
Pernahkah kita melihat sebuah unggahan yang dibanjiri puluhan ribu like, ribuan komentar, dan dibagikan ke mana-mana, tetapi bisnis di baliknya tetap sepi? Sebaliknya, ada usaha kecil yang media sosialnya sederhana, jumlah pengikutnya tidak fantastis, namun antrean pelanggannya tidak pernah putus. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa perhatian (attention) dan keuntungan (profit) bukanlah dua hal yang selalu berjalan beriringan.
Di era digital, perhatian telah menjadi mata uang baru. Hampir semua pelaku usaha, mulai dari UMKM hingga perusahaan besar, berlomba-lomba memenangkan perhatian publik. Ukuran keberhasilan pun perlahan bergeser. Pertanyaan yang dulu berbunyi, “Berapa omzet bulan ini?” kini sering kalah oleh pertanyaan, “Berapa views-nya?” atau “Sudah viral belum?”
Akibatnya, like, komentar, share, reach, dan engagement rate berubah menjadi angka-angka yang dikejar. Tidak sedikit perusahaan rela mengalokasikan anggaran besar untuk berkolaborasi dengan influencer atau akun media sosial yang memiliki jutaan pengikut. Pertimbangannya sederhana: Semakin besar basis massa, semakin luas jangkauan pesan.
Masalahnya, jangkauan bukanlah tujuan akhir bisnis.
Dalam banyak kasus, perusahaan terlalu cepat menyimpulkan bahwa banyaknya perhatian otomatis akan menghasilkan penjualan. Padahal, perhatian hanyalah pintu masuk. Yang menentukan keberlangsungan usaha adalah apakah perhatian tersebut berubah menjadi kepercayaan, keputusan membeli, pembelian ulang, hingga loyalitas pelanggan.
Disinilah sering terjadi kekeliruan. Sebuah produk bisa saja viral karena lucu, kontroversial, atau sekadar mengikuti tren sesaat. Orang ramai membicarakannya, tetapi tidak ada yang benar-benar membeli. Kontennya sukses, tetapi bisnisnya gagal.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada dunia usaha. Dunia politik pun tampaknya mulai mengalami gejala serupa. Popularitas di media sosial sering dianggap identik dengan dukungan nyata. Jumlah pengikut, tayangan video, atau ramainya kolom komentar kerap diperlakukan seolah-olah mencerminkan kekuatan riil di lapangan. Padahal, perhatian digital belum tentu berbanding lurus dengan keputusan yang diambil seseorang di bilik suara. Dunia bisnis maupun politik sama-sama berisiko terjebak pada ilusi bahwa apa yang ramai di layar pasti kuat di dunia nyata.
Dalam ilmu pemasaran digital, ukuran seperti impressions, reach, engagement, dan views memang penting. Namun, semuanya merupakan leading indicators, bukan hasil akhir. Ibarat seseorang yang datang melihat etalase toko, metrik tersebut menunjukkan bahwa orang sudah melirik. Akan tetapi, melirik belum tentu membeli.
Di sisi lain, akuntansi mengajarkan cara pandang yang lebih membumi. Sebuah perusahaan pada akhirnya hidup dari arus kas, bukan dari tepuk tangan digital. Gaji karyawan dibayarkan melalui transfer bank, bukan melalui jumlah like. Tagihan listrik tidak lunas karena konten menjadi viral. Pajak tidak dibayar menggunakan persentase engagement rate. Semua itu membutuhkan uang yang benar-benar masuk ke rekening perusahaan.
Disinilah pentingnya membedakan antara vanity metrics dan business metrics. Vanity metrics adalah angka-angka yang terlihat mengesankan, tetapi belum tentu memberikan dampak nyata terhadap kinerja bisnis. Sementara itu, business metrics mengukur hal-hal yang benar-benar menentukan kesehatan perusahaan, seperti tingkat konversi, biaya memperoleh pelanggan, nilai pelanggan sepanjang hidupnya (customer lifetime value), laba, dan arus kas.
Masalahnya, vanity metrics jauh lebih mudah dipamerkan. Tangkapan layar jutaan tayangan terlihat mengesankan ketika dipresentasikan kepada pimpinan. Sebaliknya, angka konversi yang rendah atau biaya iklan yang membengkak seringkali tidak mendapat perhatian yang sama. Padahal justru di sanalah letak kualitas sebuah strategi pemasaran.
Hal ini juga menjadi pengingat bagi para pemilik UMKM. Banyak pelaku usaha merasa minder ketika melihat kompetitor memiliki puluhan ribu pengikut. Mereka tergoda membeli pengikut, mengejar konten viral, atau bekerja sama dengan siapa saja yang memiliki audiens besar tanpa mempertimbangkan kesesuaian target pasar. Padahal, seribu pengikut yang benar-benar membutuhkan produk jauh lebih bernilai daripada seratus ribu pengikut yang sekadar lewat di linimasa.
Kolaborasi dengan influencer pun seharusnya tidak hanya mempertimbangkan jumlah pengikut. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah audiens mereka relevan dengan produk yang dijual? Apakah mereka memiliki kredibilitas? Apakah pengikutnya benar-benar aktif, atau sekadar angka yang terlihat besar? Sebab, jangkauan yang luas tetapi tidak tepat sasaran hanya menghasilkan kebisingan, bukan penjualan.
Perusahaan juga perlu mengingat bahwa algoritma media sosial memang dirancang untuk memaksimalkan perhatian pengguna. Tidak semua yang disukai algoritma akan disukai pasar. Konten yang paling banyak ditonton belum tentu yang paling banyak menghasilkan transaksi. Jika strategi bisnis hanya mengikuti logika algoritma tanpa memahami logika pelanggan, perusahaan berisiko sibuk menciptakan keramaian, tetapi kehilangan keuntungan.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara memandang keberhasilan pemasaran digital. Jangan berhenti pada pertanyaan, “Berapa banyak orang yang melihat?” tetapi lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting, “Berapa banyak yang percaya?”, “Berapa banyak yang membeli?”, dan “Berapa banyak yang kembali membeli?”
Karena tujuan bisnis bukanlah menjadi yang paling ramai dibicarakan, melainkan menjadi yang paling mampu menciptakan nilai. Perhatian memang dapat membuka pintu, tetapi keuntunganlah yang menjaga pintu itu tetap terbuka.
Jangan sampai perusahaan terlihat kaya perhatian, tetapi miskin keuntungan. Sebab, yang menjaga perusahaan tetap hidup bukan jumlah like di media sosial, melainkan angka yang masuk ke laporan keuangan, dan yang paling nyata, transfer gaji yang diterima karyawan setiap akhir bulan. (*)
