Kepala LLDIKTI VIII Pesan Wisudawan UNIZAR: Jangan Berhenti Belajar, Harus Berdampak

Kilas Nusa, Mataram – Wisuda bukan sekadar seremoni mengenakan toga dan menerima ijazah. Bagi para lulusan, momen tersebut justru menjadi awal memasuki fase kehidupan yang menuntut kompetensi, integritas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian memberi manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII Bali-NTB, Dr. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, ST., MT, dalam pidatonya pada Wisuda Ke-79 Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) di Ballroom Bonang Hotel Prime Plaza Mataram, Kamis (3/9/2026).
Di hadapan para wisudawan, LLDIKTI menekankan bahwa tantangan setelah lulus perguruan tinggi tidak dapat dihadapi hanya dengan mengandalkan kemampuan akademik.
Wisudawan UNIZAR Diminta Kuasai Hard Skills dan Soft Skills
Menurut LLDIKTI, penguasaan hard skills tetap penting sebagai bekal profesional. Namun, kemampuan tersebut harus dilengkapi dengan soft skills yang membuat lulusan mampu bekerja dan berinteraksi secara efektif di tengah masyarakat.
Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, memimpin, hingga menyelesaikan persoalan secara bertanggung jawab menjadi modal penting bagi lulusan ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan sosial.
Dengan kata lain, ijazah bukan satu-satunya ukuran kesiapan seseorang menghadapi masa depan.
Lebih jauh, LLDIKTI menempatkan etika dan integritas sebagai fondasi utama seluruh kompetensi tersebut.
Ilmu pengetahuan dan keterampilan, jika tidak disertai integritas, berpotensi kehilangan nilai bahkan dapat disalahgunakan. Karena itu, wisudawan UNIZAR diharapkan menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, bertanggung jawab, konsisten, dan dapat dipercaya.
Jejaring dan Rekam Jejak Jadi Modal Penting Lulusan
Pesan berikutnya berkaitan dengan pentingnya membangun jejaring.
Para wisudawan didorong menjaga hubungan baik dengan sesama alumni, dunia usaha, pemerintah, organisasi profesi, serta masyarakat. Jejaring tersebut dapat memperluas ruang pengabdian sekaligus membuka peluang pengembangan karier.
Namun, jejaring tidak cukup dibangun hanya dengan banyaknya koneksi.
Kepercayaan, kompetensi, dan rekam jejak yang baik menjadi modal utama agar hubungan profesional dapat berkembang menjadi kolaborasi yang produktif.
Bagi lulusan UNIZAR, jaringan alumni juga dapat menjadi kekuatan untuk saling mendukung dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Wisuda Bukan Akhir, tetapi Awal Belajar Sepanjang Hayat
LLDIKTI juga mengingatkan para wisudawan agar tidak menganggap gelar akademik sebagai tanda berakhirnya proses pendidikan.
Sebaliknya, wisuda merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, serta perubahan kebutuhan dunia kerja berlangsung begitu cepat. Kondisi tersebut membuat lulusan harus memiliki kemauan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan.
Semangat belajar sepanjang hayat menjadi penting agar lulusan tidak tertinggal oleh perubahan.
Pengalaman selama menjadi mahasiswa pun dinilai memiliki peran besar dalam membentuk kapasitas tersebut. Keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun berbagai kompetisi menjadi ruang untuk melatih kepemimpinan, kedisiplinan, keberanian, kerja sama, dan kemampuan menghadapi persaingan.

Prestasi Mahasiswa UNIZAR Jadi Modal untuk Terus Berkembang
LLDIKTI turut menyoroti prestasi mahasiswa UNIZAR yang telah mampu meraih berbagai capaian hingga tingkat internasional.
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa UNIZAR memiliki potensi untuk bersaing tidak hanya di tingkat daerah dan nasional, tetapi juga di tingkat global.
Capaian itu diharapkan menjadi sumber motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus membangun budaya akademik yang unggul dan kompetitif.
Meski demikian, keunggulan lulusan tidak semata-mata ditentukan oleh gelar, indeks prestasi, ataupun jumlah penghargaan yang diperoleh.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar ilmu dan kemampuan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lulusan UNIZAR Didorong Hadir dengan Aksi Nyata
Para wisudawan didorong tidak berhenti pada gagasan dan wacana. Mereka diharapkan berani menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata yang dapat dirasakan lingkungan sekitar.
Manusia unggul, menurut pesan yang disampaikan LLDIKTI, bukan hanya manusia yang memiliki kompetensi, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, serta keberanian untuk bertindak.
Karena itu, lulusan UNIZAR diharapkan mampu hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat, bukan sekadar menjadi penonton di tengah perubahan.
LLDIKTI Dorong UNIZAR Tingkatkan Kinerja Perguruan Tinggi
Selain memberikan pesan kepada wisudawan, LLDIKTI juga mendorong UNIZAR untuk terus meningkatkan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan mutu pembelajaran, peningkatan prestasi mahasiswa, pengembangan kompetensi dosen, perluasan kerja sama, serta pelaksanaan berbagai program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
UNIZAR juga diharapkan semakin memperkuat kapasitas kelembagaan sehingga mampu merespons berbagai peluang dan permintaan kerja sama dari pemerintah pusat.
Kepercayaan tersebut dinilai sebagai peluang sekaligus tanggung jawab. Untuk menjawabnya, diperlukan sumber daya manusia yang siap, tata kelola yang baik, serta pelaksanaan program yang terukur dan berkelanjutan.
Pesan untuk Orang Tua Wisudawan UNIZAR
Dalam kesempatan tersebut, LLDIKTI juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan keluarga wisudawan yang telah memberikan kepercayaan kepada UNIZAR untuk mendidik putra-putri mereka.
Dukungan, pengorbanan, dan doa keluarga menjadi bagian penting di balik perjalanan panjang para wisudawan hingga mencapai hari kelulusan.
Kepercayaan tersebut diharapkan dibayar dengan lahirnya lulusan yang benar-benar mampu menjadi manusia unggul.
Bukan hanya berilmu, tetapi juga beretika, berintegritas, memiliki jejaring yang kuat, terus belajar sepanjang hayat, serta mampu menghadirkan manfaat dan aksi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dengan demikian, toga yang dikenakan pada hari wisuda bukan menjadi tanda berakhirnya perjalanan, melainkan simbol dimulainya tanggung jawab baru: mengubah ilmu menjadi karya dan menjadikan kompetensi sebagai manfaat bagi sesama.






