Mahasiswi FK UNIZAR Raih Juara 2 E-Poster Competition Internasional INASNACC-SNACC 2026
Kilas Nusa, Mataram – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR). Ni Putu Ishika Devi, mahasiswi semester VII Fakultas Kedokteran UNIZAR, berhasil meraih Juara 2 E-Poster Competition kategori mahasiswa pada ajang The 9th International Joint Symposium Indonesia-Singapore Neuroanesthesia & Critical Care (INASNACC-SNACC)2026 yang berlangsung pada 22–25 Juli 2026 di Hotel Aruna Senggigi, Lombok Barat.
Penghargaan tersebut diraih melalui karya ilmiah berjudul “Predictors of Mortality and Prolonged Mechanical Ventilation in Myasthenic Crisis: A Systematic Review”, yang disusun di bawah bimbingan dr. Rohmania Setiarini, M.Sc., Sp.N. Kompetisi ini menjadi bagian dari simposium internasional yang mempertemukan akademisi, dokter spesialis, peneliti, serta mahasiswa dari berbagai institusi untuk berbagi perkembangan terbaru di bidang neuroanestesi dan neurocritical care.
Prestasi tersebut disampaikan Ni Putu Ishika Devi saat diwawancarai, pada Sabtu (25/7/2026).
Berawal dari Semangat Belajar dan Ketertarikan pada Dunia Penelitian
Perempuan kelahiran Mataram yang memiliki hobi bermain basket itu mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam kompetisi internasional tersebut berawal dari informasi yang diperoleh melalui kampus dan teman-temannya.
Ia melihat ajang tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan kesempatan untuk mengasah kemampuan penelitian sekaligus memperluas wawasan akademik di bidang neurologi dan perawatan intensif.
“Saya melihat kompetisi ini sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus mengembangkan kemampuan dalam melakukan penelitian ilmiah di bidang neurologi dan perawatan intensif,” ujarnya.
Ishika memilih mengangkat topik Myasthenic Crisis karena penyakit tersebut merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan neurologi yang memiliki angka morbiditas dan mortalitas cukup tinggi. Pada kondisi tersebut, banyak pasien membutuhkan ventilasi mekanik, namun hasil akhir pengobatannya dapat berbeda-beda.
Menurutnya, penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi risiko kematian maupun kebutuhan ventilasi mekanik berkepanjangan sangat penting sebagai dasar bagi tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan klinis.
“Saya ingin mengetahui faktor-faktor yang dapat memprediksi risiko kematian maupun kebutuhan ventilasi mekanik yang berkepanjangan sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan identifikasi dini terhadap pasien berisiko tinggi dan memberikan penanganan yang lebih cepat serta tepat,” jelasnya.
Menyusun Systematic Review Bukan Perjalanan yang Mudah
Di balik keberhasilannya meraih penghargaan internasional, Ishika mengaku menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satu kendala terbesar adalah proses pencarian literatur ilmiah karena penelitian yang secara khusus membahas prediktor mortalitas dan ventilasi mekanik berkepanjangan pada Myasthenic Crisis masih relatif terbatas.
Ia harus menelusuri berbagai database internasional, menyeleksi artikel berdasarkan kriteria penelitian, kemudian membandingkan hasil dari berbagai studi yang memiliki metode dan ukuran statistik berbeda.
Selain itu, tantangan lain adalah merangkum hasil penelitian yang kompleks ke dalam format e-poster yang ringkas, komunikatif, namun tetap mempertahankan kualitas ilmiahnya.
Menurut Ishika, keberhasilannya tidak lepas dari bimbingan dosen pembimbing, dr. Rohmania Setiarini, M.Sc., Sp.N, yang mendampingi sejak proses pencarian literatur, analisis data, interpretasi hasil, hingga penyusunan materi presentasi.
“Beliau membimbing saya mulai dari pencarian literatur, analisis, interpretasi hasil penelitian, hingga memberikan banyak masukan mengenai cara menyampaikan hasil penelitian secara jelas dan sistematis. Dukungan dan arahan beliau menjadi salah satu faktor yang membuat saya lebih percaya diri hingga akhirnya berhasil meraih Juara 2,” ungkapnya.
Temuan Penelitian Dukung Penanganan Myasthenic Crisis
Melalui penelitian berbasis systematic review, Ishika menemukan bahwa kecepatan dalam mengenali kondisi pasien menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan penanganan Myasthenic Crisis.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan kadar karbon dioksida sebelum pemasangan ventilasi mekanik (pre-ventilation PCO₂) merupakan prediktor yang paling konsisten terhadap risiko kematian maupun kebutuhan ventilasi mekanik dalam waktu lama.
Selain itu, penelitian tersebut juga mengidentifikasi beberapa faktor lain yang berpengaruh, seperti komplikasi infeksi, kelemahan bulbar yang menetap, serta adanya penyakit penyerta atau komorbid.
“Temuan ini menunjukkan bahwa penilaian klinis yang cermat sejak pasien pertama kali dirawat dapat membantu dokter menentukan strategi pemantauan dan terapi yang lebih optimal. Harapannya, deteksi dini terhadap faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan keselamatan pasien, mengurangi komplikasi, dan memperbaiki luaran klinis secara keseluruhan,” katanya.
Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan dalam menerapkan praktik kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine) sehingga kualitas pelayanan kepada pasien terus meningkat.
Pengalaman Internasional yang Membuka Wawasan Baru
Mengikuti kompetisi ilmiah internasional untuk pertama kalinya menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Ishika. Ia mengaku sempat merasa gugup karena harus bersaing dengan peserta dari berbagai institusi yang memiliki pengalaman penelitian lebih luas.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan akademik dan penelitian.
Selain mempresentasikan hasil penelitiannya, ia juga mengikuti berbagai sesi ilmiah yang membahas perkembangan terkini di bidang neuroanestesi dan neurocritical care.
“Saya memperoleh banyak wawasan baru mengenai perkembangan ilmu kedokteran. Saya semakin memahami bahwa penelitian memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung praktik kedokteran berbasis bukti atau evidence-based medicine,” tuturnya.
Baginya, pengalaman pertama di panggung internasional menjadi langkah awal untuk terus menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu kedokteran.
Ingin Menginspirasi Mahasiswa Lain
Bagi Ishika, penghargaan yang diraih bukanlah garis akhir, melainkan awal perjalanan sebagai peneliti muda.
Ia berharap dapat terlibat dalam penelitian dengan cakupan yang lebih luas sehingga hasilnya mampu memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu kedokteran sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Lebih dari itu, ia ingin prestasinya menjadi inspirasi bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar agar semakin percaya diri mengikuti kompetisi ilmiah, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Saya memulai semuanya sebagai mahasiswa yang masih banyak belajar. Saya percaya rasa ingin tahu, ketekunan, dan keberanian untuk mencoba merupakan langkah awal menuju prestasi. Semoga semakin banyak mahasiswa Fakultas Kedokteran UNIZAR yang aktif melakukan penelitian, mengikuti kompetisi ilmiah, dan menghadirkan karya yang tidak hanya membanggakan institusi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi dunia kesehatan dan masyarakat,” pungkasnya.
Prestasi yang diraih Ni Putu Ishika Devi semakin memperkuat kiprah Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar dalam mendorong budaya riset dan inovasi. Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa UNIZAR mampu bersaing di tingkat internasional melalui karya ilmiah yang berkualitas, relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan dunia kesehatan.
