Erwin Irawan Bangun Morikai, Alumni Agribisnis yang Angkat Kelor NTB Menjadi Produk Bernilai Nasional
Kilas Nusa, Mataram – Di tengah melimpahnya potensi pertanian di Nusa Tenggara Barat (NTB), masih banyak komoditas lokal yang belum memperoleh nilai ekonomi maksimal. Salah satunya adalah tanaman kelor yang selama bertahun-tahun lebih dikenal sebagai tanaman pekarangan dibandingkan sebagai komoditas bernilai tinggi.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Erwin Irawan, alumni Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Mataram, membangun Morikai, sebuah usaha berbasis inovasi yang tidak hanya menghasilkan produk olahan kelor, tetapi juga menghadirkan dampak sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Perjalanan Erwin tidak lahir dari modal besar maupun fasilitas yang memadai. Ia memulai usahanya dari proses sederhana, mulai memanen daun kelor, mengeringkan, mengemas hingga menawarkan produknya secara langsung kepada masyarakat.
Menurut Erwin, Morikai bukan sekadar perusahaan yang menjual produk kesehatan, melainkan sebuah gerakan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi lokal Indonesia.
“Saya tidak pernah berusaha menjual teh kelor. Yang saya bangun adalah sebuah cerita, sebuah gerakan, dan sebuah nilai,” ujarnya.
Berangkat dari Dunia Akademik
Erwin menyelesaikan pendidikan Sarjana Agribisnis di Fakultas Pertanian Universitas Mataram pada 2019. Semangat belajar membawanya melanjutkan studi Magister Pertanian Lahan Kering hingga lulus sebagai Wisudawan Terbaik Universitas Mataram tahun 2026.
Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan Program Doktor Pertanian Berkelanjutan di universitas yang sama.
Baginya, pendidikan tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik, melainkan harus menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Prinsip tersebut menjadi dasar lahirnya Morikai sebagai usaha yang menggabungkan ilmu pengetahuan, inovasi, kewirausahaan, dan kepedulian sosial.
Mengangkat Potensi Kelor NTB
Di balik keberhasilan Morikai terdapat sebuah ironi yang selama ini menjadi perhatian Erwin.
Indonesia, khususnya NTB, memiliki tanaman kelor yang tumbuh hampir di setiap desa. Namun, keberadaan tanaman tersebut selama bertahun-tahun belum mampu memberikan kesejahteraan optimal bagi petani.
Padahal berbagai penelitian internasional telah menempatkan kelor sebagai salah satu superfood dengan kandungan nutrisi yang tinggi.
Melihat kondisi tersebut, Erwin mulai mengembangkan berbagai produk olahan kelor yang lebih modern, berkualitas, dan mampu bersaing di pasar nasional.
Perjalanan itu tidak mudah.
Keterbatasan modal, minimnya peralatan produksi hingga rendahnya kepercayaan masyarakat menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.
Namun ia memilih menjawab keraguan melalui kualitas produk, konsistensi, serta inovasi yang berkelanjutan.
“Kepercayaan tidak diminta, tetapi dibangun melalui proses panjang,” katanya.
Seiring waktu, Morikai berhasil memperoleh berbagai legalitas usaha, meningkatkan standar produksi, memperbaiki kualitas kemasan, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, hingga pelaku UMKM.
Lebih dari sekadar memproduksi minuman berbahan kelor, Morikai berkembang menjadi ruang kolaborasi penelitian, pemberdayaan masyarakat, pelatihan kewirausahaan, hingga pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Bisnis yang Tumbuh Bersama Masyarakat
Bagi Erwin, ukuran keberhasilan sebuah usaha bukan semata-mata dilihat dari besarnya keuntungan ataupun tingginya angka penjualan.
Ia justru menempatkan kebermanfaatan sebagai indikator utama.
Karena itu Morikai sejak awal melibatkan petani lokal sebagai pemasok bahan baku, memberdayakan kelompok wanita tani dalam proses produksi, membuka kesempatan magang bagi mahasiswa, serta menjadi tempat belajar bagi generasi muda yang ingin mengembangkan usaha di bidang agribisnis.
Hingga kini puluhan tenaga kerja, petani mitra, mahasiswa magang, relawan, komunitas, dan pelaku UMKM telah menjadi bagian dari perjalanan Morikai.
Jika dihitung secara keseluruhan, jumlah kolaborator yang pernah terlibat mencapai ratusan orang.
Erwin mengaku kebahagiaan terbesar bukanlah melihat produknya semakin dikenal, melainkan menyaksikan banyak orang yang awalnya datang untuk belajar kemudian mampu membuka usaha sendiri, memperoleh pekerjaan, atau berkembang menjadi mitra usaha yang mandiri.
