Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Kolaboratif, Informatif, Inovatif

Primary Menu
  • Home
  • Politik & Hukum
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Opini

Senggigi dan Cerita yang Perlahan Memudar

Adi Prayuda 12 July 2026
Foto Pantai Senggigi yang diambil dari situs: https://www.agoda.com/id-id/travel-guides/indonesia/lombok/unveiling-senggigi-beach-lomboks-ultimate-coastal-escape-and-must-see-attractions/

Saya masih ingat betul bagaimana rasanya bermain di Pantai Senggigi ketika masih duduk di bangku SMP dan SMA. Ombaknya tenang, air lautnya jernih, dan matahari sore selalu terasa istimewa. Ketika itu, pergi ke Senggigi bukan sekadar rekreasi. Ada rasa bangga karena kami memiliki pantai yang menjadi ikon Pulau Lombok.

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, Senggigi adalah wajah pariwisata Lombok. Hampir setiap tamu dari luar daerah diajak ke sana. Hotel-hotel berjejer di sepanjang pantai, restoran dipenuhi wisatawan, dan jalanan Senggigi menjadi denyut utama industri pariwisata di Pulau Seribu Masjid ini.

Hari ini, suasananya terasa berbeda. Ketika orang menyebut Lombok, yang lebih sering muncul justru Mandalika. Orang berbicara tentang MotoGP, GT World Challenge Asia, ajang-ajang lari internasional, Pantai Tanjung Aan, Bukit Merese, konser musik, hingga berbagai festival yang hampir setiap tahun memenuhi lini masa media sosial.

Sementara Senggigi perlahan menghilang dari percakapan. Padahal, pantainya masih sama indahnya. Sunset-nya masih memukau. Hotel-hotel masih berdiri menghadap laut. Lalu, apa yang sebenarnya berubah?

Menurut saya, yang perlahan memudar bukan pantainya. Yang memudar adalah cerita tentang Senggigi.

Dalam dunia marketing, ada satu prinsip sederhana: orang tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita. Sebuah destinasi wisata tidak hanya menjual pasir putih dan laut biru, tapi yang lebih utama adalah menjual pengalaman, emosi, dan alasan mengapa seseorang ingin datang, memotret, lalu menceritakannya kepada orang lain.

Senggigi pernah memiliki cerita itu. Senggigi pernah menjadi wajah Lombok. Namun, cerita yang tidak terus diperbarui lambat laun akan kalah oleh cerita baru yang terus diproduksi. Kegelisahan ini ternyata tidak hanya lahir dari nostalgia. Data juga menunjukkan gejala yang sama.

Penelitian Sulastri Rahayu Dewi dan Muhammad Firmansyah (2026) yang menganalisis dampak pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menggunakan data Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lombok Barat mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Pada tahun 2017 jumlah kunjungan mencapai 724.845 wisatawan, turun menjadi 379.493 pada 2018, sempat naik menjadi 428.039 pada 2019, kemudian anjlok menjadi 141.245 pada 2020 akibat pandemi. Hingga tahun 2023, jumlah kunjungan memang mulai pulih menjadi 320.658 wisatawan, tetapi angka tersebut masih jauh di bawah capaian tahun 2017. 

Data tersebut memang merupakan data Kabupaten Lombok Barat secara keseluruhan. Namun, sebagai destinasi unggulan di wilayah tersebut, Senggigi tentu menjadi bagian penting dari dinamika tersebut.

Lebih spesifik lagi, penelitian lain yang mengutip Satu Data Pariwisata NTB (2021) menunjukkan bahwa kawasan wisata Senggigi mengalami penurunan kunjungan yang sangat tajam ketika pandemi. Pada tahun 2019 tercatat 391.412 wisatawan, terdiri atas 211.646 wisatawan mancanegara dan 179.766 wisatawan domestik. Setahun kemudian, jumlah itu turun menjadi hanya 125.437 wisatawan, terdiri atas 31.927 wisatawan mancanegara dan 93.510 wisatawan domestik. Dalam satu tahun saja, Senggigi kehilangan sekitar 265.975 kunjungan wisatawan.

Memang, pandemi menjadi penyebab utama penurunan tersebut. Namun, pandemi tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa setelah kondisi mulai pulih, Senggigi belum kembali menjadi pusat perhatian seperti dahulu.

Di sisi lain, kawasan Mandalika justru memperoleh momentum baru. Pembangunan infrastruktur, status sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta penyelenggaraan event internasional membuat Mandalika terus hadir dalam pemberitaan media. MotoGP, GT World Challenge Asia, festival budaya, triathlon, hingga berbagai ajang lari menciptakan ribuan foto, video, berita, dan unggahan media sosial yang terus memperkuat citranya sebagai destinasi wisata kelas dunia. 

pasang iklan di sini

Saya tidak sedang mengatakan bahwa Mandalika adalah penyebab meredupnya Senggigi. Kesimpulan seperti itu justru terlalu sederhana. Banyak faktor lain yang ikut berperan, mulai dari dampak gempa 2018, pandemi COVID-19, perubahan perilaku wisatawan, hingga transformasi pemasaran digital.

Namun ada satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari Mandalika: Terus ada cerita baru tentang Mandalika!

Dalam marketing, sebuah brand tidak selalu kalah karena kualitas produknya menurun. Seringkali sebuah brand kehilangan tempat karena berhenti relevan di benak konsumennya. Brand kehilangan top of mind.

Hari ini, ketika seseorang ditanya tentang destinasi wisata di Lombok, jawaban pertama yang muncul di kepalanya mungkin bukan lagi Senggigi. Bukan karena Senggigi menjadi jelek. Melainkan karena destinasi lain lebih sering hadir dalam percakapan publik.

Menariknya, penelitian tentang revitalisasi Pasar Seni Senggigi juga sampai pada kesimpulan yang senada. Kawasan yang dahulu menjadi ikon pariwisata NTB dinilai mulai kehilangan daya tarik akibat fasilitas yang kurang terawat, minimnya atraksi budaya yang rutin, serta lemahnya promosi digital. 

Di sinilah saya merasa bahwa Senggigi sebenarnya tidak membutuhkan pantai baru. Yang dibutuhkan adalah cerita baru.

Bayangkan jika sepanjang tahun ada Festival Sunset Senggigi, pertunjukan musik mingguan di tepi pantai, festival kuliner pesisir, lomba fotografi internasional, pameran seni, atau ajang lari yang menjadikan Senggigi sebagai panggung utamanya.

Setiap kegiatan akan menghasilkan ribuan foto. Ribuan video. Ribuan unggahan media sosial. Dan yang paling penting, ribuan cerita. Karena sesungguhnya pariwisata hidup dari cerita.

Sebagai orang yang ber-KTP Lombok, saya tentu berharap Senggigi kembali ramai. Namun, keramaian itu tidak cukup dibangun hanya dengan nostalgia. Generasi-Z tidak memiliki kenangan masa kecil yang sama dengan generasi saya. Mereka membutuhkan alasan baru untuk datang.

Dan alasan itu harus diciptakan.

Marketing mengajarkan bahwa perhatian adalah mata uang paling berharga. Ketika sebuah destinasi berhenti menarik perhatian, perlahan ia juga kehilangan tempat di ingatan publik.

Senggigi tidak kehilangan ombaknya. Senggigi tidak kehilangan matahari terbenamnya. Senggigi tidak kehilangan keindahan alamnya. Yang perlahan memudar adalah cerita yang dulu membuat begitu banyak orang jatuh cinta. Mungkin, yang dibutuhkan Senggigi hari ini bukan pantai yang lebih indah, melainkan cerita baru yang membuat dunia kembali membicarakannya. (*)

Continue Reading

Previous: Sena, Polisi, dan Cara Cerita Mengubah Persepsi

Trending Now

Senggigi dan Cerita yang Perlahan Memudar Pantai Senggigi 1

Senggigi dan Cerita yang Perlahan Memudar

12 July 2026
Sena, Polisi, dan Cara Cerita Mengubah Persepsi Adi Prayuda 2

Sena, Polisi, dan Cara Cerita Mengubah Persepsi

12 July 2026
Indonesia Emas, 74 Kilogram Emas, dan Nilai Sebuah Kepercayaan Adi Prayuda 3

Indonesia Emas, 74 Kilogram Emas, dan Nilai Sebuah Kepercayaan

12 July 2026
Struk ATM, Marketing, dan Perilaku yang Membentuk Bumi 4

Struk ATM, Marketing, dan Perilaku yang Membentuk Bumi

12 July 2026
Dirty Latte dan Pelajaran Marketing yang Datang Seteguk demi Seteguk Adi Prayuda 5

Dirty Latte dan Pelajaran Marketing yang Datang Seteguk demi Seteguk

12 July 2026
Daun Kelor dan Pelajaran Marketing: Mengapa Cerita Lebih Bernilai daripada Produk? Adi Prayuda 6

Daun Kelor dan Pelajaran Marketing: Mengapa Cerita Lebih Bernilai daripada Produk?

11 July 2026

Berita Terkait

Sena, Polisi, dan Cara Cerita Mengubah Persepsi Adi Prayuda

Sena, Polisi, dan Cara Cerita Mengubah Persepsi

12 July 2026
Indonesia Emas, 74 Kilogram Emas, dan Nilai Sebuah Kepercayaan Adi Prayuda

Indonesia Emas, 74 Kilogram Emas, dan Nilai Sebuah Kepercayaan

12 July 2026
Struk ATM, Marketing, dan Perilaku yang Membentuk Bumi

Struk ATM, Marketing, dan Perilaku yang Membentuk Bumi

12 July 2026
Dirty Latte dan Pelajaran Marketing yang Datang Seteguk demi Seteguk Adi Prayuda

Dirty Latte dan Pelajaran Marketing yang Datang Seteguk demi Seteguk

12 July 2026
Daun Kelor dan Pelajaran Marketing: Mengapa Cerita Lebih Bernilai daripada Produk? Adi Prayuda

Daun Kelor dan Pelajaran Marketing: Mengapa Cerita Lebih Bernilai daripada Produk?

11 July 2026
Belajar Marketing dari Sepiring Mie Nyemek

Belajar Marketing dari Sepiring Mie Nyemek

9 July 2026

Berita Terpopuler

Senggigi dan Cerita yang Perlahan Memudar Pantai Senggigi 1

Senggigi dan Cerita yang Perlahan Memudar

12 July 2026
Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan 2

Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan

21 September 2023
Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri! 3

Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri!

21 September 2023
Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju! 4

Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju!

21 September 2023
Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024 5

Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024

21 September 2023
Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR 6

Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR

22 September 2023
Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15 7

Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15

22 September 2023

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Politik & Hukum
  • Teknologi

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
Dugaan Penyerobotan Tanah Wakaf di Praya, Kawal NTB: Sertifikat Hak Pakai Diterbitkan Secara Ceroboh! 4

Dugaan Penyerobotan Tanah Wakaf di Praya, Kawal NTB: Sertifikat Hak Pakai Diterbitkan Secara Ceroboh!

5 August 2025
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 5

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 6

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 7

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023

Ads

  • Home
  • Politik & Hukum
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Opini
Copyright © 2023 KilasNusa.com