Kilas Nusa, Mataram – Di tengah menghangatnya pembicaraan publik mengenai sejumlah calon dan figur yang disebut berkeinginan memimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Nusa Tenggara Barat (NTB), perhatian terhadap masa depan olahraga daerah dinilai perlu menjadi prioritas utama.
Ketua DPD SPN NTB, Lalu Wira Sakti, mengingatkan agar proses pemilihan Ketua KONI NTB tidak hanya menjadi arena perebutan pengaruh, kekuasaan, maupun kepentingan kelompok tertentu.
Menurutnya, KONI merupakan rumah besar bagi seluruh insan olahraga NTB. Karena itu, proses pergantian kepemimpinan organisasi tersebut semestinya diarahkan untuk menjawab tantangan pembinaan atlet dan peningkatan prestasi olahraga NTB ke depan.
“Di tengah hiruk-pikuk dan ramainya perbincangan publik mengenai sejumlah calon dan figur yang berkeinginan memimpin KONI NTB, saya melihat ada hal yang jauh lebih penting untuk kita bicarakan bersama: ke mana arah olahraga NTB ke depan,” kata Lalu Wira Sakti.
Pemilihan Ketua KONI NTB Harus Fokus pada Masa Depan Olahraga
Lalu Wira Sakti menilai, siapa pun figur yang nantinya mendapatkan mandat memimpin KONI NTB harus mampu menjadikan kepentingan olahraga sebagai orientasi utama.
Ia mengingatkan bahwa di balik organisasi KONI terdapat harapan para atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga, hingga masyarakat NTB yang menginginkan prestasi olahraga daerah terus berkembang.
Karena itu, menurutnya, publik olahraga NTB memiliki hak untuk mengetahui visi dan gagasan setiap figur yang ingin maju dalam kontestasi kepemimpinan KONI NTB.
“Publik olahraga NTB berhak mengetahui apa gagasannya, apa programnya, bagaimana strategi pembinaan atletnya, dan dari mana keberanian serta komitmennya membawa NTB menghadapi PON 2028,” ujarnya.
Ia menilai proses pemilihan pemimpin KONI tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa besar dukungan politik yang dimiliki seorang kandidat.
Lebih dari itu, kapasitas kepemimpinan, rekam jejak, kemampuan melakukan konsolidasi, serta komitmen terhadap pembinaan olahraga secara berkelanjutan harus menjadi pertimbangan utama.
Adu Program, Bukan Adu Kekuatan
Lalu Wira Sakti juga mengajak seluruh figur yang memiliki keinginan memimpin KONI NTB agar dapat berkompetisi secara sehat dan elegan.
Menurutnya, kontestasi kepemimpinan organisasi olahraga seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan terbaik mengenai masa depan olahraga NTB.
Ia mendorong para kandidat untuk menunjukkan program konkret, bukan sekadar mengandalkan klaim dukungan.
“Saya kira sudah waktunya kita meninggalkan perdebatan yang hanya berkutat pada siapa yang paling kuat secara politik atau siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan. Yang harus kita ukur adalah siapa yang paling mampu membangun konsolidasi, tata kelola yang sehat, pembinaan yang berkelanjutan, dan prestasi olahraga yang nyata,” tegasnya.
Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dalam proses pemilihan Ketua KONI NTB dapat menjaga suasana kompetisi agar tetap kondusif.
Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar dalam sebuah proses organisasi. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai berkembang menjadi konflik yang justru mengganggu pembinaan olahraga.
Ketua KONI NTB Dinilai Bukan Sekadar Jabatan
Lebih jauh, Lalu Wira Sakti menegaskan bahwa posisi Ketua KONI NTB bukan sekadar jabatan organisatoris.
Menurut dia, jabatan tersebut merupakan sebuah mandat besar untuk mengelola masa depan olahraga NTB, termasuk memastikan pembinaan atlet berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
“Bagi kami, kursi Ketua KONI bukan sekadar jabatan. Ia adalah mandat untuk mengurus masa depan olahraga dan masa depan atlet NTB,” katanya.
Ia pun meminta agar seluruh kandidat dapat menunjukkan rekam jejak dan kapasitas masing-masing kepada publik olahraga.
Dengan demikian, masyarakat dan insan olahraga dapat menilai calon pemimpin berdasarkan kemampuan dan program yang ditawarkan, bukan semata-mata berdasarkan kekuatan jaringan atau dukungan kelompok.
PON 2028 Menjadi Tantangan Besar NTB
Menurut Lalu Wira Sakti, tantangan kepemimpinan KONI NTB semakin besar karena agenda olahraga nasional sudah berada di depan mata.
PON 2028 menjadi salah satu momentum penting yang harus dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Karena itu, kepemimpinan KONI NTB ke depan dinilai harus mampu menyusun strategi pembinaan atlet secara terukur.
Mulai dari pemetaan potensi atlet, penguatan pelatih, pembinaan usia dini, dukungan terhadap cabang olahraga, hingga tata kelola organisasi harus menjadi bagian dari agenda kerja kepemimpinan KONI.
“Waktu kita tidak banyak. NTB membutuhkan pemimpin KONI yang mampu menyatukan, bukan memecah; mengonsolidasikan, bukan menguasai; dan bekerja untuk prestasi, bukan sekadar untuk posisi,” ujarnya.
Ia berharap proses pemilihan Ketua KONI NTB dapat menghasilkan pemimpin yang memiliki kemampuan menyatukan seluruh elemen olahraga daerah.
Baginya, persaingan dalam pemilihan Ketua KONI NTB seharusnya tidak berhenti pada siapa yang berhasil memenangkan kontestasi. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah mandat kepemimpinan diperoleh.
Pemimpin KONI NTB nantinya dituntut mampu membangun komunikasi dengan berbagai pihak, memperkuat koordinasi bersama cabang olahraga, memperhatikan kebutuhan atlet dan pelatih, serta memastikan program pembinaan memiliki target prestasi yang jelas.
Lalu Wira Sakti kembali mengingatkan agar kepentingan olahraga tidak dikalahkan oleh kepentingan politik jangka pendek.
“Dan yang paling penting, jangan sampai kepentingan politik sesaat mengalahkan kepentingan besar olahraga NTB,” pungkasnya.
Dengan demikian, momentum pemilihan Ketua KONI NTB diharapkan menjadi titik awal untuk memperkuat konsolidasi olahraga daerah. Kontestasi kepemimpinan bukan hanya tentang siapa yang menduduki kursi Ketua KONI, tetapi tentang siapa yang memiliki visi, keberanian, kapasitas, dan komitmen untuk membawa olahraga NTB menuju prestasi yang lebih tinggi.
