
Ada ironi yang perlahan menjadi pemandangan biasa di perguruan tinggi Indonesia. Dosen semakin banyak mengikuti program, menghadiri rapat, mengisi aplikasi, menyusun laporan, mengunggah bukti kegiatan, mengikuti sosialisasi kebijakan, membangun kerja sama, menjalankan hilirisasi, sekaligus tetap dituntut menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas.
Semua itu pada dasarnya penting. Perguruan tinggi memang harus akuntabel, tertib, produktif, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat. Namun, ada pertanyaan yang layak diajukan: ketika seorang dosen semakin sibuk dengan administrasi, kapan ia memiliki waktu yang cukup untuk benar-benar berpikir sebagai seorang akademisi?
Persoalannya bukan pada keberadaan administrasi, melainkan pada proporsinya. Administrasi seharusnya menjadi alat untuk mendukung pendidikan, bukan justru mengambil porsi perhatian yang terlalu besar dari pekerjaan utama dosen.
Membaca artikel ilmiah dengan serius membutuhkan konsentrasi. Menemukan celah penelitian membutuhkan ketenangan. Menulis publikasi yang baik membutuhkan waktu, diskusi, revisi, dan proses berpikir yang tidak bisa dipadatkan menjadi sekadar target.
Dosen tidak otomatis menghasilkan lebih banyak penelitian hanya karena kepadanya diberikan lebih banyak kewajiban.
Kita sepertinya perlu membedakan sibuk dan produktif. Kesibukan mudah terlihat melalui rapat, daftar hadir, dokumentasi, sertifikat, laporan, dan berbagai bukti kegiatan. Sementara produktivitas akademik sering bekerja dalam senyap. Sebuah artikel mungkin membutuhkan berbulan-bulan. Sebuah penelitian bahkan bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum memberikan dampak.
Pendidikan memang berbeda dengan pembangunan fisik. Jalan yang dibangun segera terlihat. Gedung yang berdiri mudah difoto. Program bantuan dapat segera dihitung penerimanya. Sementara hasil pendidikan sering baru tampak bertahun-tahun kemudian.
Karena itu, pendidikan terkadang kalah seksi dibandingkan program yang hasilnya dapat segera dilihat. Padahal, pembangunan pada akhirnya tetap membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan untuk mengelola dan mengembangkannya.
Persoalan lain adalah perubahan regulasi yang begitu cepat. Belum selesai satu aturan dibaca, dipahami, dan diterapkan, aturan baru sudah hadir. Perguruan tinggi kembali melakukan sosialisasi, mengubah pedoman, menyesuaikan sistem, dan meminta dosen beradaptasi.
Satu aturan belum benar-benar khatam dipahami, aturan baru sudah datang. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya melelahkan secara administratif, tetapi juga menguras energi mental. Dosen akhirnya lebih sibuk memastikan apa yang harus dilaporkan daripada memikirkan apa yang seharusnya diteliti.
Lalu apa yang bisa dilakukan? Tidak semuanya membutuhkan kebijakan besar. Pertama, sederhanakan pelaporan. Satu data seharusnya tidak perlu dimasukkan berkali-kali ke berbagai aplikasi hanya karena digunakan oleh unit yang berbeda.
Kedua, lindungi waktu akademik dosen. Beberapa jam setiap minggu dapat ditetapkan sebagai waktu bebas rapat dan administrasi untuk membaca, menulis, meneliti, dan membimbing mahasiswa.
Ketiga, ukur produktivitas berdasarkan kualitas, bukan sekadar jumlah kegiatan. Dosen yang menghasilkan satu penelitian bermutu tidak semestinya kalah penghargaan dari dosen yang menghadiri puluhan kegiatan administratif.
Keempat, berikan masa transisi yang cukup ketika regulasi berubah. Perguruan tinggi membutuhkan stabilitas agar dapat bekerja, bukan terus-menerus beradaptasi.
Kelima, kesejahteraan dosen harus dipandang sebagai investasi pendidikan. Dosen yang hidup layak akan memiliki ruang lebih besar untuk berkonsentrasi, berkembang, dan menghasilkan karya.
Dosen bukan sekadar pelaksana program. Dosen adalah manusia yang membaca, berpikir, meneliti, mempertanyakan, menemukan, dan membentuk generasi.
Jika kita ingin publikasi meningkat, berikan waktu untuk membaca dan menulis. Jika ingin inovasi tumbuh, berikan ruang untuk bereksperimen. Jika ingin hilirisasi berkembang, pastikan terlebih dahulu bahwa ada pengetahuan yang kuat untuk dihilirkan.
Pendidikan tinggi Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak aplikasi. Yang kita butuhkan mungkin justru lebih sedikit birokrasi yang berulang, aturan yang lebih stabil, administrasi yang sederhana, kesejahteraan yang layak, dan kepercayaan yang lebih besar kepada para akademisi. Sebab pendidikan tidak tumbuh dari banyaknya formulir yang terisi. Pendidikan tumbuh dari manusia yang memiliki cukup waktu untuk berpikir dengan jernih, bekerja dengan bermakna, dan hidup dengan layak. (*)
