Skip to content
Kilas Nusa

Kilas Nusa

Kolaboratif, Informatif, Inovatif

Primary Menu
  • Home
  • Politik & Hukum
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Opini

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

Adi 1 October 2026

Oleh: Mukti Hakim
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang

Ketahanan pangan sering kali dibicarakan dari sisi produksi: berapa banyak gabah yang dihasilkan, berapa luas lahan sawah yang tersedia, dan seberapa tinggi produktivitas per hektare. Padahal, ketahanan pangan tidak hanya soal menghasilkan pangan sebanyak-banyaknya. Kita juga perlu bertanya: pangan seperti apa yang kita hasilkan, dengan cara bagaimana, dan apa dampaknya bagi petani serta lingkungan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan bagi Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penting dalam produksi pangan, khususnya padi.

Di tengah kebutuhan menjaga produksi beras, petani menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Degradasi kesuburan tanah, alih fungsi lahan, perubahan kondisi lingkungan, serta ketergantungan terhadap pestisida sintetis menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Dalam konteks itulah, pelaksanaan Training of Trainers (ToT) Sustainable Pesticide Management Framework (SPMF) di wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sijonam, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, pada 14–16 April 2026, menjadi menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai kegiatan pelatihan, tetapi sebagai bagian dari upaya mengubah cara pandang terhadap perlindungan tanaman.

Kegiatan yang dilaksanakan HarvestPlus Solutions Indonesia melalui kolaborasi lintas sektor, dengan dukungan YPS-PMAS, mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Menurut saya, pola kolaborasi semacam ini penting karena persoalan pertanian tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja.

Ketahanan pangan tidak boleh mengorbankan lingkungan

Selama ini, peningkatan produksi sering identik dengan penggunaan input pertanian yang semakin besar. Ketika serangan hama meningkat, pilihan paling cepat yang tersedia bagi petani sering kali adalah penggunaan pestisida.

Masalahnya bukan pada keberadaan pestisida itu sendiri, melainkan pada bagaimana produk tersebut digunakan.

Penggunaan pestisida secara berlebihan atau tidak tepat dapat menimbulkan persoalan baru, mulai dari risiko kesehatan bagi petani, residu pada hasil pertanian, gangguan terhadap organisme non-target, hingga pencemaran lingkungan. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, biaya yang harus dibayar bukan hanya biaya produksi hari ini, tetapi juga kualitas tanah dan ekosistem pertanian pada masa depan.

Karena itu, pendekatan SPMF yang mendorong pengelolaan pestisida secara lebih bertanggung jawab patut ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: bagaimana meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan keberlanjutan.

Penyuluh menjadi kunci perubahan di tingkat petani

Menurut saya, salah satu aspek paling penting dari ToT SPMF adalah penempatan penyuluh sebagai aktor utama dalam proses perubahan.

Petani membutuhkan informasi yang praktis dan mudah diterapkan. Pengetahuan tentang pengendalian hama tidak akan banyak berarti jika hanya berhenti di ruang pelatihan. Pengetahuan tersebut harus diterjemahkan menjadi keputusan nyata di sawah.

Di sinilah peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menjadi sangat penting. Penyuluh bukan sekadar penyampai informasi, tetapi jembatan antara pengetahuan ilmiah dan realitas yang dihadapi petani.

Melalui ToT, penyuluh diperkuat untuk mengenalkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pemanfaatan musuh alami, penggunaan biopestisida, serta pengurangan ketergantungan terhadap pestisida yang memiliki risiko tinggi.

Perubahan paradigma ini tentu tidak dapat terjadi dalam satu kali pelatihan. Petani membutuhkan pendampingan, pembuktian di lapangan, dan pengalaman bahwa metode yang lebih ramah lingkungan tetap dapat menjaga produktivitas.

pasang iklan di sini

Teknologi harus membantu petani, bukan sekadar menjadi tren

Hal lain yang menarik dari SPMF adalah masuknya inovasi dan digitalisasi dalam perlindungan tanaman.

Pemanfaatan smart spraying drones, misalnya, dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan presisi aplikasi produk perlindungan tanaman. Teknologi memungkinkan penggunaan input dilakukan secara lebih terukur sehingga tidak semua persoalan hama harus diselesaikan dengan penyemprotan secara berlebihan.

Namun, teknologi sebaiknya tidak dipandang sebagai solusi tunggal.

Drone secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang memahami kapan penyemprotan diperlukan, produk apa yang sesuai, berapa dosis yang tepat, serta bagaimana memastikan keselamatan lingkungan dan aplikator.

Artinya, teknologi harus berjalan bersama pengetahuan, bukan menggantikannya.

Petani membutuhkan manfaat yang nyata

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan SPMF bukan sekadar jumlah penyuluh yang mengikuti pelatihan atau banyaknya materi yang disampaikan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah perubahan tersebut benar-benar dirasakan petani.

Apakah biaya produksi dapat lebih efisien? Apakah risiko keracunan dan paparan pestisida dapat dikurangi? Apakah produktivitas dapat dipertahankan? Apakah tanah dan sumber air menjadi lebih terjaga? Dan yang tidak kalah penting, apakah konsumen mendapatkan pangan yang lebih aman?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi ukuran keberlanjutan program.

Bagi BPP Sijonam dan wilayah pertanian Serdang Bedagai, penerapan SPMF juga dapat menjadi momentum untuk membangun model perlindungan tanaman yang lebih kontekstual. Pendekatan tersebut dapat menggabungkan pengalaman petani, pengetahuan penyuluh, dukungan akademisi, teknologi, serta ketersediaan sarana produksi yang lebih ramah lingkungan.

Dari Sijonam untuk pertanian berkelanjutan

Saya melihat ToT SPMF di BPP Sijonam sebagai langkah awal yang memiliki arti penting. Tantangan berikutnya justru berada setelah pelatihan selesai: bagaimana memastikan pengetahuan tersebut terus hidup dan diterapkan di lapangan.

Diperlukan pendampingan berkelanjutan, demonstrasi praktik di lahan, evaluasi penggunaan pestisida, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha dan kelompok tani.

Ketahanan pangan tidak semestinya hanya berbicara tentang berapa banyak pangan yang dapat diproduksi hari ini, tetapi juga tentang apakah kita masih mampu memproduksi pangan dengan aman dan berkelanjutan pada masa depan.

Jika perubahan cara berpikir itu dapat dimulai dari penyuluh, diteruskan kepada petani, dan didukung oleh teknologi serta kebijakan yang tepat, maka Sijonam bukan hanya menjadi wilayah produksi padi. Lebih dari itu, Sijonam dapat menjadi contoh bahwa produktivitas pertanian dan keberlanjutan lingkungan bukan dua tujuan yang harus dipertentangkan.

Keduanya justru harus berjalan bersama.

Tags: Ketahanan Pangan pengendalian hama terpadu penyuluh pertanian Pertanian Berkelanjutan pertanian ramah lingkungan pestisida petani padi PHT Serdang Bedagai SPMF Sustainable Pesticide Management Framework tanaman padi Teknologi Pertanian ToT SPMF Training of Trainers

Continue Reading

Previous: Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

Trending Now

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai 1

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

1 October 2026
Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan 2

Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

23 September 2026
Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan 3

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

19 September 2026
PT Lombok Jingga Siapkan Green Tourism di Segui Sekaroh, Libatkan Masyarakat Lokal PT Lombok Jingga menghadiri Temu Usaha Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI di Bali 4

PT Lombok Jingga Siapkan Green Tourism di Segui Sekaroh, Libatkan Masyarakat Lokal

17 September 2026
Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor Foto personil band Juicy Juicy, diambil dari situs: https://www.kompas.com/hype/read/2022/01/05/205904766/juicy-luicy-jadi-bagian-dalam-youtube-rewind-2021-lewat-lagu-lantas 5

Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor

12 September 2026
Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo Foto buku Islam Ala Prabowo, diambil dari situs: https://rmol.id/politik/read/2026/09/11/721363/buku-islam-ala-prabowo-bukan-produk-mui 6

Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo

12 September 2026

Berita Terkait

Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

Ketahanan Pangan NTB: Dari Surplus Produksi Menuju Kedaulatan Pangan

23 September 2026
Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

Ketika Mindfulness Bertemu Media Sosial: Pentingnya Konteks dalam Memaknai Sebuah Pesan

19 September 2026
Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor Foto personil band Juicy Juicy, diambil dari situs: https://www.kompas.com/hype/read/2022/01/05/205904766/juicy-luicy-jadi-bagian-dalam-youtube-rewind-2021-lewat-lagu-lantas

Harga Sebuah Ego dalam Bisnis: Belajar dari Polemik Juicy Luicy dan Promotor

12 September 2026
Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo Foto buku Islam Ala Prabowo, diambil dari situs: https://rmol.id/politik/read/2026/09/11/721363/buku-islam-ala-prabowo-bukan-produk-mui

Permission Before Attention: Pelajaran Penting dari Buku Islam Ala Prabowo

12 September 2026
Gus Dur Lahir, Munir Pergi, dan yang Tersisa untuk Indonesia Ilustrasi Tokoh Gus Dur dan Munir, dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Gus Dur Lahir, Munir Pergi, dan yang Tersisa untuk Indonesia

7 September 2026
Pelajaran dari Sanca Black: Datang untuk Minum, Pulang Membawa Pelajaran tentang Hidup Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi)

Pelajaran dari Sanca Black: Datang untuk Minum, Pulang Membawa Pelajaran tentang Hidup

5 September 2026

Berita Terpopuler

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai 1

Mengubah Cara Bertani: SPMF dan Masa Depan Ketahanan Pangan Padi di Serdang Bedagai

1 October 2026
Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan 2

Guru Honorer SD Lombok Tengah Mengejar Keadilan: Tuntutan untuk SK Penempatan

21 September 2023
Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri! 3

Motor Cross Grand Prix (MXGP) 2024 Kembali Ke NTB dengan 2 Seri!

21 September 2023
Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju! 4

Langkah Cepat Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi, untuk Membawa NTB ke Masa Depan: NTB Maju Melaju!

21 September 2023
Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024 5

Semangat Baru Partai Garuda di NTB: Pelatihan Calon Legislatif dan Strategi Politik untuk Pemilu 2024

21 September 2023
Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR 6

Jadwal Pendaftaran Pasangan Capres-Cawapres Pemilu 2024 Mulai Dibahas oleh DPR

22 September 2023
Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15 7

Mogok Kerja Pekerja Apple Store di Prancis Saat Peluncuran iPhone 15

22 September 2023

Katalog Berita

  • Advertorial
  • Berita NTB
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Politik & Hukum
  • Teknologi

Paling Sering Dilihat

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan 1

Parkir Semrawut di Depan RS Cahaya Medika Praya Dikeluhkan Warga, Kawal NTB Desak Penegakan Aturan

5 June 2025
Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan! 2

Pawon Pengsong NTB: Memanjakan Lidah dengan Olahan Sehat dan Ramah Lingkungan!

27 September 2023
SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok 3

SMPN 7 Mataram Menerapkan Project Based Learning pada Outing Class ke Destinasi Wisata Khusus di Lombok

29 October 2023
Dugaan Penyerobotan Tanah Wakaf di Praya, Kawal NTB: Sertifikat Hak Pakai Diterbitkan Secara Ceroboh! 4

Dugaan Penyerobotan Tanah Wakaf di Praya, Kawal NTB: Sertifikat Hak Pakai Diterbitkan Secara Ceroboh!

5 August 2025
300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani 5

300 Nakes Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2023, Fasilitas Medis di RSUD NTB Siap Menangani

30 September 2023
Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima 6

Hj. Nurhaidah Ucapkan Selamat kepada Pj. Walikota Bima

26 September 2023
Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024 7

Gali Mimpi dan Harapan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Mataram 2023-2024

21 October 2023

Ads

  • Home
  • Politik & Hukum
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kesehatan & Gaya Hidup
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Opini
Copyright © 2023 KilasNusa.com