
Saya masih ingat betul bagaimana rasanya bermain di Pantai Senggigi ketika masih duduk di bangku SMP dan SMA. Ombaknya tenang, air lautnya jernih, dan matahari sore selalu terasa istimewa. Ketika itu, pergi ke Senggigi bukan sekadar rekreasi. Ada rasa bangga karena kami memiliki pantai yang menjadi ikon Pulau Lombok.
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, Senggigi adalah wajah pariwisata Lombok. Hampir setiap tamu dari luar daerah diajak ke sana. Hotel-hotel berjejer di sepanjang pantai, restoran dipenuhi wisatawan, dan jalanan Senggigi menjadi denyut utama industri pariwisata di Pulau Seribu Masjid ini.
Hari ini, suasananya terasa berbeda. Ketika orang menyebut Lombok, yang lebih sering muncul justru Mandalika. Orang berbicara tentang MotoGP, GT World Challenge Asia, ajang-ajang lari internasional, Pantai Tanjung Aan, Bukit Merese, konser musik, hingga berbagai festival yang hampir setiap tahun memenuhi lini masa media sosial.
Sementara Senggigi perlahan menghilang dari percakapan. Padahal, pantainya masih sama indahnya. Sunset-nya masih memukau. Hotel-hotel masih berdiri menghadap laut. Lalu, apa yang sebenarnya berubah?
Menurut saya, yang perlahan memudar bukan pantainya. Yang memudar adalah cerita tentang Senggigi.
Dalam dunia marketing, ada satu prinsip sederhana: orang tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita. Sebuah destinasi wisata tidak hanya menjual pasir putih dan laut biru, tapi yang lebih utama adalah menjual pengalaman, emosi, dan alasan mengapa seseorang ingin datang, memotret, lalu menceritakannya kepada orang lain.
Senggigi pernah memiliki cerita itu. Senggigi pernah menjadi wajah Lombok. Namun, cerita yang tidak terus diperbarui lambat laun akan kalah oleh cerita baru yang terus diproduksi. Kegelisahan ini ternyata tidak hanya lahir dari nostalgia. Data juga menunjukkan gejala yang sama.
Penelitian Sulastri Rahayu Dewi dan Muhammad Firmansyah (2026) yang menganalisis dampak pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menggunakan data Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lombok Barat mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Pada tahun 2017 jumlah kunjungan mencapai 724.845 wisatawan, turun menjadi 379.493 pada 2018, sempat naik menjadi 428.039 pada 2019, kemudian anjlok menjadi 141.245 pada 2020 akibat pandemi. Hingga tahun 2023, jumlah kunjungan memang mulai pulih menjadi 320.658 wisatawan, tetapi angka tersebut masih jauh di bawah capaian tahun 2017.
Data tersebut memang merupakan data Kabupaten Lombok Barat secara keseluruhan. Namun, sebagai destinasi unggulan di wilayah tersebut, Senggigi tentu menjadi bagian penting dari dinamika tersebut.
Lebih spesifik lagi, penelitian lain yang mengutip Satu Data Pariwisata NTB (2021) menunjukkan bahwa kawasan wisata Senggigi mengalami penurunan kunjungan yang sangat tajam ketika pandemi. Pada tahun 2019 tercatat 391.412 wisatawan, terdiri atas 211.646 wisatawan mancanegara dan 179.766 wisatawan domestik. Setahun kemudian, jumlah itu turun menjadi hanya 125.437 wisatawan, terdiri atas 31.927 wisatawan mancanegara dan 93.510 wisatawan domestik. Dalam satu tahun saja, Senggigi kehilangan sekitar 265.975 kunjungan wisatawan.
Memang, pandemi menjadi penyebab utama penurunan tersebut. Namun, pandemi tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa setelah kondisi mulai pulih, Senggigi belum kembali menjadi pusat perhatian seperti dahulu.
Di sisi lain, kawasan Mandalika justru memperoleh momentum baru. Pembangunan infrastruktur, status sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta penyelenggaraan event internasional membuat Mandalika terus hadir dalam pemberitaan media. MotoGP, GT World Challenge Asia, festival budaya, triathlon, hingga berbagai ajang lari menciptakan ribuan foto, video, berita, dan unggahan media sosial yang terus memperkuat citranya sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa Mandalika adalah penyebab meredupnya Senggigi. Kesimpulan seperti itu justru terlalu sederhana. Banyak faktor lain yang ikut berperan, mulai dari dampak gempa 2018, pandemi COVID-19, perubahan perilaku wisatawan, hingga transformasi pemasaran digital.
Namun ada satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari Mandalika: Terus ada cerita baru tentang Mandalika!
Dalam marketing, sebuah brand tidak selalu kalah karena kualitas produknya menurun. Seringkali sebuah brand kehilangan tempat karena berhenti relevan di benak konsumennya. Brand kehilangan top of mind.
Hari ini, ketika seseorang ditanya tentang destinasi wisata di Lombok, jawaban pertama yang muncul di kepalanya mungkin bukan lagi Senggigi. Bukan karena Senggigi menjadi jelek. Melainkan karena destinasi lain lebih sering hadir dalam percakapan publik.
Menariknya, penelitian tentang revitalisasi Pasar Seni Senggigi juga sampai pada kesimpulan yang senada. Kawasan yang dahulu menjadi ikon pariwisata NTB dinilai mulai kehilangan daya tarik akibat fasilitas yang kurang terawat, minimnya atraksi budaya yang rutin, serta lemahnya promosi digital.
Di sinilah saya merasa bahwa Senggigi sebenarnya tidak membutuhkan pantai baru. Yang dibutuhkan adalah cerita baru.
Bayangkan jika sepanjang tahun ada Festival Sunset Senggigi, pertunjukan musik mingguan di tepi pantai, festival kuliner pesisir, lomba fotografi internasional, pameran seni, atau ajang lari yang menjadikan Senggigi sebagai panggung utamanya.
Setiap kegiatan akan menghasilkan ribuan foto. Ribuan video. Ribuan unggahan media sosial. Dan yang paling penting, ribuan cerita. Karena sesungguhnya pariwisata hidup dari cerita.
Sebagai orang yang ber-KTP Lombok, saya tentu berharap Senggigi kembali ramai. Namun, keramaian itu tidak cukup dibangun hanya dengan nostalgia. Generasi-Z tidak memiliki kenangan masa kecil yang sama dengan generasi saya. Mereka membutuhkan alasan baru untuk datang.
Dan alasan itu harus diciptakan.
Marketing mengajarkan bahwa perhatian adalah mata uang paling berharga. Ketika sebuah destinasi berhenti menarik perhatian, perlahan ia juga kehilangan tempat di ingatan publik.
Senggigi tidak kehilangan ombaknya. Senggigi tidak kehilangan matahari terbenamnya. Senggigi tidak kehilangan keindahan alamnya. Yang perlahan memudar adalah cerita yang dulu membuat begitu banyak orang jatuh cinta. Mungkin, yang dibutuhkan Senggigi hari ini bukan pantai yang lebih indah, melainkan cerita baru yang membuat dunia kembali membicarakannya. (*)
