepsi publik tetap dibentuk oleh pengalaman nyata, pemberitaan media, dan interaksi langsung dengan aparat di lapangan.
Namun, karakter seperti Sena dapat menanamkan satu asosiasi positif di benak penonton. Ketika orang membayangkan polisi, bisa jadi yang pertama muncul adalah sosok yang mengayomi, membantu, dan melayani.
Dalam dunia pemasaran, itulah kekuatan sebuah cerita.
Di sinilah saya melihat pentingnya mindful marketing. Marketing yang baik bukan sekadar membuat orang memiliki harapan yang indah, tetapi juga memastikan bahwa harapan itu bertemu dengan kenyataan.
Cerita memang mampu membangun citra, tetapi hanya perilaku nyata yang mampu mempertahankannya.
Karena ujung-ujungnya, masyarakat tidak akan menilai sebuah institusi hanya dari apa yang mereka tonton di televisi. Mereka akan menilainya dari pengalaman yang mereka rasakan sendiri.
Jika cerita dan kenyataan berjalan beriringan, kepercayaan akan tumbuh. Namun, jika keduanya saling bertolak belakang, maka sebaik apapun ceritanya, citra itu akan perlahan memudar.
Dan mungkin, itulah pelajaran marketing paling menarik yang saya dapatkan dari sebuah serial yang awalnya saya tonton hanya karena kalah berebut remote televisi dengan istri. (*)
